Rudiyanto STh Pendeta GKMI

Terinspirasi Bung Karno dan Penyanyi Iwan Fals

KUDUS- Jemaat Gereja Kristen Muria Indonesia (GKMI), Senin lalu mengadakan Kebaktian Penahbisan Pendeta baru Pdt Rudiyanto STh. Acara yang berlangsung di Gereja GKMI Jl Wahid Hasyim 74-78 Kudus itu berjalan khidmat. Dengan penahbisan tersebut GKMI kini memiliki tujuh pendeta.

Ketua Majelis Jemaat GKMI Kudus Lazarus Leimena menyatakan, penahbisan Pendeta Muda Rudiyanto memiliki makna dan bobot tersendiri. Semua itu terjadi bukan secara kebetulan, melainkan karena rencana dan kehendak Tuhan.

"Kehadiran Pendeta Rudiyanto tentu sangat membantu pekerjaan Tuhan di GKMI Kudus yang intensitas kegiatan pelayanannya semakin berkembang dan meluas," jelas Lazarus.

Penyelenggara Bimas Katolik/Kristen Kabupaten Kudus Yohanes Budi Wiyono SH mengemukakan, dengan penahbisan itu maka jumlah pendeta bertambah. Hal tersebut akan menambah pelayanan umat Kristen di Gereja Kristen Muria Indonesia. Menurut Budi, selama ini gereja merupakan mitra kerja pemerintah dan selalu berupaya sebagai pusat pemberdayaan umat.

Sementara itu, dia aktif di jemaat GKMI Kudus. Namun dia sudah praktik sebagai pendeta di gereja itu pada tahun 1997 saat menjadi mahasiswa.

Berkat ketekunan dan tekad terjun dalam pelayanan Tuhan, dia diangkat sebagai tenaga orientasi pada 5 Januari 1999. Sebelumnya dia mengalami pergumulan untuk memilih menjadi dosen atau pendeta. Namun akhirnya dia memilih pendeta sebagai jalan hidup.

Dia menyelesaikan studi di STT Bandung pada 25 Agustus 1999 dengan skripsi berjudul "Anak Muda dan Yesus Sejarah". Di GMKI, Rudiyanto menjalani masa orientasi sejak April 1999 dan dijadikan pendeta muda pada 20 Agustus 2000.

Lagu-lagu Iwan Fals, menurut pengakuan dia, juga membangun kepekaan sosial dan rasa keadilan serta solidaritas kepada sesama manusia. Dia juga diperkaya oleh dialog kritis dengan pidato Bung Karno dan kajian pemikir marxis. Meski sebagai rohaniawan Kristen, dia tak selalu dapat menerima wacana berpikir mereka.

Mencari Jati Diri

Pendeta muda itu dianggap oleh beberapa kalangan cukup kritis dan berpandangan luas. Dalam keseharian dia juga banyak menyikapi persoalan aktual yang berkembang di masyarakat.

Dia berpendapat selama ini masyarakat senantiasa dibombardemen dengan ketidakadilan, diskriminasi, dan kekerasan. Ada kecenderungan moral masyarakat menurun akibat kegencaran hedonisme di berbagai bidang.

Lajang yang selalu tampil rapi itu menyatakan masyarakat sekarang apatis pada perilaku elite politik yang rakus mengincar kursi kekuasaan. "Kalau dulu Bung Karno mengedepankan kemandirian politik, ekonomi, dan kepribadian serta kebudayaan sebagai bagian dari national building Indonesia, sekarang tidak demikian," ujar dia.

Kita, kata dia, sekarang gamang dan bingung memilih jati diri bangsa. Dalam soal makan, berpakaian, gaya hidup, dan sistem nilai, kita sekarang juga banyak mengadopsi dari luar yang belum tentu sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia.

Dia mengkritik pula gaya beragama yang merasa serbasuper. Padahal, mentalitas tak kunjung cerdas. "Banyak yang mengubah jati diri hanya karena uang," katanya.

Dengan menyitir pendapat Bung Karno, dia mengajak semua elemen masyarakat kembali ke jati diri menuju rediscovery of our revolution (penemuan kembali revolusi kita). Hal itu, kata dia, telah dibajak kaum reaksioner, nonprogresif, kontrarevolusi, kompromistis, dan bermental kapitalis.

Kini dia telah menjalani penahbisan dan menjadi sosok yang diharapkan bisa memberi pencerahan bagi komunitas di sekitarnya. (Anton Wahyu Hartono-85g)