logo SUARA MERDEKA
Line
  Rabu, 17 Maret 2004 Jawa Tengah - Muria  
Line

Bakat Bermain Musik Bukan Segalanya

SUASANA di gedung DPRD Kudus Minggu lalu tampak lain. Aula gedung Dewan itu dipenuhi anak-anak dan suara musik yang merdu silih berganti.

Pada pagi itu gedung wakil rakyat memang tidak digunakan untuk membahas kepentingan rakyat dan mencari solusinya. Namun, digunakan untuk pergelaran Pesta Musik Yamaha 2004. Pelaksananya Sekolah Musik Harapan Kudus. Pesertanya dari Kudus, Jepara, dan Pati.

Berbagai jenis musik dipentaskan siswa-siswi Sekolah Musik Harapan (SMH), baik electone organ, piano, gitar, vokal, keyboard, drum maupun biola. Bahkan, ditampilkan juga band dari siswa-siswi.

Lo, katanya belajar musik itu susah, tidak gampang. Kok animo mereka cukup besar? Pesta musik tersebut diikuti lebih 100 anak. Jumlah yang bukan main.

"Bakat bukan segala-galanya. Yang lebih penting kemauan, kerja keras, dan serius berlatih. Anggapan belajar musik itu sulit tidak benar," ucap Direktur SMH Kudus Thomas Adi Winarto.

Sejak SMH didirikan pada 1984 jumlah siswanya selalu meningkat. "Setiap tahun kami menggelar pesta musik untuk mengetahui seberapa jauh siswa menguasai musik yang dipelajarinya," jelas dia.

Lebih dari itu, kegiatan tersebut untuk menunjang program pemerintah dalam kurikulum berbasis kompetensi.

Sistem Terbaik

Winarto menyatakan, sistem yang dikembangkan di SMH menggunakan metode yang terbaik. Berkiblat dengan sistem yang dikembangkan Yayasan Musik Indonesia dan Yamaha Musik Education. Keduanya dikenal memiliki sistem terbaik.

Dalam Pesta Musik 2004 disediakan dua macam trofi. Trofi yunior A untuk siswa hingga SD kelas VI dan trofi yunior B untuk siswa SMP ke atas. Penilaian tidak hanya dilakukan oleh guru dari Yayasan Musik Indonesia yang diwakili Frank dari Yayasan Musik Indonesia Surabaya.

Penilaian juga dilakukan oleh penonton yang hadir. Tampil sebagai yang terbaik electone, yakni Steve Aditya Winarto (A) dan Danny Yulianto (B). Lalu, terbaik piano, yakni Steve Aditya Winarto (A) dan Zufrida Rahmi (B).

Terbaik gitar, Ifan Fanani (A) dan Arthur Calvino (B). Terbaik vokal, Nawasyifa (A) dan Kania Arfiyani (B). Terbaik drum, Agraa Rizky Kurnianto dan keyboard terbaik Ribka Meilanty.

Komitmen Moral

Mengelola SMH bagi Winarto memang banyak suka-dukanya. "Namun, menurut saya lebih banyak sukanya," tutur dia.

Sebab, dapat memberikan kesempatan kepada orang lain yang belum bisa belajar menjadi bisa. Yang tidak tahu menjadi tahu.

"Ini artinya harus ada komitmen moral dan tanggung jawab memberikan pembelajran yang baik dan benar dalam pendidikan musik," katanya.

Pendirian SMH, kata dia, merupakan panggilan jiwa sebagai pemusik. Dia ingin menepis anggapan bahwa belajar musik sesuatu yang mahal dan sulit. "Obsesi saya ingin memasyarakatkan bermain musik di Kudus dan sekitarnya."

Dipilihnya Yayasan Musik Indonesia dan Yamaha Musik Indonesia, jelas Winarto, karena sistem yang diberikan sesuai dengan standar pendidikan musik di seluruh dunia.

Sistem itu telah melewati uji kelayakan ketepatan usia. Selain itu, juga memiliki cabang di seluruh dunia dan kota-kota di Indonesia.

Itu salah satu keunggulannya. SMH Kudus merupakan salah satu pemegang sublisensinya.

Obsesi Winarto lebih jauh menginginkan lebih banyak orang menguasai musik yang dirintis mulai anak-anak. Alasannya, dalam musik terkandung nilai-nilai humanisme yang sangat kental dan tinggi.

"Sangat bermanfaat membentuk karakter, menghaluskan perasaan, dan mencerdaskan pikiran."

Hambatannya sampai sekarang masih ada orang tua yang belum memiliki pemahaman bagaimana belajar musik yang benar. Kemungkinan mereka beranggapan musik bukan kebutuhan primer.

"Peran bakat saya kira cuma 10%. Yang penting kemauan dan kerja keras berlatih," tandasnya.

Dia mengemukakan, belajar musik membutuhkan proses panjang, step by step, tidak bisa langsung jadi. Hal itu memerlukan konsistensi dan komitmen kuat. Belajar musik merupakan sesuatu yang terus berjalan, sesuatu yang harus terus dilatih.

Lebih dari itu, belajar musik secara benar dapat mencerdaskan anak. Untuk menunjang ambisi tersebut, Winarto memilih pengajar atau guru musik di sekolahnya sesuai dengan standar yang berlaku.

"Untuk menjadi guru di sini tidak mudah. Lewat audisi, setelah lulus juga berkewajiban mengikuti seminar-seminar yang dilakukan Yayasan Musik Indonesia. Sebab, kualitas menyebabkan kami bisa bertahan," ujarnya. (HM Soleh AK-34e)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA