logo SUARA MERDEKA
Line
  Sabtu, 20 Maret 2004 Tajuk Rencana  
Line

Zapatero, Sikap Kritis Spanyol terhadap AS

- Begitu terpilih sebagai Perdana Menteri Spanyol lewat pemilu, Jose Luis Rodriguez Zapatero berjanji mengakhiri persekutuan erat Madrid dengan AS dalam isu Irak, dan memperbaiki ikatan tradisi yang mantap dengan Prancis dan Jerman, dua negara utama di Eropa yang menentang invasi AS ke Irak. Peta politik Eropa sejak lama terpecah dua, Pro-AS dan anti-AS. Kembalinya Spanyol "ke pangkuan Eropa", akan memperkukuh aliansi anti-AS. Hanya beberapa jam setelah terpilih, Zapatero mengecam invasi dan menyebut pendudukan atas Irak sebagai "bencana". Dia mendesak Presiden AS George W Bush dan PM Inggris Tony Blair mengoreksi diri. Dia juga berjanji secepatnya menarik pulang kontingen militer Spanyol di Irak yang berkekuatan 1.300 personel.

- Ucapannya itu mungkin mencerminkan pengalaman politik Zapatero, atau gambaran keyakinan diri yang amat kuat. Yang mana pun, keduanya menggarisbawahi memanasnya kembali kancah pertentangan lama di Eropa dan seberang Atlantik. Di bawah PM Jose Maria Aznar yang dikalahkan Zapatero, Spanyol -bersama Inggris- menjadi pilar kelompok negara-negara pendukung AS di Eropa Barat. Kelompok itu bukan saja memberikan dukungan diplomatik kepada AS bagi penggunaan kekuatan militer terhadap Irak, tetapi juga mengirimkan kontingen militer pascainvasi. Bersama Spanyol dan Inggris, pendukung kuat AS di Eropa adalah Denmark, Italia, Polandia, dan beberapa negara Eropa Timur (eks Pakta Warsawa) yang akan bergabung dengan Uni Eropa pada 1 Mei mendatang.

- Prancis, di pihak yang berseberangan, memimpin kelompok lain yang menentang invasi. Hingga sekarang pun kelompok tersebut tidak mau mengirimkan tentara ke Irak, sekalipun AS sudah berkali-kali memintanya. Jerman dan Belgia berada di kelompok itu. Sekarang, Spanyol dipastikan bergabung pula. Selama 18 bulan, mulai Agustus 2002 hingga bulan lalu, upaya-upaya Uni Eropa (UE) untuk menetapkan kebijakan luar negeri bersama tetap terhambat. Pasalnya, kedua kelompok tersebut terus bersitegang secara terang-terangan. Perpecahan itulah yang membuat perundingan 25 kepala pemerintahan Eropa Barat dan Eropa Timur guna menetapkan konstitusi bersama, gagal total pada saat negara-negara anggota UE mengadakan pertemuan puncak di Brussel, Desember tahun lalu.

- Zapatero berjanji akan menghidupkan kembali kebijakan luar negeri tradisional Spanyol, yakni kebijakan yang pro-Eropa. Antara lain, dia ingin pasukan Spanyol di Irak ditarik pulang untuk menunjukkan ketidaksenangannya pada "perang tidak adil" yang dipimpin AS. Dan, menyerukan dibentuknya "aliansi baru internasional" yang mendapat wewenang PBB untuk memerangi terorisme, bukan "aksi sepihak" oleh AS dan Inggris. Janjinya disambut hangat oleh Prancis -yang dari dulu bersikap bermusuhan pada AS- tetapi mendapatkan tanggapan dingin dari Pemerintah Inggris. Presiden Komisi Eropa Romano Prodi, pelopor gigih bagi suatu Eropa yang kukuh, menganggap strategi AS telah gagal. Sebab, perang melawan terorisme ala AS itu membuat aksi teror makin marak.

- Kemenangan Partai Sosialis atas Partai Rakyat merupakan "hukuman berat" yang dijatuhkan rakyat Spanyol terhadap pemerintahan PM Jose Maria Azanar, karena mendukung invasi AS ke Irak. Para pemilih yakin, dukungan Aznar terhadap Presiden Bush membuat Spanyol menjadi sasaran utama serangan terorisme. Dan keyakinan itu terbukti, berupa aksi serangan bom terhadap empat KA di berbagai stasiun di Madrid, Kamis pekan lalu, yang menewaskan 200 orang lebih. Yang lebih memojokkan Aznar adalah, rakyat curiga jangan-jangan pemerintah menutup-nutupi kemungkinan keterlibatan Al Qaedah dalam aksi serangan serentak tersebut, karena takut kalah dalam pemilu. Kepemimpinan Aznar juga tampak membuat Spanyol mengalihkan loyalitasnya dari Eropa kepada AS.

- Peristiwa di Spanyol mestinya menjadi pelajaran, atau paling tidak peringatan bagi pemerintahan PM Tony Blair di Inggris. Blair telah kehilangan Aznar, sekutunya di Eropa yang pro-Bush. Sekarang, terisolasi di Eropa -kecuali dari PM Italia Silvio Berlusconi- dia seharusnya mulai memperhitungkan bahwa dukungan pemilih atas dirinya mungkin, seperti juga Aznar, akan sirna. Pembeberan bahwa aksi invasi ke Irak hanya berdasarkan pada data intelijen yang direkayasa, telah membuat posisinya makin terpojok. Sama dengan posisi "sang bos" (Bush) di AS yang terancam oleh Senator John Kerry pada pemilu November mendatang. Jajak pendapat yang dimuat The Guardian menunjukkan, warga muslim yang mendukung Blair anjlok dari 75% pada 2001 menjadi hanya 38%.


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA