logo SUARA MERDEKA
Line
  Jumat, 19 Maret 2004 Tajuk Rencana  
Line

''Hall of Shame'' Perwasitan Sepak Bola Indonesia

- Sekalipun prestasi tim sepak bola Indonesia belum bisa membuat kita berjalan dengan kepala tegak, kenangan-kenangan indah dan sosok-sosok teladan dalam mengolah bola tidaklah sulit kita temukan. Andai ada semacam hall of fame untuk mengenang mereka, rasanya juga bukan hal yang berlebihan. Fenomena berbeda bakal didapat bila kita membicarakan kualitas perwasitan sepak bola negeri ini. Bisa jadi istilah hall of fame akan dipelesetkan menjadi hall of shame, karena memang sangat mudah mendapati tragedi-tragedi memalukan seputar perwasitan dalam belantika sepak bola nasional. Apalagi bila semua pihak yang terlibat dalam suatu pertandingan - dari pengurus sampai pengawas pertandingan - mau berterus terang.

- Kekecewaan kepada wasit sesungguhnya juga masalah usang. PSSI sampai pernah mendatangkan wasit-wasit asing untuk memimpin partai-partai penentuan Kompetisi Liga Indonesia II. Sejarah yang dibuat kepengurusan PSSI pada era Azwar Anas itu dipuncaki dengan penunjukan wasit asal Jepang, Katayama, untuk memimpin partai final antara Mastrans Bandung Raya dan PSM Makassar. Penunjukan wasit asing akhirnya memang hanya terjadi pada KLI II. Mendatangkan pengadil asing tetaplah bukan terapi kejut bagi dunia perwasitan kita. Terbukti, kualitas kepemimpinan mereka di lapangan masih memprihatinkan. Keputusan-keputusan kontroversial begitu banyak terjadi, yang terus berlanjut sampai sekarang, baik dalam kompetisi yunior maupun senior.

- Istilah mafia wasit juga pernah berdengung. Isu itu membuat pengurus PSSI harus bekerja ekstrakeras mengusut. Tindakan kepada orang-orang yang terlibat pun diambil. Namun tetap saja kekecewaan demi kekecewaan kepada para pengadil pertandingan terus bermunculan. "Gerakan moral" pun mulai mengemuka. Pada KLI IX lalu, Persikota tidak melakukan kekerasan di lapangan dalam memprotes kepemimpinan wasit. Pada pertandingan melawan PSIS di Stadion Jatidiri, anak-anak Kota Tangerang itu hanya memain-mainkan bola di antara mereka pada 10 menit terakhir. Kini, Persib dan Persebaya mengumumkan bakal menyediakan penghargaan wasit terbaik yang akan dinilai oleh tim independen, selama mereka menjamu lawan-lawannya di kandang.

- Keterpurukan citra wasit sebenarnya bukan semata-mata kesalahan para pemimpin pertandingan itu. Lingkungan tempat mereka bertugas barangkali sudah sedemikian tidak kondusif lagi bagi penegakan fair play. Agaknya telah muncul budaya tersendiri, yang membuat kepemimpinan wasit di lapangan ibarat produk yang tergantung pada penawaran dan permintaan. Wasit ada di sisi penawaran, sedangkan orang-orang yang ingin memengaruhi hasil pertandingan berdiri di sisi permintaan. Bila salah satu "kurva" itu bergerak, kurva yang lain dipastikan terpengaruh, yang tercermin dari "harga" dan "produk" yang tersaji. Entahlah, sisi mana yang memulai. Namun saat ini amat terasa ada salah satu sisi yang dominan, yang memengaruhi sisi lain.

- Selain lingkungan kasatmata awam itu, ada lingkungan lain yang harus dihadapi yang juga punya karakter tersendiri. Yakni, stadion tempat suatu pertandingan berlangsung. Di Indonesia, lapangan hijau telah menjadi arena budaya kekerasan. Wasit-wasit tegas semacam Pierluigi Collina, Anders Frisk, dan Jack Taylor lahir di lingkungan insan sepak bola "beradab". Di negeri mereka, antarpemain bersitegang itu wajar. Namun kepada wasit, kata-kata agaknya sudah cukup. Tidak perlu mendorong, memukul, atau menendang. Para pemain di liga-liga Eropa rupanya sadar benar, berhadapan dengan wasit ibarat berada dalam persidangan sehingga paling banter argumentasi saja yang perlu mereka lakukan. Mereka sadar mana yang contempt of court dan mana yang bukan.

- Langkah PSSI menghukum 16 wasit yang bertugas saat Kompetisi Liga Indonesia X agaknya belum cukup. Penegakan aturan memang hal rutin yang harus dilakukan. Namun rasanya saat ini PSSI belum mempunyai cetak biru untuk membawa wasit Indonesia ke pentas dunia. Cetak biru itu harus memuat dengan tegas, kapan PSSI berharap bisa memasukkan wasit kita sebagai salah satu pengadil untuk putaran final Piala Dunia. Setelah cetak biru dibuat, pemasyarakatan harus segera dilakukan, dengan saran paling mendesak adalah membuat semua unsur dan sebuah tim sepak bola punya sikap hormat kepada wasit, apa pun keputusan yang diberikan. Dalam lingkungan ketika ofisial dan pemain menghormati wasit, penonton pun diharapkan demikian.


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA