logo SUARA MERDEKA
Line
  Sabtu, 20 Maret 2004 Semarang & Sekitarnya  
Line

Upacara Melasti di Pantai Marina

Mengambil Air Suci, Membersihkan Bumi

SEMARANG UTARA - Ratusan umat Hindu se-Kota Semarang pada Jumat (19/3) kemarin mengadakan upacara Melasti. Kegiatan yang bermakna mengambil air di laut itu merupakan rangkaian peringatan Hari Raya Nyepi.

Upacara di Pantai Marina tersebut berlangsung sederhana tapi khidmat.

Sekitar pukul 10.00 para peserta berjalan kaki memasuki gerbang tempat wisata itu sambil membawa berbagai perlengkapan upacara. Mereka berjalan perlahan-lahan dengan diiringi tetabuhan dari alat musik tradisional Bali.

Peserta paling depan membawa pralingga di atas kepala yang merupakan manifestasi istana Tuhan yang dalam agama Hindu disebut Sang Hyang Widi. Orang-orang di belakangnya membawa sesaji sebagai pendamping pralingga.

Berbagai perlengkapan upacara itu kemudian ditata rapi menghadap ke laut. Sebelum sembahyang bersama dilakukan, Pinandhita I Dewa Bagus Ketut Budra SAg selaku pemimpin upacara melakukan berbagai persiapan, antara lain menyucikan peserta upacara.

Sebagian peserta bersama sejumlah wartawan kemudian menuju ke tengah laut dengan naik perahu patroli Satpol Airud Polda Jateng yang sejak pagi sudah dipersiapkan.

Sesaat kemudian perahu kecil itu perlahan-lahan meninggalkan Pantai Marina.

Kondisi Laut Jawa saat itu cukup tenang, sehingga para penumpang bisa menikmati ayunan ombak. Perahu kecil bermesin tempel yang sarat penumpang itu terayun-ayun meninggalkan pantai yang berair kecokelatan.

Sesampai di bagian laut yang berwarna biru, persiapan pengambilan air pun dilakukan. Peserta kemudian berdoa bersama kepada Sang Hyang Baruna atau Tuhan sebagai penguasa laut.

Pengambilan air dilakukan menggunakan jerigen kecil, bekas kemasan air minum, dan stoples. Hanya, karena perahu itu kecil dan diisi banyak orang, pengambilan air hanya bisa dilakukan oleh seorang peserta.

Berebut Air Suci

Setelah sekitar setengah jam terayun-ayun di tengah laut, perahu kecil itu pun berbalik arah kembali ke pantai. Sesampai di Pantai Marina, air suci itu pun disambut para peserta. Banyak di antara mereka berebut mendapatkan air itu untuk mencuci muka. Sesaat kemudian, upacara dilanjutkan. Pinandhita I Dewa Bagus Ketut Budra SAg kemudian memercikkan air suci tersebut kepada semua peserta. Upacara itu diakhiri dengan sembahyang bersama.

Seksi Pendidikan Parisada Hindu Dharma Kota Semarang Drs Anak Agung Ketut Darmaja menjelaskan, makna upacara Melasti adalah mengambil air suci di tengah laut. Dia menyebutkan, umat Hindu meyakini bahwa Tuhan menguasai alam semesta termasuk laut. Karena itu, air suci dalam peringatan Hari Raya Nyepi juga diambil dari laut yang merupakan salah satu sumber kehidupan.

Air suci itu kemudian dibawa ke Pura Agung Giri Natha di Jalan Sumbing No 12 Semarang. Dalam upacara Tawur Agung atau Wisudha Bumi Kesange yang akan diselenggarakan pada Sabtu (20/3), air suci tersebut untuk membersihkan lahir batin manusia, sekaligus membersihkan alam semesta. Diharapkan manusia dan alam semesta terhindar dari marabahaya.

Melasti merupakan rangkaian peringatan Hari Raya Nyepi yang pada tahun ini merupakan peralihan dari 1925 ke 1926 Tahun Saka. Kegiatan itu dilaksanakan di berbagai daerah termasuk Pulau Bali. Sesuai dengan tradisi, upacara itu diselenggarakan dua hari atau sehari menjelang Nyepi.

Dia mengakui, kegiatan tersebut baru pada tahun ini diselenggarakan di Kota Semarang. Namun, dia berharap, pada tahun-tahun mendatang kegiatan semacam itu bisa tetap terselenggara, sekaligus sebagai pengembangan pariwisata Kota Semarang.

''Peringatan Nyepi tingkat Jawa Tengah akan dipusatkan di Candi Prambanan,'' ujar dia. (G6-73e)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA