
| Sabtu, 20 Maret 2004 | Surat Pembaca |
Servis Siemens Mobile Saya beberapa waktu lalu membetulkan HP di Siemens Mobile Matahari Simpanglima Semarang. Kerusakannya Hp terkunci. Selang empat hari kemudian saya ambil dan karena yakin, tidak mengecek dulu apakah sudah benar atau belum. Sekitar 2 minggu kemudian saya komplain lagi karena HP tidak bisa digunakan. Tapi counter-nya bilang kerusakannya bukan cuma terkunci, melainkan juga mesin error sehingga batere drop terus serta sinyalnya juga tidak ada. Saya bilang kerusakan cuma terkunci dan setelah dicek oleh pihak Siemens Mobile memang betul. Tapi kenapa setelah membayar Rp 55. 000 ada kerusakan lain. Apakah waktu mengecek tidak diketahui kerusakan yang Iain. Tapi dia tetap membela diri dengan kesimpulan kesalahan bukan dari pihaknya. Saya merasa dipermainkan dan kecewa. Saya juga merasa tidak enak, karena HP itu titipan saudara yang tinggal di Brebes. Dia juga sudah membayar seluruh biaya perbaikan tapi ternyata service-nya mengecewakan. Kini HP- nya tidak dapat digunakan. Nota pengambilannya masih saya simpan. Saya harap ada penjelasan dan tanggung jawab dari Siemens Mobile.
Cindyani Dewi S *** Putus Asa Tunggu Hadiah Undian
Tanggal 29 Februari lalu sekitar pukul 13.30 WIB saya mendapat berita dari Surabaya Elektronik telepon 031-8712077 yang menyatakan saya mendapat hadiah yang diundi dari kartu garansi alat-alat elektronik. Hadiah tidak pajak dan biaya lain dapat diambil di kantor PT Orien Jl Diponegoro 58 Pati. Karena ragu mengingat banyak penipuan undian yang sering dimuat di Suara Merdeka, saya menghubungi PT Orien Pati dan mendapat jawaban hadiah dapat diambil sekitar pukul 11.00-18.00 WIB. Dengan percaya diri saya dan isteri sesuai yang disyaratkan datang pukul 15.00 WIB hari itu juga. Pengambilan hadiah yang dalam pikiran saya sudah sesuai prosudur pelaksanaan, ada izin dari pejabat yang berwenang, membayar pajak undian, diundi didepan umum dengan disaksikan oleh Notaris, Polri dan sebagainya. Lebih meyakinkan, di lokasi penyerahan hadiah nampak beberapa mobil dan motor yang parkir di sana dan di dalam kantor juga banyak suami-isteri menunggu. Saya dan isteri dipersilakan duduk sambil menunggu petugas mencocokkan daftar penerimaan hadiah sekitar 60 orang dan yang sudah mengambil sekitar 30 orang. Karyawati mengajak berbincang yang berkesan mengulur waktu penyerahan hadiah. Setiap saya tanyakan hadiahnya selalu menjawab baru dicek, yang terakhir menyatakan komputer rusak. Setelah menunggu lama, akhirnya pengambilan hadiah saya batalkan. Dengan rasa kecewa saya dan isteri pulang, tanpa membawa hadiah yang dijanjikan. Semoga orang lain yang akan mengambil hadiah siap-siap bermental baja, menunggu lama, tidak mudah putus asa seperti saya. Drs Nasekan
*** Kapan RT/RW Dapat Dana Sosialisasi Pemilu?
KPU/Pemeritnah memberikan dana untuk sosialisasi Pemilu kepada partai-partai dan beberapa LSM yang jumlahnya miliaran rupiah. Ironisnya yang melaksanakan sosialisasi lebih banyak dilakukan RT/RW kepada warganya tanpa pandang waktu dan dana. Di samping itu mereka juga dilibatkan secara langsung pembentukan KPPS dan TPS di masing-masing wilayahnya, sedangkan biaya sangat terbatas. Akibatnya kemungkinan mencari dana tambhan akan lebih besar. Belum lagi tanggung jawabnya terhadap pelaksanaan Pemilu termasuk segi kelancaran dan keamanan. Anehnya sampai sekarang belum pernah ada yang memikirkan memberikan konpensasi kepada RT/RW seperti yang diterima oleh partai maupun LSM. Kejadian ini sepanjang di Indonesia ada pemilu sampai sekarang. Kasihan Pak RT/RW. Bagaimana Pak KPU ?
Oentoeng Soetjipto *** Mengenang Kembali Getir Korban Romusha
Perang membawa sengsara, buktinya saat Jepang menduduki Indonesia. Pernah saya dan kakak almarhum, menjalani kerja paksa di Gunung Selok Srandil Cilacap. Di Gunung Selok saya disuruh mengerjakan benteng di puncak, lubang-lubang di lereng gunung dan lubang-lubang di pantai. Ini dikerjakan sampai ratusan orang. Apa perintah tentara Jepang harus dikerjakan, tidak ada yang berani membantah. Jatah makan pun tidak terurus, kadang makan kadang tidak. Sampai orang-orang romusha badannya kurus-kurus. Akhirnya orang yang tidak tahan menderita banyak yang melarikan diri. Begitulah sekelumit kisah sedih yang saya alami dan selama saya masih hidup tak akan terlupakan. Paimin Hardjosuwito
*** Terima Kasih Polsek Cepiring
Suatu malam ketika hujan baru saja reda beberapa waktu lalu, dipertigaan Sri Agung Cepiring Kendal terjadi keributan yang disebabkan dua pemabuk mencegat kendaraan yang lewat dengan maksud meminta uang. Karena panik, saya segera menelepon nomor 382007 (mirip James Bond nih nomornya). Ternyata tanggapan Polsek Cepiring sangat memuaskan, tidak ada lima menit petugas segera datang daan pemabuk dibawa ke Kantor Polisi. Petugas tanpa melakukan kekerasan naik kendaraan tua Suzuki A100 dan dengan ramah menenangkan Ibu-ibu yang ketakutan. Sayang nama dan pangkat Pak Polisi baik hati itu lupa saya catat. Untuk segenap jajaran Polsek Cepiring, sebagai warga saya ucapkan terima kasih. Semua kinerja Anda jadi contoh bagi polisi lain untuk selalu mengutamakan kepentingan masyarakat. Aryo Widiyanto
*** Berapakah Harga Eceran Galon Total?
Saya mahasiswa konsumen air minum dalam kemasan merek Total ukuran galon karena kualitas air di kos saya di Tembalang Semarang tidak baik untuk air minum. Merek ini saya pilih karena harganya lebih murah tetapi yang menjadi pertanyaan, mengapa harga eceran isi ulang berbeda-beda. Di Jl Sirajudin dijual Rp 6.500 itupun hanya saya temui di satu toko kelontong, di Sumurboto dan Ngesrep harganya Rp 7.000 s.d Rp 7.500 sudah termasuk ongkos kirim. Walau saya selalu membeli langsung tetapi harganya juga tetap Rp 7.000 s.d Rp 7.500. Untuk mencari harga yang Rp 6.500 saya harus ke pasar Banyumanik yang agak jauh dari tempat kos. Bagi anak kos selisih Rp 1.000 terasa berharga karena bisa untuk satu kali sarapan. Bagaimana pihak manajemen Total, apakah memang kebijakan harga eceran berbeda tergantung tokonya. Mengapa tidak ada keseragaman seperti merek AMDK lain. Atau engkau harus kehilangan pelangganmu yang setia ini? Novieny Indriasari |