logo SUARA MERDEKA
Line
  Jumat, 19 Maret 2004 Jawa Tengah - Pantura  
Line

Bosnya Ditahan, RPL Tetap Dibangun

  • Soal Bangunan SMK I Slawi yang Roboh

SLAWI- Kasus penahanan Ir Buchori Muslim MT, Direktur CV Sido Muncul, oleh jajaran Satreskrim Polres Tegal tidak membuat DPRD dan DPU Kabupaten Tegal puas terhadap langkah yang ditempuh aparat kepolisian.

Berdasarkan klarifikasi atas robohnya proyek pembangunan Ruang Penunjang Lain (RPL) di SMK I Slawi itu, dua lembaga legislatif dan eksekutif tetap menuntut agar kontraktor segera membangun kembali proyek yang terbengkelai. Akibat tidak sesuai dengan bestek, bangunan roboh pada Senin (23/3) lalu.

Proyek yang dibiayai APBD Kabupaten Tahun Anggaran 2003 itu sebesar Rp 96,04 juta dan rencananya untuk mini market. Namun, rencana tersebut terhambat akibat proyek dibangun tidak sesuai dengan bestek dan akhirnya roboh.

HM Rifa'i SIP, koordinator Komisi E dan D DPRD, menilai pelaksana proyek ceroboh karena membangun tidak sesuai dengan rencana. Padahal, bangunan yang digarap secara bertahap itu bakal menjadi kebanggaan sekolah sebagai persyaratan mencapai peringkat nasional.

"Bangunannya tidak sesuai dengan rencana, risiko kontraktornya harus membongkar dan membangun kembali sebagaimana besteknya. Karena bangunannya roboh, ya tidak usah membongkar, tapi singkirkan puing-puingnya agar dapat dibangun kembali," tutur Rifai, kemarin.

Pendapat senada dikemukakan Maskuri BA, Ketua Komisi E. Menurut dia, kasus tersebut agar dapat menjadi pelajaran bagi siapa pun, dan kontraktornya yang mengerjakan berbagai proyek pembangunan di daerahnya harus ditindak tegas. Pihaknya juga setuju dengan pemeriksaan atas berbagai proyek yang sudah dikerjakan.

"Bila diketahui ada penyimpangan, maka pemborong atau kontraktornya diminta membongkar atau membangun kembali sesuai dengan bestek," tutur anggota Fraksi Karya Amanat itu.

Mendukung

Secara terpisah, Ketua Dewan Pendidikan Dimyati SE mendukung langkah kepolisian yang menindaklanjuti penyimpangan yang dilakukan pemborong. Apalagi, proyek yang dikerjakan adalah bangunan untuk menunjang keberhasilan pendidikan. Jika tidak dikerjakan secara serius, akan membahayakan anak didik yang menjadi aset bangsa.

"Bayangkan kalau proyek yang tidak sesuai itu roboh dan menimpa para peserta didik. Tentu kerugian kian besar, karena generasi penerus terhalang kemajuannya. Jadi agar tidak main-main terhadap uang rakyat, saya mendukung langkah kepolisian untuk menindak tegas pemborong yang nakal. Apalagi, ada pelanggaran pidananya," ungkap Dimyati SE bersemangat.

Sementara itu, Ir Buchori Muslim MT yang kini ibarat sudah jatuh tertimpa tangga, menyatakan siap membangun kembali proyek tidak sesuai dengan rencana dan akhirnya roboh itu. Bahkan sekarang, sejumlah pekerja sedang melaksanakan pembangunan kembali proyek tersebut.

"Saya siap membangun kembali sesuai dengan rencana. Sekarang juga sedang dikerjakan pembangunannya. Ini sudah risiko saya," tutur Buchori yang dimintai konfirmasi di ruang tunggu tahanan Mapolresta Tegal.

Menurut dia, bangunan RPL yang roboh itu sebenarnya disebabkan beberapa faktor. Yang paling menentukan adalah faktor alam. Setelah bangunan tersebut selesai dan diuji coba sebulan hingga batas waktu pemeliharaan, banyak diterpa angin, hujan lebat, dan panas menyengat. Akibatnya tak kuat menahannya dan kebetulan bentuk bangunannya juga memang tidak utuh karena merupakan bangunan tambahan.(D12-17j)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA