
| Jumat, 19 Maret 2004 | Semarang & Sekitarnya |
Nelayan Terancam Tak Bisa Melaut
SEMARANG UTARA -Salah satu pihak yang terkena dampak dari kelangkaan minyak tanah adalah kaum nelayan. Pasalnya, hampir semua nelayan di wilayah Semarang khususnya di Tambaklorok, menggunakan minyak tanah sebagai bahan bakar utama bagi mesin perahu. Bila tidak segera diantisipasi, kelangkaan minyak tanah dikhawatirkan akan mengancam kehidupan para nelayan itu. Dalam beberapa minggu ini mereka tidak bisa melaut secara normal. Kadang satu sampai dua hari. Hal itu gara-gara pedagang minyak langganannya kehabisan stok. ''Sampun kalih minggu niki kula kadhang setunggal atawi kalih dinten mboten saget menyang laut (Sudah dua minggu ini, saya kadang sehari atau dua hari tak bisa melaut-Red),'' kata Busron (45), warga RT 6 RW 13 Kampung Tambaklorok, Kelurahan Tanjungmas, Kamis (18/3) siang. Busron menjelaskan, minyak tanah kini merupakan kebutuhan pokok para nelayan. Penggunaannya sebagai bahan bakar mesin perahu selama ini adalah pilihan terburuk. Hal itu karena bila menggunakan solar, uangnya tidak menjangkau. ''Bagaimana lagi memang keadaannya begitu. Kalau menggunakan solar, hasilnya tidak sebanding. Bisa-bisa nelayan tombok, karena biaya operasional bisa melebihi nilai ikan hasil tangkapan,'' tuturnya. Memburu Minyak Bila banyak bakul yang kehabisan minyak tanah, lanjut dia, para nelayan memburu sampai ke Karangkimpul. Bahkan ada yang ke Jalan Barito. Itu dilakukan agar bisa melaut dan mendapatkan hasil untuk menghidupi keluarga. Maftuh (40), juga mengatakan hal senada. Menurutnya, beberapa minggu ini harga ikan selalu merosot tajam, sedangkan bahan bakar langka dan mengalami kenaikan harga.
Nilai ikan hasil tangkapannya hanya Rp 50.000, sedangkan saat itu dia membutuhkan minyak tanah 30 liter. ''Bisa dihitung, saya dapat berapa setelah dikurangi biaya membeli minyak tanah, bila harga minyak tanah Rp 1.150/liter sampai Rp 1.200/liter,'' ungkap Maftuh. Nelayan lain, Suwardi (43) warga RT 4 RW 15 juga mengatakan hal yang sama. Meski dia masih mendapat minyak tanah sebagai bahan bakar, tidak sesuai dengan harapan. Bila hendak membeli 30 liter, bakul hanya memberi 20 liter. ''Saat-saat langka seperti ini harga minyak Rp 1.150/liter sampai Rp 1.300/liter dari tangan bakul.'' Karena itu, dia meminta semua pihak agar memperhatikan kaum nelayan. Sekarang penggunaan bahan bakar untuk mesin perahu minyak tanah murni. Tidak lagi menggunakan minyak tanah campur oli, karena akan menambah biaya untuk beli oli. Pemilik pangkalan minyak tanah di Tambaklorok, Suharto (45), mengakui adanya keterbatasan jatah minyak tanah di pangkalannya. Dalam seminggu, tiap Kamis, dia hanya mendapat jatah satu drum berkapasitas sekitar 200 liter. Padahal, sebelumnya dia mendapat jatah minyak tanah tanpa pembatasan. ''Saya sudah berkali-kali menghubungi agen. Namun, jawabannya selalu supaya menunggu. Padahal permintaan nelayan dan bakul saya selalu meningkat. Begitu minyak datang, hanya selisih maksimal lima jam sudah habis,'' papar Suharto yang memiliki 14 pengecer itu. Dia mengungkapkan, ketika tangki minyak tanah datang selalu terjadi antrean pembeli cukup panjang. Mereka terdiri atas para bakul dan nelayan, yang menenteng jerigen dan ember berbagai ukuran. Bahkan, ada yang antre sejak dua hari sebelumnya. Setiap minggunya dia hanya dijatah 5.000 liter/ minggu. Nada yang sama diungkapkan Ny Sunarti (38), pemilik pangkalan minyak tanah di sekitar pasar TPI. Hanya bedanya, dia bisa mendapat jatah setiap harinya sampai empat drum (sekitar 800 liter-Red). Hal itu tidak lepas dari upaya suaminya, Mahmud. Meski begitu, persediaan minyak tanahnya tetap tidak mampu memenuhi kebutuhan puluhan bakul. (G5-45k) |