
| Rabu, 17 Maret 2004 | Surat Pembaca |
Lukisan Masih Laku
Pengaruh krisis ekonomi telah menurunkan gairah para pelukis. Kurun waktu sepuluh tahunan ini telah menciptakan keraguan, sikap apatis, pesimistis dan kurang percaya diri pada para pelukis. Perasaan ini tak luput melanda kiai kharismatik humoris KH Mustofa Bisri yang juga pelukis. Dalam sebuah pameran, beliau katakan yang nonton lukisanya bukan bos. Barangkali anak kos. Saya sebagai pelukis sudah lama banting stir jualan sembako, setelah sekian lama tidak ada kolektor lukisanku lagi. Sejumlah lukisanku di rumah akhirnya menjadi terapi. Yang melihat hanya memuji tapi tak ada uang. Ketika saya berjanji pada diri sendiri untuk tidak menjual lukisan, tahu-tahu ada mahasiswa psikologi ingin membeli lukisanku. Berkali-kali kutolak, dia kok gigih mengejar ingin membeli lukisanku. Akhirnya lukisan itu kulepas j uga. Tentu saja dengan penuh tanda tanya dan pikiran berkecamuk. Kok lukisan masih laku juga. Dia telah menggugah masa silam dan melambungkan khayalan untuk jadi pelukis dengan nilai sekian juta rupiah, amboiii... Pesanku untuk para pelukis muda, jangan berpikir melukis untuk dijadikan uang, tapi melukislah menuruti hati nurani dan jiwa. Seandainya laku jadi uang, lepaskan, ikhlaskan. Nanti bisa melukis lagi. Dan lukisanmu akan menjadi obat yang mujarab ketika dirimu sedang galau. Yetty Nur
*** Bupati Karanganyar
Sepanjang sejarah Kabupaten Karanganyar, baru pada era reformasi ini jabatan bupati dipegang seorang wanita. Semoga kinerja, kiprahnya tidak kalah dengan bupati pria pada masa-masa lalu. Para pejabat/pimpinan era reformasi memang berbeda. Pada masa lalu pimpinan entah itu bupati, gubernur dan para menteri diambil dari kariernya. Sekarang tidak, Asal ada suara banyak dia bisa menduduki jabatan. Harapan sebagai rakyat awam, bupatiku yang baru segera bisa menguasai metode jabatannya. Saya yang berdomisili di Colomadu, wilayah yang pernah akan mbalela masuk Kota Sala mengusulkan agar Jl Adi Sumarmo yang terbentang dari batas Kota Sala bagian utara ( Banyuanyar ) sampai Desa Ngasem luasnya disesuaikan dengan yang masuk wilayah kota. Sebab merupakan jalan tembus dari Sroyo - Mojosongo. Alasannya, jalan itu menjadi jalur alternatif kendaraan berat dari Jatim ke Jabar atau Jateng bagian barat. Imbasnya ada embarkasi Haji Donohudan dan perpindahan terminal bus Kartosuro ke Gunungpare. Fungsi jalan sebagal sarana anak sekolah ke kota dan para buruh dari desa ke kota, tapi kesemrawutan terjadi pada pagi hari dan sore hari. Soal anggaran asal ada respon dari bupati beserta DPRD-nya, saya yakin pasti terlaksana. Karanganyar adalah Kabupaten intanpari. Demikian usul saya, semoga ada tanggpan hingga terealisasi. S.Warsono
*** Perlakuan terhadap Bendera Pusaka
Sang Dwi Warna. Semua warga negara Indonesia dari anak-anak sampai dewasa pasti tahu dan setiap keluarga memiliki minimal sebuah bendera ini. Tetapi tidak diyakini semua mengerti bahwa ada tata cara memperlakukan bendara sebagai sesuatu yang melambangkan kehormatan bangsa. Banyak kita jumpai perlakuan buruk terhadap bendera, khususnya saat dikibarkan. Contoh yang sering terlihat yaitu dibiarkannya bendera terpasang berhari-hari bahkan sampai berbulan-bulan tanpa pernah