logo SUARA MERDEKA
Line
  Rabu, 17 Maret 2004 Olahraga  
Line

Nicolas Anelka Minta Maaf

PARIS - Striker yang terbuang, Nicolas Anelka mengajukan permintaan maaf secara terbuka kepada pelatih tim nasional (timnas) Prancis Jacques Santini tiga bulan menjelang putaran final Euro 2004 di Portugal.

Penyerang Manchester City itu tak dilirik Santini sejak menampik panggilan masuk timnas menghadapi pertandingan persahabatan melawanYugoslavia pada November 2002. Anelka merasa terganggu karena tak terpilih sebagai pemain timnas.

Dia terakhir memperkuat Prancis untuk kali ke-28 ketika melawan Rusia, April 2002. Bekas pemain Arsenal dan Real Madrid itu meminta maaf atas perilakunya selama ini.

"Siapa yang tahu saya, meski kita berbeda, saya selalu menaruh hormat besar kepada timnas Prancis," kata pesepakbola berusia 24 tahun itu di situs pribadinya, kemarin.

"Itu sebabnya mengapa saya merasa penting meminta maaf secara terbuka kepada tuan Jacques Santini dan timnas Prancis. Permintaan maaf ini menghapus semua masalah yang pernah ada dan saya akan berkonsentrasi penuh pada sepak bola tanpa melihat ke masa lalu," paparnya.

Karena striker AJ Auxerre Djibril Cisse tampaknya akan absen pada putaran final Euro 2004 setelah terkena hukuman larangan tampil sebanyak lima kali dari Uni Sepak Bola Eropa (UEFA), Santini membutuhkan dua pemain depan untuk melapis David Trezeguet dan Thierry Henry.

Santini pernah memanggil pemain depan Manchester United Louis Saha dan striker Olympique Lyon Peguy Luyindula ketika Prancis mengalahkan Belgia 2-0 di Brussels, bulan lalu. Pada partai itu Saha mencetak gol pada debut internasionalnya.

Penyerang Olympique Marseille Steve Marlet dan Sidney Govou (Olympique Lyon) adalah dua calon lain untuk ditempatkan di timnas yang akan diberangkatkan ke Portugal.

Masih Layak

Bagaimanapun, Anelka masih pantas membela timnas. Jika dalam kondisi puncak, dia merupakan striker tajam yang haus gol.

Eks bintang Paris St Germain (PSG) ini sebenarnya seorang penyerang dengan kelas yang tak usah diragukan lagi. Dia begitu disegani kawan maupun lawan ketika masih berkostum Arsenal. Peran pelatih Arsene Wenger di Arsenal tampak sangat kental.

Sayang, di saat ngetop dia banyak berulah. Dia lalu hengkang ke Real Madrid, balik ke Prancis dan kariernya terus merosot. Anelka menemukan permainan terbaiknya lagi bersama Liverpool. Namun The Reds tak memperpanjang masa pinjamannya, sehingga dia pindah ke Manchester City.

Di City, dia cukup bagus. Akan tetapi dia kadang-kadang membangkang. Itu yang membuat pelatih Kevin Keegan hampir mendepaknya.

Akhir-akhir ini Anelka harus memperlihatkan penampilan terbaik. Sebab, Keegan punya penyerang lain yang sekelas dengan dia seperti Robbie Fowler dan Paulo Wanchope. "Saya akan buktikan saya masih mampu," tutur Anelka.

Banyak Pilihan

Apakah Santini akan memanggil Anelka lagi? Untuk pertandingan uji coba memang mungkin, namun memasukkan namanya dalam tim inti ke Portugal jelas belum pasti. Pengganti Roger Lemerre ini punya banyak pilihan untuk mengisi barisan penggempur.

Dengan duet Trezeguet-Henry sebagai tombak kembar "tak tersentuh", bekas pelatih Olympique Lyon ini tinggal mencari dua striker pelapis. Untuk menjadi penyerang pelapis saja, Anelka harus bersaing dengan Govou, Marlet, dan Saha.

Govou mulai memperlihatkan kembali ketajamannya selepas terbebas dari cedera panjang. Marlet juga makin konsisten sejak dipinjamkan Fulham ke Marseille. Sementara Saha langsung masuk daftar Santini sejak dibeli The Red Devils. "Saya hanya akan memilih yang terbaik. Mereka boleh bersaing dan yang terbaik yang akan saya ambil," kata Santini lagi.

Prancis bukan hanya punya pemain bagus di lini depan, di tengah dan belakang pun mereka banyak stok. Nama paten Zinedine Zidane, Patrick Vieira, Robert Pires dan Claude Makelele adalah pilihan pertama. Di luar mereka masih ada Eric Carriere (Lyon), Ludovic Giuly (Monaco), Jerome Rothen (Monaco), dan Benoit Pedretti (Sochaux).

Di barisan pertahanan, kuartet starter biasanya diisi Lilian Thuram (Juventus), William Gallas (Chelsea), Mikael Silvestre (MU) dan Bixente Lizarazu (Bayern Munich). Selain mereka, Santini masih punya Jean-Alain Boumsong (Auxerre), Philippe Mexes (Auxerre), Willy Sagnol (Bayern Munich), Marcel Desailly (Chelsea) dan Sebastien Squillaci (Monaco).

Di bawah mistar, Fabien Barthez (Marseille) tetap jadi pilihan utama. Setelah itu menyusul Gregory Coupet (Lyon) dan Lionel Letizi (PSG). (rtr,A7-59)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA