
| Sabtu, 20 Maret 2004 | Budaya |
Mengasah Apresiasi lewat Kine KlubKESENJANGAN apresiasi film di masyarakat selama ini, turut menyebabkan banyak film bermutu tidak laku di pasaran. Akibatnya, lama kelamaan film Indonesia ambruk. Karena itu, perlu dibuat satu wadah tempat masyarakat dapat berdiskusi mengenai film-film bermutu yang diproduksi oleh anak negeri sendiri. Dari diskusi- diskusi itulah, diharapkan kesenjangan apresiasi tersebut dapat dijembatani, dan masyarakat pun akan makin apresiatif terhadap film Indonesia. Berbincang-bincang dengan Suara Merdeka di kampus Universitas Nasional (Unnas), di bilangan Pasar Minggu, Jakarta, kemarin, sutradara, produser, dan aktor, Deddy Mizwar mengemukan hal tersebut sebagai ujud kepeduliannya terhadap kesinambungan perfilman nasional. Lalu, dengan serrius dia juga menyebut pentingnya kine klub di kampus-kampus perguruan tinggi. ''Kine klub bisa menjadi ajang para mahasiswa untuk berdiskusi mengenai film-film bermutu. Sehingga dengan demikian, wawasan mahasiswa tentang film menjadi bertambah. Diharapkan, apresiasi masyarakat terhadap film makin terasah. Tentu saja, itu dimulai dari mahasiswa, dari kalangan terdidik terlebih dahulu,'' terang Deddy, yang memutar film Kiamat Sudah Dekat, produksinya, di kampus Unnas, berkaitan dengan road show film tersebut di 15 perguruan tinggi di Jawa. Disebutkannya, baik di Eropa maupun Amerika, apresiasi masyarakat terhadap film mulai tumbuh dari kine klub. Dari wadah kajian dan diskusi itulah, apresiasi masyarakat terhadap film menjadi makin terasah. Dampak berikutnya adalah makin berkembangnya industri film di negara-negara tersebut, yang kemudian menyebar hingga ke seluruh dunia. Selain sebagai ajang diskusi, kine klub juga dapat menjadi tempat untuk menonton film-film bagus, termasuk film-film independen. ''Itu bukan sebuah usaha yang dapat dipetik dalam waktu singkat; mungkin 10-20 tahun lagi apresiasi yang diharapkan itu baru muncul. Tapi kalau tidak dimulai dari sekarang, kapan lagi,'' tutur Deddy, yang mengaku amat senang karena mahasiswa Unnas memiliki apresiasi yang luar biasa terhadap film yang dibintangi Ayu Pratiwi dan Andre 'Stinky' itu. Jatidiri Deddy mengatakan, sebagai orang film ia turut bertanggung jawab atas ambruknya perfilman Indonesia. Selama 10-15 tahun terakhir, film Indonesia memang vakum. Baru beberapa tahun belakangan, tampak mulai bangkit lagi. Dimulai dengan Petualangan Sherina dan Ada Apa dengan Cinta?, film Indonesia kembali dilirik penonton (masyarakat)-nya. ''Anak muda yang sekarang membuat film, waktu film Indonesia ambruk, mungkin mereka baru berumur lima tahun. Sekarang ini, mereka mencari jatidiri, identitas diri mereka lewat film. Eksistensi mereka ada, tetapi tidak dapat melihat, karena tidak ada film yang bercerita tentang kehidupan mereka. Akhirnya, mereka membuat film untuk pencarian jatidiri itu tadi,'' tuturnya. Mengenai film terbarunya, Deddy menyebutkan pada Juli mendatang akan memasuki syuting awal. Film berjudul Orang Kaya itu, rencananya akan diluncurkan pada saat Idul Fitri tahun ini. ''Ini kisah fiktif. Ceritanya bisa benar-benar terjadi, kalau hukum sudah ditegakkan di negara kita. Kita tidak pernah tahu akan ada kejadian apa saja, karena selama ini hukum memang tidak pernah ditegakkan. Karena itu, imajinasi kita bisa seliar mungkin mengenai kemungkinan yang terjadi bila hukum ini ditegakkan,'' paparnya. Kisahnya, masih seputar dunia remaja. Yaitu seorang mahasiswa yang mempunyai ayah seorang konglomerat, namun sang hartawan itu kemudian bangkrut. Film itu menjadi menarik, karena dibalut dengan sentuhan komedi agar penonton lebih mudah mencernanya.(Tresnawati-41) |