
| Sabtu, 20 Maret 2004 | Karangan Khas |
Kampanye Tolak TuberkulosisOleh: Saifuddin AIi Anwar DI tengah-tengah maraknya kampanye sebagai rentetan kegiatan pesta demokrasi di Indonesia melalui Pemilu 2004, semua pihak berharap pemilu terwujud dengan situasi aman, tenteram, terkendali, langsung, umum, bebas, dan rahasia. Setiap orang selalu dalam kondisi sehat sehingga kelak dapat berbondong-bondong datang ke bilik pemilu untuk mencoblos, guna menyalurkan aspirasi dan hak politik. Namun seiring itu pula masih terjadi letupan-letupan di sana- sini. Yakni munculnya penyakit-penyakit endemis, seperti diare, malaria, AIDS, dan demam berdarah yang pada tahun ini menduduki peringkat paling tinggi. Karena itu kita hendaknya tetap waspada, jangan sampai terlena terhadap penyakit laten lain yang selalu siap menyerang, seperti tuberculosis atau TBC atau TB. Serangan tuberculosis sudah diperkirakan WHO semenjak tahun 1999, bahwa setiap tahun akan terjadi 583.000 kasus TB baru dengan kematian sekitar 140.000. Maka secara kasar diperkirakan setiap 100.000 penduduk Indonesia terdapat 130 penderita TB paru BTA positif, dengan target sasaran penyerangan pada sebagian kelompok usia produktif kelompok ekonomi lemah dan kelompok pendidikan rendah. WHO mencatat Indonesia termasuk pemasok penderita TB ketiga terbesar (sebagai hot spot) di dunia sesudah India dan China. Dari pengamatan di lapangan (Dr Rosmini Day MPH, Direktorat P2 Paru Depkes RI 2003), posisi Indonesia memprihatinkan. Di mana kasus dan jumlah kematian akibat TBC makin meningkat, resistensi (multidrug resistant) terhadap obat TB makin meninggi, TB menjadi endemik yang sulit diobati, serta kekurangan data yang tepat dan benar. Momentum Beberapa hari lagi, Rabu pada 24 Maret 2004 kita bersama-sama memperingati hari TB sedunia. Seperti pada tahun sebelumnya, WHO selalu mematok seruan dan ajakan. Adapun peringatan tahun ini mengambil tema Every breath counts, stop TB now , kurang lebih diterjemahkan dalam bahasa Indonesia mengandung arti "Setiap tarikan nafas adalah sangat berharga. Karena itu stop TB sekarang juga". Memang, sampai sekarang penduduk dunia harus terus-menerus berjuang mengganyang tuberculosis karena keganasannya masih sulit dikendalikan, bahkan boleh dikatakan tak kunjung padam. WHO mencanangkan kegawatdaruratan global terhadap penyakit tuberculosis. Mengacu UU No 23 tahun 1992 menyebutkan bahwa kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan jiwa dan sosial yang memungkinkan setiap orang dapat hidup produktif. Dengan demikian apabila seseorang menderita tuberculosis, akan terganggu fisik, psikis, ataupun sosial bahkan akan kehilangan peluang untuk berproduksi dan berkarya dalam pembangunan Karena itu dalam kesempatan peringatan hari TB sedunia ini, Indonesia perlu lebih mempertajam langkah untuk menyosialisasikan/mempromosikan/mengkampanyekan pentingnya penaggulangan TB paru oleh, dari, dan untuk idividu keluarga serta masyarakat. Strategi Kampanye Hakikat kampanye pemilu pada saat ini bertujuan untuk menarik simpati dan keberpihakan para pemilih. Yakni dengan memperkenalkan program posisi serta langkah-langkah penting yang akan diambil dalam mengantisipasi masalah nasional dari kacamata partai. Maka kampanye kesehatan sekurang-kurangnya mempunyai tiga nilai sangat strategis. Pertama, kesehatan merupakan hak asasi manusia. Kedua, kesehatan merupakan investasi (human investment). Ketiga, kesehatan merupakan anugerah dan kenikmatan yang luar