logo SUARA MERDEKA
Line
  Rabu, 17 Maret 2004 Semarang & Sekitarnya  
Line

Minyak Tanah Semakin Langka

  • Warga Krobokan Berburu Keliling Kampung

SEMARANG - Setelah Kabupaten Grobogan dan Kendal mengalami kelangkaan minyak tanah, hal serupa terjadi di Kota Semarang. Kelangkaan minyak tanah itu terjadi sejak beberapa minggu lalu. Banyak warga yang terkecoh ketika hendak membeli minyak tanah di sejumlah pengecer, karena stok habis.

Warga Kelurahan Krobokan, Semarang Barat, harus keliling kampung mencari warung yang masih memiliki stok minyak tanah. Tak jarang di antara mereka bertemu di satu tempat dari arah yang berlawanan.

''Warga yang dari barat berduyun-duyun menenteng jerigen menuju ke arah timur. Sebaliknya warga dari arah timur berduyun-duyun mencari minyak tanah ke arah barat. Ketika sampai di sebuah warung yang dituju, mereka kecewa karena sama-sama tidak mendapatkan minyak tanah,'' tutur Mulyono (39), warga Jl Roro Jonggrang II RT 1 RW 10 Kelurahan Krobokan, kemarin.

Menurut Mulyono, kelangkaan minyak itu sudah berlangsung sejak beberapa minggu, dan semakin parah ketika memasuki masa kampanye pemilu. Namun, masyarakat tidak mengetahui secara persis penyebabnya. ''Meski begitu, harga minyak tanah relatif masih stabil berkisar Rp 1.100/liter sampai 1.200/liter,'' katanya.

Berdasarkan informasi yang diperolehnya dari seorang pengusaha, kelangkaan itu akibat banyak pengusaha memanfaatkan kelengahan pemerintah yang masih berkonsentrasi pada masalah pemilu. Banyak pengusaha yang memanfaatkan kesempatan ini untuk menjual minyak tanah ke luar negeri.

''Kalau memang kenyataannya seperti itu, benar-benar permainan dari para pengusaha. Sebaiknya pemerintah segera besikap, karena sudah beberapa minggu ini masyarakat kesulitan mendapatkan minyak tanah,'' ujarnya.

Sepuluh Hari

Pemilik depo minyak tanah di Jalan Krobokan Ny Joko Suwarno (40) mengaku tiga drum minyak tanah miliknya kosong sejak sepuluh hari lalu. Dia sudah berkali-kali menghubungi seorang agen minyak di kawasan Citarum, namun hingga kemarin minyak belum juga dikirim.

''Saya sudah berkali-kali menghubungi agen itu, baik lewat telepon rumah maupun Hp. Kalau ditotal saya sudah keluar banyak duit. Tetapi kenyataan, dia hanya berjanji dan minyak tidak datang juga,'' ungkapnya.

Kelangkaan minyak tanah juga terjadi di Semarang Utara. Saikin (40), penjual minyak tanah keliling asal Desa Jetak, Wedung, Demak mengaku mendapat jatah sangat terbatas. Bila beberapa minggu sebelumnya dia mendapat jatah dari agen sampai 400 liter/hari, sejak menjelang kampanye turun menjadi 200 liter/hari.

''Jadi, saya harus membatasi permintaan pelanggan. Banyak yang kecewa karena pembelian saya batasi. Kalau tidak begitu, nanti ada yang tidak kebagian,'' katanya.

Ketua Hiswana Migas Jateng Drs Harsono menyatakan, pihaknya tidak mengetahui persis penyebab kelangkaan pasokan minyak tanah di lapangan. Namun, para agen akan segera berkoordinasi dengan Pertamina untuk segera melakukan operasi pasar. ''Sejauh ini dari hasil pemantauan di lapangan, permintaan memang meningkat tajam, sedangkan stok tetap dan belum bisa ditambah karena keterbatasan kuota dari pemerintah,'' jelasnya.

Harsono menyatakan, seharusnya pemerintah menaikkan alokasi BBM khususnya minyak tanah di Jateng. Sebab, seiring dengan geliat ekonomi masyarakat sekarang ini, penggunaan minyak tanah khususnya untuk industri kecil, cenderung meningkat.

''Sudah selayaknya pemerintah menaikkan alokasi BBM, bukan malah menguranginya,'' tandasnya. (G5,G2-63k)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA