logo SUARA MERDEKA
Line
  Jumat, 19 Maret 2004 Berita Utama  
Line

Orang Samin di Sukolilo, Pati (3-Habis)

Melawan dengan "Sipat Nggendheng"

SAMINISME KETOPRAK: "Ideologi" Samin juga hadir dalam pentas ketoprak di Pati. Grup Cahyo Mudho menampilkan siasat nggendheng lewat salah satu tokoh dalam sebuah adegan.(55i) - SM/Sucipto Hadi Purnomo

DI samping berinteraksi secara langsung dengan komunitas wong sikep, sebagaimana yang ada di Dukuh Bombong, Desa Baturejo, Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati, paling tidak ada dua cara lagi untuk memahami orang Samin. Pertama, membaca "kitab suci" mereka dan kedua, menonton ketoprak.

Mengapa ketoprak? Harap tahu saja, ketoprak merupakan seni pertunjukan yang paling populer di daerah Pati dan sekitarnya. Ketoprak, sebagai seni drama, tak hanya acap menampilkan cerita tentang ketokohan Samin, tetapi juga sering menyajikan lakon lain yang menjinjing nilai-nilai saminisme.

Memang cerita Samin di panggung ketoprak boleh dibilang amat jarang terpentaskan. Namun cerita lain yang memiliki kesejajaran dengan sepak terjang Samin atau adegan-adegan yang menjadi ajang transformasi ajaran Samin, tak terlalu sukar ditemukan. Apalagi di luar bulan Sura, lebih-lebih pada bulan-bulan "baik" untuk menyelenggarakan hajatan, hampir setiap hari bisa disaksikan pementasan ketoprak di kawasan itu hingga sekarang. Sekurang-kurangnya mendengarkan pemutaran kasetnya yang dipancarkan lewat pengeras suara atau radio lokal.

Contohnya lakon Saridin atau Syeh Jangkung, terutama bagian Andum Waris. Lewat pita kaset rekaman Dahlia Record, sekitar 20 tahun lalu, boleh dibilang lakon yang disajikan Ketoprak Sri Kencono Pati ini paling digemari.

Tak jarang pula dipentaskan di panggung tanggapan. Malahan pada akhir tahun 80-an, hampir tiada hari tanpa pemutaran lakon yang terdiri atas beberapa seri, mulai dari Andum Waris, Pager Mangan Tanduran, Ontran-ontran Cirebon, Ontran-ontran Mataram, Sultan Agung Tani, sampai Keris Syeh Jangkung (Ondho Rante) ini. Tak mengherankan jika lakon ini menjadi bagian dari ingatakan kolektif masyarakat Pati dan sekitarnya. Memang selama sepuluh tahun terakhir ini, frekuensi pemutaran ataupun pementasannya kian berkurang.

Pesona Saridin

Selain sebagai cerita yang dekat secara psikografik dengan warga masyarakat ini, apa yang menarik dari lakon itu? Dikisahkan, Saridin adalah seorang yang hidup serbakurang secara ekonomi. Ia harus menghidupi istrinya dan anaknya.

Saridin tak punya tempat mengadu, kecuali kepada saudara satu-satunya, Nyi Branjung. Namun suami Nyi Branjung teramat kikir.

Saridin ingat, almarhum kedua orang tuanya mewariskan beberapa pohon durian. Kebetulan pohon itu sedang berbuah. Karena itu, kepada sang kakak dan iparnya, dia menyatakan minta bagian. Ki Branjung tak menolak, namun dengan ketentuan, jika jatuh pada siang hari, durian menjadi miliknya. Sebaliknya jika jatuh pada malam hari, buah itu menjadi hak Saridin.

Terang saja, durian lebih sering jatuh pada malam hari. Namun Ki Branjung tak kurang akal. Dengan dibalut pakaian layaknya macan, dia menakut-nakuti Saridin.

Saridin tak tinggal diam. Sebuah bambu runcing ia hujamkan ke tubuh "harimau" itu hingga "binatang" itu tewas.

Tentu saja orang-orang dan aparat desa segera meringkus laki-laki itu dengan satu tuduhan: Saridin membunuh kakak iparnya. Itu pula tuduhan yang diberikan oleh pengadilan Kadipaten Pati yang dipimpin Adipati Jayakusuma. Namun Saridin menampiknya. "Menapa kula sampun edan kok mateni kakang kula piyambak. Ingkang kula pejahi menika macan (Apakah saya sudah gila kok sampai hati membunuh kakak saya. Yang saya bunuh ini harimau)," katanya.

Saridin juga menolak ketika akan dipenjara. "Kula boten lepat kok diukum (Saya tidak salah kok dihukum)," katanya.

Sang Adipati tak kurang akal. Dia berkata, Saridin tidak dihukum, tapi diberi ganjaran. Saridin disuruh tinggal di sebuah rumah gedhong, dijaga oleh beberapa prajurit, dan bila waktunya makan sudah ada yang mengantarkan makanan. Begitu pula jika hendak mandi.

"Menawi kula kangen anak-bojo, menapa pareng mantuk? (Jika saya kangen ana-istri, apakah boleh pulang?)" tanya Saridin.

"Kena, waton bisa (Boleh, asalkan bisa)," titah sang Adipati.

Kata-kata Adipati rupanya menjadi pegangan Saridin. Dia menjenguk anak-istrinya tanpa diketahui penjaga penjara.

Tentu saja hal itu membuat penguasa Kadipaten Pati murka. Dia memutuskan hukuman gantung buat Saridin. "Menapa kula kepareng tumut narik talinipun, Kanjeng Adipati? (Apakah saya boleh membantu menarik talinya, Kanjeng Adipati?)" tanya Saridin.

Lagi-lagi sang Adipati berujar, "Kena, waton bisa (Boleh, asalkan bisa)."

Lagi-lagi pula Saridin membuat pangeram-eram. Dia membantu para prajurit menarik tali gantungan yang mengikat lehernya. Sang Adipati kian murka dan memerintahkan melemparkan segala senjata ke tubuh Saridin. Lelaki asal Desa Miyono itu pun lari, hingga sampai di Paguron Panti Kudus.

Di situ dia berguru pada Sunan Kudus, hingga suatu hari dia mengusung air untuk mengisi padasan (gentong wudu) dengan keranjang. Kepada Sunan Kudus dia juga mengatakan, setiap yang ada airnya pasti ada ikannya. Mula-mula genangan di dekat padasan, kemudian kendi berisi air, dan buah kelapa. Saridin mampu membuktikan, di semua tempat itu ada ikannya.

Apa yang dilakukan oleh Saridin -terutama keluguan yang cenderung naif- serta argumen yang ia bangun, sangat mudah untuk dihubungkan dengan berbagai aforisme orang Samin. Lebih-lebih pada lakon yang dibawakan oleh Ketoprak Sri Kencana itu, secara eksplisit sang Adipati berkomentar terhadap diri Saridin, "Pancen wong Samin (Memang orang Samin)."

Tak hanya itu, dalam berbagai ungkapannya, Saridin juga berujar, "Aja drengki srei, tukar padu, dahpen kemeren. Aja kutil jumput, bedhog-colong (Jangan dengki, jangan suka bertengkar, jangan iri. Jangan suka mengambil milik orang lain tanpa seizin pemiliknya)."

Ungkapan-ungkapan itu merupakan bagian dari tradisi lisan yang amat populer di kalangan orang Samin. Dan, personifikasi Saridin sebagai orang Samin pun kian lengkap ketika ia memilih sikap nggendheng begitu menghadapi hegemoni kekuasaan.

Menurut cerita tutur, dulu di Peguron Adam -tempat Samin mengajari pengikutnya- di samping diajarkan perilaku hidup di dunia dan akhirat, juga diajarkan cara melawan pemerintah Kolonial Belanda. Ajaran itu adalah sipat nggendheng, yakni pura-pura gila, pura-pura edan, pura-pura bersifat aneh. Siasat ingat untuk lupa, lupa untuk ingat!

Harap tahu pula, petilasan Saridin -yang pada masa tuanya bernama Syeh Jangkung- di Desa Landoh, Kayen, Pati hanya berjarak sekitar 10 kilometer dari Dukuh Bombong. Hingga sekarang, tempat itu tak pernah sepi dari peziarah, terutama pada hari Kamis Legi.

"Di makam ini, dengan menebing ati, kita bisa ngleluri kembali wirayate Mbah Jangkung dengan laku nistha, ora melik drajad, pangkat, lan kadonyan," kata Soetjipto (60) asal Rembang yang mengaku sudah 60 hari berada di tempat itu. Lagi-lagi ungkapan itu paralel dengan konsepsi nrima bagi wong Samin.

Kitab Suci

Jika kesenian menjadi ajang untuk mentransformasikan, membiakkan sekaligus membakakan ajaran Samin, kitab-kitab di kalangan mereka agaknya bisa menjadi "rujukan primer".

Sebagaimana paham lain yang dianggap oleh pendukungnya sebagai agama, orang Samin juga memiliki "kitab suci". "Kitab suci"' itu adalah Serat Jamus Kalimasada yang terdiri atas beberapa buku, antara lain Serat Punjer Kawitan, Serat Pikukuh Kasajaten, Serat Uri-uri Pambudi, Serat Jati Sawit, Serat Lampahing Urip, dan merupakan nama-nama kitab yang amat populer dan dimuliakan oleh wong Samin.

Dengan memedomani kitab itulah, wong Samin hendak membangun sebuah negara batin yang jauh dari sikap drengki srei, tukar padu, dahpen kemeren. Sebaliknya, mereka hendak mewujudkan perintah "Lakonana sabar trokal. Sabare dieling-eling. Trokali dilakoni."

Memang, pada umumnya aforisme orang Samin lebih banyak disampaikan secara lisan, termasuk lewat cerita tutur. Namun jika dirunut lebih jauh, berbagai kitab suci yang ditulis oleh Samin Surontika itu tetap saja menjadi sumber utama. (Sucipto Hadi Purnomo-33)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA