
| Rabu, 24 Maret 2004 | Budaya |
Gerak Indah Seorang BalerinaLEMBAGA pendidikan seni tari itu, Narindra, memang bukan satu-satunya sekolah balet di Semarang. Namun, bisa jadi sekolah yang dikelola oleh Endang Christiani (Tintin) tersebut merupakan sekolah tertua balet di Kota ATLAS yang hingga sekarang masih bertahan. ''Sebenarnya, waktu itu, sekitar 1976, saya hanya ikut kakak. Ketika kakak saya pindah ke Jakarta, akhirnya saya mengelola sekolah ini,'' kata Tintin, panggilan akrab Endang Christiani, di rumahnya --Jl Halmahera Raya 25 Semarang-- yang sekaligus dijadikan studio baletnya. Tintin tentu tak sekadar iseng mengelola Narindra. Perkenalannya dengan balet sudah ia mulai ketika masih usia balita, sekitar 1964. Betapa --ketika itu-- hampir tiap hari ia selalu meminta diantar orang tua, juga kakak-kakaknya, ke Gedung Santo Yusuf di Jl Imam Bonjol untuk melihat orang-orang menari balet. ''Saya ingat, yang mengajar namanya Ny Tan, orang Tionghoa. Dari melihat-lihat itu, akhirnya saya tertarik untuk belajar di gedung itu hingga 1970-an,'' kenang Tintin. Di Semarang, sekolah balet memang tak sepopuler sekolah-sekolah ''ekstrakurikuler'' lain, seperti musik, dance, dan sekolah vokal. Toh meski tak memiliki banyak peminat, sekolah baletnya tetap ia pertahankan. Ia justru menganggap kondisi seperti itu sebagai tantangan. ''Belum banyak yang mengerti, bahwa belajar tari balet itu sebenarnya asyik. Jenis tari tersebut, sebenarnya sangat indah. Bahkan, ketika seorang balerina (penari balet) baru memasang sepatunya saja, gerakannya sudah sangat terjaga sehingga terlihat begitu artistik,'' tutur Tintin. Kini, di studionya, Tintin menangani sekitar 35 murid. Ia membuka kelas mulai balita (3-5 tahun) hingga tingkat pemula (6-8 tahun). ''Untuk kategori remaja, sampai sekarang hanya tiga murid. Itu pun, salah satunya adalah anak saya sendiri,'' ujarnya. Selama ini, kelompok balet Narindra telah beberapa kalki menggelar pentas di berbagai kota, terutama Jakarta dan Surabaya. (Ganug Nugroho Adi-79) |