Orang Gunung Pintar Buat Jamu Tradisional

KETIKA harga obat-obatan melambung, semua orang tentu akan semakin menyadari betapa mahalnya kesehatan. Tak heran jika saat ini muncul tren baru masyarakat mengonsumsi berbagai makanan kesehatan atau vitamin untuk menjaga vitalitas tubuh.

Jika di perkotaan banyak warga yang mengonsumsi makanan kesehatan dan vitamin atau pergi ke tempat senam dan kebugaran, maka warga di Desa Yosorejo, Kecamatan Petungkriyono memilih mengonsumsi jamu hasil ramuan sendiri.

Di samping jauh dari fitness centre atau apotek, kecamatan paling atas di Kota Santri tersebut memang punya area hutan yang luas. Di sana banyak tumbuh berbagai tanaman obat. Potensi itulah yang dimanfaatkan masyarakat Yosorejo untuk membuat ramuan jamu.

Mereka mengambil berbagai jenis tanaman dari hutan dan menanamnya di vas bunga. Beberapa warga yang telah terorganisasi dalam kelompok tani secara bergilir melakukan perawatan dan uji coba meramu berbagai jenis tanaman obat.

Hasilnya, mereka mampu membuat berbagai jenis jamu yang berkhasiat menyembuhkan berbagai jenis penyakit seperti pegel linu, perut kembung, batuk, keseleo, pembalut luka, dan lain sebagainya. ''Ternyata tanaman-tanaman yang selama ini tumbuh liar di hutan banyak manfaatnya untuk kesehatan keluarga,'' ujar Tikah (35), salah seorang ibu rumah tangga yang mengaku baru sebulan meramu jamu.

Meski baru dimanfaatkan untuk kepentingan keluarganya, dia mengaku serius melakukan penanaman tumbuhan obat. Kegiatan perawatan tanaman obat dan meramu jamu dilakukan secara terorganisasi oleh tujuh kelompok tani yang terdiri atas ibu-ibu, bapak-bapak, dan remaja. ''Secara bergantian kami memupuk dan meramu berbagai resep jamu,'' tegasnya.

Banyak Manfaat

Meski kegiatan meramu jamu dilakukan hanya untuk kegiatan sampingan, warga Yosorejo mengaku banyak mendapatkan manfaat. ''Kami sekarang tidak bingung kalau ada keluarga yang sakit. Sebab, banyak tanaman obat yang punya khasiat menyembuhkan berbagai penyakit,'' tambah Sumanti (35), ibu rumah tangga lain yang tengah asyik menaburkan pupuk kandang di beberapa vas bunga berisi tanaman obat itu.

Untuk bibit tanaman, ibu itu mengaku tidak keluar biaya. Sebab berbagai jenis tanaman obat banyak terdapat di hutan yang mengelilingi kawasan kampung mereka. ''Saya hanya mengeluarkan biaya untuk beli pot (vas-Red) seharga Rp 2.500,'' tandasnya.

Melihat khasiat jamu yang diolah bersama teman-temannya, Sumanti berencana menjual jamunya ke luar daerah. ''Jangan lupa promosikan, ya...! Kalau mau pesan jamu mujarab datang saja ke sini,'' ujarnya ketika ditemui Suara Merdeka.

Berbagai tanaman obat yang sudah dikembangkan warga Yosorejo di antaranya jahe, alang-alang, legetan warak, tikel bukung, mpon-mpon, dan puluhan jenis tanaman obat lainnya.

Anggota Badan Perwakilan Desa (BPD) Yosorejo, Kuswoto, mengaku mendukung kegiatan warganya untuk meramu berbagai jenis jamu. ''Kami sekarang tengah memikirkan cara memasarkan produk jamu yang dibuat ibu-ibu,'' katanya.

Jika sudah ada jaringan pemasaran untuk menjual jamu-jamu tradisional itu, Kuswoto optimistis produksinya bakal tumbuh pesat. Warga Petungkriyono yang dikenal sebagai orang gunung bukan tidak mungkin akan punya ''pabrik jamu'' yang dibuat oleh dan untuk masyarakat setempat.

Seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat untuk hidup sehat, keberadaan jamu tradisional tetap punya pasar di tengah maraknya tren masyarakat mengonsumsi makanan kesehatan atau suplemen. (Muhammad Burhan-17n)