logo SUARA MERDEKA
Line
  Sabtu, 20 Maret 2004 Berita Utama  
Line

Polisi Salah Tembak Kernet Angkota

DI RUMAH SAKIT: Sutopo, kernet angkota yang tertembak peluru nyasar polisi, masih dirawat di RSUD Kota Semarang Jalan Ketileng Raya. (69j) - SM/Heru Subono

SEMARANG- Sutopo alias Peyok (36), kernet angkutan kota (angkota) jurusan Johar-Kedungmundu, kemarin tertembak peluru nyasar yang ditembakkan dari pistol seorang polisi di pertigaan Jalan Sambiroto - Jalan Elang Raya - Kelurahan Sambiroto, Tembalang.

Sutopo, bapak dua anak yang beralamat di RT 5 RW 5, Cabean, Demak itu hingga kemarin masih dirawat di RSUD Kota Semarang Jalan Ketileng Raya. Dokter rumah sakit itu telah mengoperasi untuk mengeluarkan peluru yang bersarang di betis kirinya.

Sementara itu pelaku penembakan, Bripda Sj, anggota Polsek Semarang Tengah kini diperiksa aparat Unit Pelayanan Pengaduan dan Penegakan Disiplin (P3D) Polres Semarang Timur. Rekan satu tim Bripda Sj, yakni Briptu Hr, juga dimintai keterangan.

Kejadian kira-kira pukul 10.00 itu, bermula ketika dua anggota reserse kriminal Polsek Semarang Tengah tersebut ditugasi menangkap seorang tersangka kasus penggelapan bernama Ngadiman, warga Sambiroto. Lelaki itu masuk dalam daftar target operasi (TO) polisi. Setelah mengintai, Bripda Sj dan Briptu Hr melihat Ngadiman sedang berada di sebuah warung makan tepi barat Jalan Sambiroto, sekitar 30 meter dari pertigaan Jalan Sambiroto - Jalan Elang Raya.

Kedua polisi itu mendekat hendak menangkap, tapi tersangka mengetahui kedatangan mereka sehingga kabur ke arah pertigaan. Pada saat bersamaan, angkota yang dikemudikan Edi (42) dengan kernet Sutopo berhenti untuk menurunkan penumpang di depan Toko Intan Permai, tepatnya di depan pertigaan.

Menurut penuturan sejumlah saksi, saat itu keadaan ramai. Selain pejalan kaki, banyak warga termasuk anak-anak yang lalu lalang dan ke luar masuk toko. Bripda Sj dan Briptu Hr pun melepaskan tembakan peringatan ke udara untuk menghentikan langkah Ngadiman, tapi tersangka tetap nekat lari.

Tepat saat dia melintas di samping angkota, Bripda Sj melepaskan tembakan ke arah tersangka. Akan tetapi, tembakannya tidak mengenai sasaran dan justru menembus kaki kiri Sutopo yang saat itu sedang menurunkan penumpang anak-anak dari kendaraannya.

Sutopo pun jatuh dan tergeletak di tanah sambil memegangi kakinya yang terluka. Melihat kejadian itu, kedua polisi ternyata tetap meneruskan upaya pengejaran, hingga kemudian dapat menangkap tersangka tak jauh dari pertigaan.

Para penumpang panik melihat kejadian itu. Mereka segera turun dari angkota. Sementara itu, beberapa tukang ojek dan warga di sekitar lokasi menolong korban naik ke angkota dan membawanya ke rumah sakit.

Senjata Disita

Mereka menyayangkan tindakan polisi yang sembarangan menembak. ''Bayangkan, saat itu banyak orang yang lewat di dekat tempat kejadian. Bahkan, korban sedang membopong anak kecil yang mau turun dari angkota. Untung bukan bocah itu yang terkena,'' ujar seorang warga yang mengaku melihat langsung penembakan tersebut.

Setelah kejadian itu, beberapa perwira seperti Kasat Reskrim Polwiltabes Kompol Wagisan, Kanit P3D AKP Made Astawa, Kapolres Semarang Timur AKBP Juhartana beserta Kasat Reskrim AKP Victorianus Sriyanto, dan Kapolsek Semarang Tengah AKP Agus Wijayanto menjenguk korban di RSUD Ketileng. Mereka menyatakan rasa simpatinya. ''Pelaku penembakan masih kami periksa. Senjatanya kami sita,'' tandas AKP Made Astawa.

Secara terpisah, Kapolres didampingi Kasat Reserse Kriminal AKP Victorianus Sriyanto mengungkapkan, tersangka merupakan buron yang cukup lama. Tersangka diduga sebagai pelaku penggelapan mobil angkutan umum jurusan Johar-Salak H-1365-DA milik Kurniawan Wibowo (28), warga Plamongan Indah Blok C10/29. Peristiwa itu terjadi pada Maret 2003 lalu.

Selain itu, tersangka juga menggelapkan dua mobil angkota milik Handoko (29), warga Jalan Bengkirai Blok A7 Plamongan Indah. Dua mobil yang digelapkan adalah H-1294-DA dan H-1809-CA. Peristiwanya terjadi pada Oktober 2001 dan Desember 2002. ''Mobil-mobil itu dijual Rp 1 juta, sedangkan trayek angkutan kota dijual kepada pihak lain Rp 24 juta,'' paparnya.

Tersangka mengaku terpaksa berbuat demikian untuk menutupi kebutuhan hidup keluarganya. Sebab selama ini untuk bertahan hidup, dia melakukan ''gali lobang tutup lobang''. ''Utang saya menumpuk. Kalau tidak begitu, saya tidak bisa menutup kebutuhan,'' ujarnya.

Simpati

Adapun AKP Agus Wijayanto menyampaikan permintaan maaf dan menyatakan bertanggung jawab atas kejadian itu. Dia juga sanggup menanggung seluruh biaya perawatan Sutopo hingga sembuh.

Mengenai insiden penembakan, dia mengakui anak buahnya kemungkinan kurang cermat sehingga tembakan yang dilepaskan luput dari sasaran dan justru mengenai orang lain. Dia menyerahkan sepenuhnya kasus itu kepada aparat Unit P3D.

Sementara itu, meski mengeluarkan banyak darah, kondisi korban secara umum relatif baik. Ketika ditanya kronologi kejadian, dia dapat berbicara lancar. Sutopo berharap, dirinya cepat sembuh agar bisa kembali bekerja.(G3,G5-69j)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA