
| Rabu, 17 Maret 2004 | Semarang & Sekitarnya |
Bagi Anak, Kampanye Berarti Bebas BermainDUNIA anak dipenuhi keinginan untuk bebas bermain dan rasa ingin tahu. Anak-anak yang ikut kampanye, menurut Dra Diana Rusmawati, tidak dapat disalahkan. Kemeriahan pesta demokrasi dalam benak mereka diartikan sebagai kesempatan untuk bebas bermain. ''Anak usia 10-11 tahun mulai melihat situasi di luar rumah. Kemeriahan di luar rumah menarik perhatian mereka,'' tutur staf pengajar Program Studi Psikologi Undip ini. Sejak usia dua tahun, anak sudah mulai mencari identitas diri. Pada usia tersebut, mereka biasanya meniru orang-orang terdekatnya seperti ayah atau ibu. Memasuki usia 9-10 tahun, anak mulai mencari figur yang sesuai dengan potensi dirinya. Bagi mereka yang dapat membaca potensi dirinya, kata Diana, identitas itu dapat segera ditemukan. Anak yang memiliki keterampilan menari, bermain musik, dan lainnya mendapatkan pengakuan dari keterampilan itu. ''Anak yang tidak memiliki keterampilan juga membutuhkan pengakuan. Mereka lantas menyalurkan kebutuhan itu di jalanan. Secara psikologis, mereka ingin mendapatkan perhatian dari orang lain,'' jelasnya.
Kampanye, bagi sebagian anak adalah peluang untuk memperoleh perhatian dan pengakuan. Namun kemeriahan sesaat itu juga dapat membawa dampak buruk bagi mereka. Kampanye yang menyuguhkan kekerasan dan pelanggaran aturan akan ditiru oleh anak hingga dewasa. ''Konvoi kendaraan di jalan raya seperti yang dilakukan banyak parpol saat ini, dapat menyebabkan anak menjadi agresif. Jika massa yang melanggar aturan tidak ditegur petugas, maka anak akan merekam pengalaman itu,'' ujarnya. Dibenarkan Efeknya, mereka akan menganggap bahwa perilaku melanggar aturan lalu lintas itu dapat dibenarkan. Kampanye sebenarnya dapat membawa dampak positif bagi anak. Syaratnya, kampanye itu dikemas dengan baik, jauh dari kesan kekerasan, gesekan antarkelompok, dan pelanggaran aturan. Orang tua yang sejak awal mendidik anaknya dekat dengan dunia politik dapat memanfaatkan situasi ini untuk berdialog dengan anak. Situasi kebersamaan selama kampanye, sepanjang dilaksanakan dengan tertib, dapat menumbuhkan jiwa solidaritas anak. ''Anak belum mampu mencerna isi ceramah atau orasi politik. Namun mereka dapat merekam situasi yang ada. Situasi inilah yang harus dikondisikan dengan baik,'' tegasnya.(Ninik D-63) |