biasa diberikan Tuhan kepada makhluknya. Tidak ada tawaran selain agar semua potensi di mana saja dan secara terus-menerus menggalang kesetaraan dalam kemitraan untuk berkampanye menolak/mencegah tuberculosis. Pada Konferensi Nasional Promosi Kesehatan III di Yogyakarta 1-S tahun 2003, mengambil tema "Bersama menuju Indonesia Sehat". Kiranya masih segar dalam ingatan kita untuk menindaklanjuti apa yang sudah direkomendasikan dalam konferensi tersebut. Antara lain pentingnya menggalang kebersamaan, keterpaduan, dan kemitraan dalam kesetaraan untuk membangun Indonesia sehat dengan menyiapkan pengetahuan, kesadaran kemauan, dan kesadaran penduduk Indonesia untuk hidup sehat. Dalam kaitannya dengan masalah tuberculosis adalah bagaimana mengkampanyekan kebersamaan saat serangan penyakit tersebut. Menurut WHO, bahwa kampanye/promosi kesehatan adalah proses membuat orang mampu meningkatkan kontrol dan memperbaiki kesehatan mereka. Dengan demikian dapat diartikan sebagai upaya memperbaiki, memajukan, mendorong, dan menempatkan kesehatan lebih tinggi pada kebutuhan perorangan ataupun masyarakat pada umumnya. Selanjutnya aspek kampanye kesehatan bertujuan untuk melakukan pemberdayaan, sehingga orang mempunyai kepekaan yang lebih besar terhadap aspek-aspek kehidupan mereka yang memengaruhi kesehatan. Dengan demikian, menurut penulis, ada beberapa langkah strategis yang sesuai dengan operasinalisasi dari promosi kesehatan. Yakni, pertama untuk lebih meningkatkan advokasi kepada para pengambil keputusan di setiap jenjang dan wilayah. Juga untuk mendapatkan dukungan politis dan kebijakan dengan program pemberantasan tuberculosis. Kedua adalah empowerment, yaitu dengan mengadakan pendekatan kepada semua intansi/lembaga secara lintas sektor dan lintas progam untuk mendapatkan bantuan. Dengan demikian akan mendapatkan kontribusi yang sesuai dengan situasi dan kondisi institusi/instansi, dalam upaya promosi dan pencegahan serta penanggulangan tuberculosis. Ketiga adalah social support, yaitu pemberdayaan lembaga-lembaga swadaya masyarakat. Dengan target sasaran kampanye kesehatan adalah masyarakat, institusi pendidikan, masyarakat institusi kesehatan, masyarakat di tempat-tempat umum, masyarakat pada kelompok-kelompok organisasi kemasyarakatan, dan ujung promosi yang paling mendasar adalah pada individu dalam keluarga. Dengan demikian, mereka tahu, sadar, mau, dan mampu mengenal, mencegah, serta mengatasi masalah tuberculosis. Adapun materi kampanye adalah strategi DOTS (directly observed treatment shortcourse), yaitu kampanye yang memberikan pengetahuan kesadaran, kemauan, dan kemampuan untuk memberikan dosis obat yang paling efektif kepada penderita tuberculosis, yang didiagnosa dengan pemeriksaan microscopis. Memastikan mereka meminum obat TB sampai selesai dan memantau kemajuan pengobatan sampai betul-betul sembuh. Kampanye strategi DOTS ini sangat penting dan mendasar. Mengingat bila dikaitkan dengan produktivitas SDM, penyakit TB sangat merugikan. Sebab, penyakit itu menyerang penderita usia produktif yang merupakan SDM potensial, yang dibutuhkan bangsa Indonesia dalam pembangunan nasional dewasa ini. (18s)
-Drg H Saifuddin Ali Anwar SKM, Koordinator widyaiswara Bapelkes Salaman Magelang ,Pengurus Perkumpulan Pemberantasan Penyakit TB Indonesia/PPTI Jawa Tengah Kontribusi Tbc Indonesia di Dunia India 30% China 15% Indonesia 10% Bangladesh 4% Pakistan 4% Filipina 3% Nigeria 3% Afrika Selatan 2% Rusia 1% Lain-lain 28% |