logo SUARA MERDEKA
Line
  Senin, 22 Maret 2004 Sala  
Line

Amien Bantu Keluarga Satgas PAN yang Tewas

KLATEN- Kedatangan Ketua Umum DPP PAN Prof Dr HM Amien Rais MA mendapat sambutan hangat dari para pendukungnya, di Stadion Trikoyo Klaten, Sabtu (20/3).

Meski rombongan datang terlambat dua jam, massa tetap setia menunggu hingga pukul 15.00.

Ribuan kader yang berpakaian seragam PAN lengkap dengan atribut, sejak pagi mengendarai sepeda motor keliling kota.

Dengan suara motor meraung-raung, mereka melambai-lambaikan tangan kepada orang-orang di jalan.

Para pendukung Ketua MPR RI itu mulai memasuki stadion sekitar pukul 12.00.

Begitu rombongan memasuki stadion, massa menyambut dengan teriakan ''Amien, Amien, Amien''.

Petugas keamanan terpaksa memberikan pengawalan ekstra ketat, agar mantan Ketua PP Muhammadiyah tersebut bisa menuju panggung yang telah disiapkan.

Setelah melambaikan tangan kepada massa yang sudah lama menanti, Amien didampingi istrinya segera menggembleng pendukungnya.

Soal Pesawat

Saat bicara, Amien meluruskan berita tentang hibah pesawat Boeing 737 yang dipakai untuk membawa rombongannya selama berkampanye.

Menurut dia, pesawat itu disewa murah. Sebab pemilik perusahaan adalah pengurus DPP PAN.

Pesawat tersebut sebelumnya memang dipermasalahkan, mengingat bantuan dari pihak ketiga harus dilaporkan dan dibatasi.

Amien juga meminta dukungan dan doa kepada pendukungnya di Klaten, agar diberi kemudahan dalam pencalonan sebagai Presiden RI keenam.

''Sudah saatnya negara ini memiliki pemimpin baru, presiden baru yang bisa mengentaskan bangsa ini dari keterpurukan. Saya mohon doa restu dan dukungan dari semua warga Klaten agar jalan saya dimudahkan,'' kata dia.

Sebelum meninggalkan panggung, Amien dan istrinya menyerahkan bingkisan kepada keluarga almarhum Suwardi, satgas PAN yang tewas dianiaya di Dukuh Dewan, Desa Bendo, Kecamatan Pedan, pekan lalu.

Bantuan diterima ayah Suwardi, Warno Miharjo (75) dan istrinya dengan penuh haru.

Suwardi tewas dianiaya Budi Widodo alias Mehong (37), tetangga sekampung. Diduga kasus itu berlatar belakang politik, sebab sebelumnya Mehong mencopoti bendera PAN.

Mehong diketahui sebagai simpatisan PDI-P.

Namun Kapolres AKBP Drs Arief Dharmawan menegaskan, tak ada motif politik di balik kasus tersebut.

Berdasar penyelidikan yang dilakukan polisi, penganiayaan terhadap Suwardi berlatar belakang dendam pribadi. (F5-49s)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ragam | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA