logo SUARA MERDEKA
Line
  Rabu, 17 Maret 2004 Berita Utama  
Line

Wings of Word, Wings of Color (2-Habis)

Menunggu "Gado-gado" yang Lain

SAJAK SITOK: Penyair Sitok Srengenge saat membacakan sajak-sajaknya yang diambil dari buku kumpulan puisi Anak Jadah dan Nonsen.(j)

DI luar Rendra dan Arahmaiani, tampil juga penyair asal Purwodadi, Sitok Srengenge. Dalam durasi lebih kurang 15 menit, dia membacakan beberapa sajaknya yang diambil dari buku kumpulan puisinya, Anak Jadah dan Nonsen. Sitok yang selalu melisankan sajak-sajaknya tampil memesona. Dia tidak sekadar membaca, tapi seolah sedang menceritakan sesuatu lewat sajak-sajak itu.

Seusai pembacaan sajak-sajak, malam itu pengunjung digiring ke ruang bawah (garasi). Di sana, Putu Wijaya tengah siap mementaskan teater dengan lakon Zero. Sebuah lakon yang beberapa waktu lalu dia pentaskan di Taiwan, juga di Teater Utan Kayu (TUK) Jakarta.

Seperti karya-karya teater sebelumnya, Zero tak mementingkan penokohan dan karakter dari para aktornya. Sebaliknya, Putu bersama Teater Mandiri yang dia pimpin lebih menonjolkan bentuk dan fungsi dengan memasukkan unsur seni rupa yang kental dari setiap tetar yang dia garap.

Lewat lakon ini, Putu mengajak siapa pun untuk kembali ke titik nol, sebelum melakukan perubahan demi perubahan. Lupakan masa lalu, lupakan semuanya, dan kita memulai dari nol. Itulah inti dari Zero. Begitulah.

Pada akhirnya, ada yang perlu dicatat dari "Wings of Word, Wings of Color" yang digelar di Galeri Langgeng, Magelang ini. Ya, khususnya tentang kolaborasi itu. Kolaborasi dalam bentuk respons, tafsir, atau apa pun namanya dari para perupa atas teks sastra yang mereka baca.

Betapa ternyata sebuah karya yang sudah jadi sekalipun, seperti cerpen dan puisi, bisa tetap kuat sebagai ide atau inspirasi bagi seseorang kreator lain (perupa) untuk menciptakan sebuah karya yang sama sekali baru.

Perupa Arahmaiani misalnya. Sebelum gagasan "Sayap Kata, Sayap Warna" dilemparkan, mengaku kreativitasnya dalam melukis vakum beberapa tahun. Sebelum event ini, dia membuat beberapa kegiatan sebagai jalan untuk mendapatkan ide bagi calon-calon karyanya. Toh, ternyata tetap mandul. Hingga akhirnya, lewat "Wings of Word, Wings of Color", dia seperti memperoleh energi dengan mengirim dua lukisannya sebagai respons atas cerpen "Cermin Pasir" (Triyanto Triwikromo) dan sajak "Para Penziarah Sejarah" (Dorothea Rosa Herliani).

Maka, satu pokok yang barangkali perlu ditegaskan, membaca (apa pun, termasuk teks sastra) bisa membantu perupa -setidaknya bagi Arahmaiani- memperoleh ide atau inspirasi bagi calon karyanya. Dan Deddy Irianto, Triyanto Triwikromo, serta Arahmaiani sebagai penggagas event memang sengaja menghadirkan teks sastra sebagai jalan keluar bagi "ruang kosong ide" para perupa.

Bisa jadi, kelak -jika acara seperti ini kembali digelar- kolaborasi tak hanya teks sastra dengan seni rupa. Bersama dengan musik dan teater seperti yang juga digelar pada malam itu misalnya, apa salahnya?

Bahkan, bisa juga "jalan cerita" dibalik. Misalnya ganti para sastrawan yang diminta untuk merespons karya seni rupa: patung, lukisan, instalasi, dan lain-lain, atau karya musik dan teater.

Sebab, jika salah satu yang ingin dicapai "Wings of Word, Wings of Color" adalah menawarkan sesuatu yang lain, bukankah "kolaborasi gado-gado" tadi juga merupakan "sesuatu yang lain"? Jadi, ada baiknya kita tunggu terobosan dari Galeri Langgeng.(Ganug Nugroho Adi-58j)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA