logo SUARA MERDEKA
Line
  Selasa, 16 Maret 2004 Berita Utama  
Line

Analisis FS Swantoro

Perilaku Pemilih

SUASANA kampanye semakin panas. Persaingan antarparpol sudah kian sengit. Berbagai tanda gambar dan bendera partai mulai memenuhi sudut-sudut kota, sebagai sosialisasi simbol partai dalam pemenangan pungutan suara pada 5 April 2004. Memang kampanye pemilu terkesan belum banyak berubah. Penonjolannya masih dari bendera dan umbul-umbul partai. Kampanye belum menyentuh substansi dari pendidikan politik dan pemberdayaan rakyat dalam proses demokrasi.

Pertanyaannya, mengapa seseorang melakukan tindakan atas pilihan politiknya, sedangkan yang lain tidak? Mengapa pilihan sekelompok orang di Jawa Timur cenderung konsisten, sementara itu di Sumatera Utara misalnya berubah-ubah. Faktor apa yang memengaruhi seseorang menentukan pilihan politiknya? Beberapa pertanyaan ini masih bisa diperpanjang dengan persoalan senada. Substansinya, bagaimana menjelaskan fenomena itu terhadap perilaku pemilih dalam Pemilu 2004 yang kian memanas ini.

Di banyak negara yang telah memiliki tradisi panjang dalam pemilu, seperti AS, Inggris, dan Prancis, pendekatan voting behavior sudah sangat berkembang. Hal itu disebabkan oleh banyak kajian yang berkaitan dengan perilaku pemilih di negara-negara tersebut. Kajian terhadap perilaku pemilih kini juga berkembang di Jepang, India, dan Korea Selatan. Ketiganya adalah negara di Asia yang sudah berkembang kehidupan demokrasinya.

Persoalannya, bagaimana melihat perilaku pemilih dalam menentukan pilihan politik mereka terhadap parpol. Di AS pada dekade 1950-an, penjelasan teoritis tentang voting behavior ini cenderung didasarkan pada dua model, yakni lewat pendekatan sosiologis dan psikologis. Di lingkungan ilmuwan sosial di AS, pendekatan sosiologis awalnya dikembangkan oleh mazhab Columbia, yaitu The Columbia School of Electoral Behavior. Sementara itu pendekatan psikologis lebih banyak dikembangkan oleh mazhab Michigan, The Michigan Survey Research Center. Perbedaannya, jika mazhab Columbia lebih difokuskan pada pendekatan sosiologis, mazhab Minchigan difokuskan pada faktor psikologis para pemilih dalam menentukan pilihannya.

Di luar itu, ada pendekatan lain yang pernah ditulis Dennis Kavanagh (1983) dalam buku Political Science and Political Behavior. Menurut dia, ada lima model untuk menganalisis perilaku pemilih, yakni pendekatan struktural, sosiologis, ekologis, psikologi sosial, dan pilihan rasional.

Dalam pendekatan struktural, kita dapat melihat kegiatan pemilih ketika memilih partai sebagai produk dari konteks struktur yang luas, seperti struktur sosial masyarakat, sistem kepartaian, sistem pemilu, dan program yang ditonjolkan partai-partai peserta pemilu. Dalam model ini, tingkah laku politik seseorang termasuk dalam penentuan pilihan ditentukan oleh pengelompokan sosial, agama, bahasa, dan etnis/suku.

Pendekatan sosiologis, ada kemiripannya. Bedanya hanya lebih menempatkan kegiatan memilih pada konteks sosial. Melalui pendekatan ini, tingkah laku politik seseorang akan dipengaruhi identifikasi diri terhadap kelompok, termasuk norma yang dianut kelompok tersebut. Dalam pendekatan struktural, mobilitas seseorang yang ingin keluar dari kelompok untuk bergabung dengan kelompok lain masih dimungkinkan. Karena itu, pilihan seseorang akan dipengaruhi oleh latar belakang sosial-ekonomi, demografi, tempat tinggal, pendidikan, pekerjaan, dan sebagainya. Lewat pendekatan ini dapat dibuat peta masyarakat. Hal itu kemudian dimanfaatkan sebagai basis dukungan terhadap parpol atau kandidat presiden.

Pendekatan ekologis relevan bila dalam daerah pemilihan terdapat perbedaan karakteristik pemilih yang didasarkan pada unit teritorial. Kelompok masyarakat penganut agama, buruh, kelas menengah, suku-bangsa (etnis) yang bertempat tinggal di daerah tertentu dapat memengaruhi perubahan komposisi pemilih terhadap perubahan pilihan mereka. Dalam Pemilu 1999 kita lihat peta di kawasan Barat Indonesia didominasi PDI-P. Kawasan Timur didominasi Golkar.

Pendekatan psikologi sosial. Pendekatan ini menyatakan tingkah laku pemilih akan dipengaruhi oleh interaksi antara faktor internal dan eksternal. Misalnya, sistem kepercayaan, agama, dan pengalaman hidup seseorang. Dalam pendekatan ini dipercaya bahwa tingkah laku individu akan membentuk norma kepercayaan individu.

Terakhir, lewat model pilihan rasional. Model ini sebenarnya kelanjutan dari pendekatan psikologis sosial yang ingin melihat kegiatan perilaku pemilih sebagai produk hitungan untung-rugi. Namun pertimbangannya bukan ongkos memilih, melainkan suara yang terkumpul yang dapat memengaruhi hasilnya. Pertimbangan itu sering digunakan para pemilih yang mencalonkan diri agar dapat dipilih menjadi anggota legislatif. Bagi mayoritas pemilih, pertimbangan untung-rugi ini digunakan untuk membuat keputusan terhadap partai yang dipilih, termasuk memutuskan bagaimana seseorang harus memilih atau tidak memilih. Di sini, faktor pendidikan dan kesadaran pemilih akan menentukan sekali. Penganut model ini sering mencoba meramalkan tindakan manusia berdasarkan pada asumsi sederhana, yakni setiap orang berusaha keras mencapai apa yang dinamakan self-interst.

Kecenderungan

Melihat landasan di atas, bagaimana dengan Pemilu 2004?

Berdasarkan hasil polling "Soegeng Sarjadi Syndicated" (10/3/04), diperkirakan suara PDI-P, Golkar, PPP, PKB, dan PBB akan turun. Sementara itu, PAN dan PKS meningkat. Namun suara cenderung terfrakmentasi secara lebih merata. Karena itu tak ada partai yang akan memperoleh suara lebih dari 30% seperti PDI-P dalam Pemilu 1999. Paling tinggi, hanya sekitar 23% hingga 25%.

Dari polling diperlihatkan PDI-P memperoleh 20,74%, Golkar 15,86%, PAN 13,48%, PKB 12,38%, PKS 10,62%, PPP 5,46%, PBB 4,48%, dan Partai Demokrat 3,18%. Dengan demikian ada kecenderungan delapan partai itu yang akan lolos threshold.

Partai baru seperti PIB, PNBK, Partai Pelopor, PDK, PKPI, dan PKPB bisa jadi suaranya tetap kecil. Meski peta politik setiap saat bisa berubah secara diametral saat partai baru mampu mengungguli partai lama. Tantangannya adalah rakyat sudah kecewa berat terhadap partai-partai politik, yang dinilai tidak banyak berbuat untuk rakyat. