SELEPAS azan subuh, seorang lelaki terlihat bergegas memanggil tukang becak di Jl Gajah Mada, Tegal. Dia tampak terburu-buru ingin cepat sampai ke stasiun KA. Sebab, hari Senin KA Kaligung biasanya penuh.
Benar juga, ketika sampai di stasiun di timur alun-alun itu, antrean penumpang yang akan membeli tiket meluber sampai jalan depan stasiun. ''Ya beginilah kalau hari Senin. Penumpang harus siap antre,'' kata Andi, seorang penumpang yang ikut antre di barisan tengah.
Meski harus antre panjang, penumpang KA ekonomi itu kelihatan disiplin berjajar satu-satu seperti ular. Mereka tak ada yang main serobot minta dilayani lebih dulu. Bahkan calo karcis pun tidak ada, karena harga tiket yang murah itu. Untuk Tegal - Semarang penumpang cukup merogoh koceknya, Rp 16.000.
KA ini berangkat pertama dari Tegal pukul 05.00, disusul siang hari pukul 13.30. Dari Semarang pukul 09.00 dan pukul 16.58.
''Satu rangkaian KA Kaligung pergi-pulang dua sif. Pada tiap pemberangkatan dua kali,'' kata seorang petugas Stasiun KA Tegal.
Sejak beroperasi tahun 1999, KA ekonomi yang dapat dikatakan tepat waktu ini memang paling laku. Betapa tidak? Karena dengan harga tiket murah atau sama dengan harga tiket bus bumel, KA ini mampu mengantar penumpang dalam waktu yang cepat. Tegal - Semarang hanya ditempuh dalam tempo dua jam.
Padahal, apabila naik bus umum atau kendaraan pribadi, minimal butuh waktu tiga jam. Karena cepatnya waktu tempuh itulah KA yang ditarik gerbong kereta rel disel (KRD) menjadi alternatif para pegawai negeri sipil (PNS) dan mahasiswa.
Lebih Aman
Seorang pegawai Pemkot Tegal mengaku memilih KA ini ketika akan rapat atau tugas lain di Semarang. Meski mempunyai kendaraan dinas, dia memilih naik kereta, dengan alasan datang lebih cepat. Di atas KA, dia bisa menghilangkan kepenatan sambil jalan-jalan. ''Ya kalau hari Senin, kereta memang penuh sesak. Kalau tak kebagian tempat terpaksa berdiri atau duduk lesehan beralaskan koran,'' tuturnya.
Yang lebih menguntungkan lagi, karena jam berangkat dari Tegal dan Semarang bersamaan waktu kantor, sehingga banyak PNS menggunakan jasa angkutan ini.
Sampai di Semarang pukul 07.00, langsung menyelesaikan berbagai keperluan di Semarang dan kemudian sore hari balik lagi ke Tegal. ''Di Semarang kami bisa naik angkot atau taksi dengan biaya murah,'' ujar Herman, karyawan swasta yang menggeluti elektronika.
Para mahasiswa juga memilih kereta ini, baik yang dari Batang, Pekalongan, Pemalang, Tegal maupun dari Brebes. Seorang mahasiswi dari perguruan tinggi swasta asal Bumiayu, Brebes, mengaku tak pernah naik bus, kendati terpepet waktu kuliah. Alasannya, naik kereta bebas dari tangan jahil. Karena itu meski sendirian dia tak takut. ''Dari Bumiayu saya naik bus, lalu pindah naik KA di Tegal,'' katanya.
Bahkan saking larisnya kereta ini, seorang eksekutif muda pernah bilang, Kaligung kereta ekonomi tapi sekelas Argo Muria yang bertarif Rp 170.000. Yang dimaksud sekelas kereta eksekutif itu adalah lama perjalanan sama yakni, dua jam.
Kali pertama dioperasikan KA ini hanya bertarif Rp 7.500. Penyesuaian tarif terus dilakukan PT KA, menyesuaikan dengan harga bahan bakar minyak (BBM). Toh, masih lebih rendah dari tarif bus Patas (Rp 25.000).
Banyak harapan dari pengguna jasa ini, di antaranya perlu ada renovasi gerbong. Sebab, banyak kaca jendela pecah, pintu hidrolis ada yang tak berfungsi, dan kipas angin lepas. Kebersihan toilet kurang dan mengganggu pemakai jasa.(Wahidin Soedja-17k)