logo SUARA MERDEKA
Line
  Rabu, 17 Maret 2004 Ekonomi  
Line

Kapitalisasi Reksadana Akan Mencapai Rp 90 Triliun

SEMARANG-Meski dibayangi kekhawatiran terjadi gangguan keamanan dalam pelaksanaan pemilu tahun ini, kalangan manajer investasi memperkirakan kapitalisasi industri reksadana akan mencapai Rp 90 triliun atau naik dari tahun lalu Rp 85 triliun.

"Tren suku bunga yang menurun akan menjadi salah satu faktor pertumbuhannya karena keuntungan yang diperoleh dari reksadana jauh lebih tinggi dari investasi di deposito," kata Steven Suryana, Product Manager Investment Services Wealth Management Standard Chartered Bank dalam seminar mengenai prospek industri reksadana di Hotel Grand Candi, kemarin.

Dia mengemukakan, suku bunga menjadi faktor terpenting bagi perkembangan industri keuangan. Pada 2003 suku bunga jangka pendek turun sangat cepat. Suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI) jangka satu bulan turun dari 12,9% menjadi 8,5% pada November 2003.

"Pada tahun ini suku bunga SBI berjangka satu bulan mungkin akan naik, tetapi hanya menjadi sekitar 9,0% karena inflasi diperkirakan tetap rendah dan perbankan masih kelebihan likuiditas.

Perubahan suku bunga SBI itu tak akan banyak memengaruhi nilai aktiva bersih (NAB) reksadana," tutur dia.

Dari pertumbuhan itu, lanjut dia, Standard Chartered Bank menargetkan mengelola reksadana Rp 15 triliun pada akhir 2004 atau meningkat 80% dari tahun lalu. Secara nasional pihaknya menargetkan memperoleh pangsa pasar 17%.

"Produk yang kami harapkan mencapai target adalah Portofolio Dinamis Plus bekerja sama dengan PT ABN AMRO Manajemen Investasi dengan memberi kemudahan berinvestasi, supermarket reksadana, dan objektif dalam penilaian," jelasnya.

Pelindung

Ferry Latuhihin, Associate Director Danareksa Research Institute berpendapat, reksadana campuran akan banyak berinvestasi pada surat utang dan saham perusahaan. Saham perusahaan Indonesia masih murah dibandingkan dengan Malaysia dan Thailand.

"Bagi investor reksadana campuran, investasi pada surat utang berfungsi sebagai pelindung. Potensi kerugian pada saham dapat ditutup dengan pendapatan bunga dari surat utang, sehingga modal investor terlindungi," tuturnya.

Dia memperkirakan kinerja Bursa Efek Jakarta (BEJ) tetap baik selama tahun ini. Bahkan setelah pemilu diprediksi akan melesat.

Kalaupun sekarang rupiah dan pasar saham terkoreksi, itu wajar dan tidak akan berkepanjangan.

Dia berpendapat, pertumbuhan pasar saham mengikuti perkembangan ekonomi dunia yang dimotori oleh pemulihan ekonomi AS dan Jepang serta pasar saham global yang dimotori oleh bursa saham di New York, London, dan Tokyo.

Namun, dia menggarisbawahi, kini investor lebih baik berinvestasi dalam jangka panjang. Ke depan, pasar reksadana akan lebih bagus dari sebelumnya.

"Jika melihat pertumbuhan berbagai instrumen pasar modal Indonesia yang membaik dan didukung oleh indikator makro ekonomi, itu juga memberikan andil kuat bagi pertumbuhan pasar uang termasuk pasar modal." (G2-53e)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA