YOGYAKARTA-Kalangan mahasiswa yang akhir-akhir ini ditengarai banyak terlibat kasus narkoba, ternyata juga merupakan sumber potensial penyebaran penyakit tuberkulosis (TBC).
Di Yogyakarta akhir-akhir ini sudah banyak ditemukan mahasiswa pengidap penyakit pada paru-paru itu. Kenyataan tersebut membuktikan, TBC bukan lagi penyakit orang miskin.
Hal itu diungkapkan Kepala Dinas Kesehatan Provinsi DIY dr Bondan Kencono Gunawan, kemarin, dalam rangka peringatan Hari TBC Dunia yang jatuh hari ini (24/3). Ditemukannya penyakit itu di kalangan mahasiswa makin menguatkan pendapat tentang kelatenan bahaya penyakit itu. Selama ini penyakit tersebut dikenal sebagai penyakitnya orang miskin.
Dokter Bondan mengakui, belum ada data faktual mengenai jumlah mahasiswa penderita TBC, tapi katanya data yang diterima dari Dinas Kesehatan kabupaten/kota di jajarannya menunjukkan adanya hal itu. Adanya pengidap TBC di kalangan mahasiswa itu dibenarkan anggota Komite Direct Observ Treatment Shorcourse (DOTS) DIY dr Yusrizal Djam'an SpP. Bahkan, katanya, di RSU PKU saja ditemukan delapan mahasiswa pengidap TBC. Demikian juga di sebuah RS di Sleman. ''Di antara mereka malah ada yang satu keluarga,'' ujar Yusrizal, ahli penyakit paru di RSUP Dr Sardjito Yogyakarta tersebut.
Ditemukannya mahasiswa penderita TBC itu sejalan dengan data komposisi umur penderita kategori bakteri tahan asam (BTA) positif yang mencapai 24% kelompok usia 25-34 tahun.
Usia 15-24 tahun (22%), 35-44 tahun (17%), 45-54 tahun (13%), dan 55 tahun ke atas (24%). Secara nasional jumlah penderita tbc dengan BTA positif adalah 115/100.000 penduduk. Dari rumus itu, di Yogyakarta seharusnya terdapat sekitar 3.600 penderita, tapi baru ditemukan 1.124 orang.
Penyakit ini menjadi sulit diberantas karena setiap penderita bisa menularkan ke 10 orang melalui batuk. Menandai peringatan Hari TBC Sedunia hari ini, Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (Persi) DIY mengadakan sarasehan tentang penyakit itu di RSUP Dr Sardjito.(P58-42c)