
| Rabu, 24 Maret 2004 | Semarang & Sekitarnya |
Kepikunan Bisa DihindariSEMARANG- Menjadi tua dengan tetap sehat dan bahagia merupakan dambaan bagi setiap manusia. Karena itu, bagi mereka yang berusia lanjut harus menjaga kesehatan dengan baik dan benar. Jangan sampai saat memasuki masa tua, penyakit selalu menyerang. Prof R Boedhi Darmojo mengatakan hal itu dalam seminar demensia atau kepikunan di Wisma Katarina, RS Elisabeth, belum lama ini. Dia menambahkan, tujuan hidup sehat itu ialah menjadi tua tapi tetap sehat. Dalam hal ini, yang terpenting adalah promosi kesehatan dan pencegahan penyakit yang harus dimulai sedini mungkin dengan cara gaya hidup sehat. ''Jaga kesehatan kita agar penyakit tidak gampang menyerang, terutama bagi yang berusia lanjut,'' katanya. Tindakan-tindakan pencegahan agar tetap sehat di masa tua antara lain menghindari berat badan berlebihan, mengatur makanan, mempunyai kegiatan teratur, gerak badan yang teratur dan menjauhi ketegangan. ''Kita usahakan pikiran harus santai, jangan sampai ketegangan menyerang''. Menurut dokter yang berusia 71 tahun itu, gerak badan yang paling baik untuk kaum lanjut usia (lansia) adalah dengan berjalan-jalan. Karena semua otot di tubuh akan bergerak sehingga membuat badan menjadi sehat. Dia menyarankan agar para lansia tidak melakukan jogging atau lari-lari karena kondisi fisiknya yang kurang bagus. Kepikunan Pembicara lain dr Martinus Julianto Pranata menjelaskan, dengan kesehatan yang terjaga, penyakit demensia atau kepikunan yang sering menyerang para lansia dapat dihindari. ''Kita lihat saja orang yang sudah berusia lanjut kebanyakan menderita penyakit itu''. Dia mengungkapkan, penuaan fisiologis yang sering terjadi pada lansia adalah sulit mengingat. Selain itu, mereka juga merasa kesulitan mengambil suatu keputusan dan bertindak lambat. Para lansia juga mengalami proses penuaan patologis yang mengganggu memori mereka. ''Perilaku mereka akan terganggu dan aktivitas sehari-hari tidak seperti ketika mereka masih muda. Hal semacam itu wajar saja, karena setiap lansia potensial sekali mengalami hal itu,'' katanya. Seminar yang digelar RS St Elisabeth itu dihadiri para lansia yang tergabung dalam Paguyuban Lansia rumah sakit tersebut. Mereka terlihat antusias mendengarkan ceramah nara sumber. (H4-63) |