
| Sabtu, 20 Maret 2004 | Semarang & Sekitarnya |
Kawasan Pecinan Perlu IdentitasBALAI KOTA- Kawasan Pecinan Semarang harus mempunyai jati diri atau ciri khas yang menunjukkan identitasnya sebagai trade mark. Identitas itu dapat berwujud bangunan rumah, makanan, gapura, cendera mata, dan identitas lain. ''Jadi, harus ada ciri khusus yang menandakan itu sebagai kawasan Pecinan Semarang yang berbeda dari kota lain,'' kata David Choa, pengamat budaya Pecinan dalam diskusi rutin Revitalisasi Kawasan Pecinan, Semarang, Kamis (28/3) di Ruang Rapat Bappeda Kota Semarang. Diskusi itu merupakan rangkaian kegiatan rutin Tim Revitalisasi Kawasan Pecinan yang diadakan setiap Kamis. David menjelaskan, kaum Tionghoa di Indonesia sekarang merupakan kaum peranakan. Artinya, hasil dari perkawinan pria Tionghoa asli yang merantau di Nusantara dengan wanita pribumi Indonesia. ''Karena itu harus berprinsip, saya orang Indonesia,'' tuturnya. Prinsip-prinsip seperti itu kemudian bisa direalisasikan pada bentuk-bentuk identitas khusus. ''Kalau di kawasan Pecinan Semarang, ya harus berciri khusus, entah itu makanan, arsitektur bangunan rumah, kelenteng, maupun yang lain. Itu sebagai buah asimilasi tersebut, sehingga nanti yang lahir budaya peranakan,'' ujarnya. Pengamat budaya Pecinan lain, Jongkie Tio mengatakan, yang perlu dibangun sekarang ini adalah membangkitkan penghuni di Pecinan untuk berpartisipasi dalam revitalisasi kawasan tersebut. Dia melihat sekarang di Pecinan belum ada partisipasi kaum muda. ''Mereka mau atau tidak menjadikan daerahnya menjadi kawasan Pecinan,'' ungkap dia.(G17,H1-73c) |