
| Rabu, 17 Maret 2004 | Ekonomi |
Batasi Industri BesarSEMARANG-Penurunan peringkat investasi Kota Semarang ditanggapi dingin oleh Wali Kota H Sukawi Sutarip SH SE. "Itu sesuatu yang lumrah dan sesuai dengan siklus setelah sebelumnya menduduki peringkat pertama investasi. Sesuatu yang optimal pasti turun. Itu hukum alam," tuturnya, kemarin. Ketika mengalami booming investasi, lanjut dia, dampaknya terjadi pada objek lain. Pada saat optimal semua perusahaan masuk, sehingga daya beli naik. Misalnya, harga tanah naik hampir 70%. Kenaikan harga tanah itu, kata dia, menjadi salah satu keberhasilan investasi. Dampaknya, orang tidak kuat membeli tanah sehingga kemudian mencari di tempat lain. "Akibat tanah makin mahal niat berinvestasi di Kota Semarang pun berkurang. Jadi, penurunan itu harus dilihat lebih jauh. Jika karena kenaikan harga tanah, justru harus dilihat sebagai keberhasilan, bukan kemerosotan," tegas dia. Selain itu, tutur dia, sekarang Pemkot membatasi pendirian industri berskala besar dan berat. Pihaknya ingin Kota Semarang menjadi kota jasa, bukan kota industri. Setiap ada perusahaan berskala besar ingin mendirikan pabrik, ujar dia, Pemkot menyarankan agar dilakukan di luar kota, misalnya di Demak atau Ungaran. Perintisan menjadikan Kota Semarang sebagai kota jasa sekarang mulai tampak, misalnya dengan kehadiran bank-bank internasional. "Pembukaan penerbangan internasional Semarang-Singapura mulai 28 Maret ini juga menunjukkan niat tersebut," tuturnya. (G17,H1-53e) |