
| Rabu, 17 Maret 2004 | Liputan Pemilu 2004 |
PDI-P, Golkar dan NU Matangkan KoalisiKULONPROGO- Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) sedang mematangkan koalisi dengan Partai Golongan Karya dan Nahdlatul Ulama (NU) untuk memuluskan Ketua Umum DPP PDI-P Megawati Soekarnoputri sebagai presiden. "Karena ini satu platform tentang pluralisme dan negara kesatuan, jadi tidak ada pilihan lain, kecuali koalisi dengan Golkar dan NU," ungkap Taufik Kiemas seusai kampanye di alun-alun Wates, Kabupaten Kulonprogo, Selasa (16/3). Pada hari keenam kampanye di Yogyakarta tampil PDI-P, Partai Damai Sejahtera, dan Partai Patriot Pancasila. PDI-P menampilkan suami Megawati Soekarnoputri, Sutardjo Soeryoguritno, dan Pramono Anung. Adapun di Kota Yogyakarta, kampanye PDI-P digelar di lapangan Minggiran, dan kampanye di Sleman dilaksanakan di lapangan Kalasan. Sementara itu, Partai Patriot Pancasila menggelar kampanye di Pengasih, Kulonprogo. Partai Damai Sejahtera memilih kampanye dialogis di Mrican, Yogyakarta. Dari tiga partai yang kampanye, paling meriah dan mendapat sambutan masyarakat hanya PDI-P, khususnya yang digelar di Wates, Kulonprogo. Kampanye dihadiri ribuan orang. Meski hujan, para kader dan simpatisan partai berlambang kepala banteng moncong putih itu tetap antusias mendengarkan orasi Taufik Kiemas dan Sutardjo Soeryoguritno. Taufik Kiemas mengatakan, koalisi PDI-P, Golkar, dan NU harus dimatangkan. "PDI-P sedang memikirkan koalisi ini, tidak memikirkan yang lain. Apalagi visi kami sama, yakni mempersatukan bangsa," tutur suami Presiden Megawati Soekarnoputri. Tentang manuver Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Gus Du, Taufik Kiemas secara diplomatis menekankan, "Kami tidak bicara orang, tetapi bicara dengan NU dan Golkar." Begitu pula tentang tersebarnya gambar Mega-Akbar, dia menjelaskan, koalisi yang akan dimatangkan adalah antara kekuatan nasionalis dan agamais. Bukan pada orang, melainkan berdasarkan platform yang sama, yaitu menjaga pluralisme dan tetap tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia. "Kami tidak bicara masalah Megawati dan Akbar Tandjung, tetapi adalah PDI-P, Golkar, dan NU. Itu yang akan kami matangkan." (sgt-83j) |