diturunkan. Akibatnya ujudnya sangat memprihatinkan, dekil dan compang camping. Ironisnya kebanyakan perlakuan demikian justru terlihat di tiang bendera kantor instansi pemerintah yang personelnya pasti orang berlatarbelakang pendidikan cukup, seleksi yang ketat, sehingga berwawasan kebangsaan baik. Mestinya instansi pemerintah, sipil, militer maupun polri menjadi contoh dan cermin bagi masyarakat bagaimana memperlakukan bendera yang benar. Bukan sebaliknya menyia-nyiakan bendera, lambang kehormatan bangsa. Bangsa manapun akan marah bila benderanya dihina, diinjak-injak, disobek apalagi dibakar. Tetapi yang menyedihkan, ada di antara kita yang tidak dapat menghargai bendera sendiri, bahkan banyak pemuda yang bangga menggunakan pakaian atau atribut yang menunjukkan lambang negara tertentu. Kiranya hal yang menyedihkan dan memerlukan kepedulian bersama sebagai bangsa yang mencintai tanah tumpah darah Indonesia. Seperti apa pun kondisi negara saat ini, kita wajib menjaga kehormatan bangsa. Siapa lagi kalau bukan kita sendiri. Dan Sang Dwi Warna, Merah Putih harus tetap berkibar dengan gagah, jernih dan berwibawa, bukan yang dekil dan compang-camping tak berdaya. Semoga tulisan ini dibaca oleh pihak atau instansi yang keliru memperlakukan bendera, kemudian sadar dan segera mengganti dengan bendera yang baru. Menaikkan pada pukul 06.00 dan menurunkan 18.00 tiap hari sesuai ketentuan.
Heru Kartono SPd
*** Bandara A Yani
Saya sangat kecewa dengan rencana perpanjangan landasan pacu Bandara A Yani Semarang dari 1.850 m menjadi 2.250 meter. Menteri Perhubungan dan Telekomunikasi Agum Gumerlar beberapa waktu lalu memastikan, di Jateng hanya ada satu bandara international yakni Adi Sumarmo Solo. Saya sedih bila ibu kota Provinsi Jateng tidak mempunyai bandara internasional, padahal di Semarang banyak pengusaha pabrik, industri dari PMA (lihat data di BKPM-D /Perindag ). Saya sarankan tetap di buka bandara internasional dengan minta dukungan DPRD, Pak Wali dan Pak Gub. Dunia usaha harus banyak bicara seperti ketua Kadin Bpk Soendoro (jangan mlempem). Ayolah berikan sekarang pola pikir maju , lihat negara lain berkembang dan strategi PAD Otonomi Daerah apa kita pasrah. Legowo ?. Juga saat saya turun dari pesawat, banyak pengusaha spontan mengatakan: "Eman-eman bila Semarang tidak punya bandara internasional''. Pengusaha pasti mati. Semoga unek-unek ini berguna, kalau tidak mulai dari saya siapa lagi yang peduli. Semoga bandara Semarang tetap lebih maju dan jaya serta dikenal mancanegara khususnya dunia usaha dan dunia wisata.
Setyo Nugroho
*** Untuk Bupati Kendal
Saya ucapkan selamat kepada Bapak Bupati Kendal H Hendy Boedoro SH MSi yang memimpin ke arah lebih baik dengan berbagai program pembangunan di semua bidang. Salah satu contoh konkret diadakan penerimaan guru bantu/kontrak/PNS bagi GTT. Namun yang menjadi persoalan saya, adakah penerimaan tenaga administrasi bantu/kontrak atau bahkan CPNS. Setahu saya PTT juga ikut menentukan dalam peningkatan dan kemajuan pendidikan di sekolah selain guru (termasuk komponen tenaga pendidikan). Karena selain guru, pegawai tidak tetap juga ingin sejahtera. Sekali lagi sukses untuk Bapak Bupati dan semoga tetap memperhatikan aspirasi kami ini.
Muh Yusuf |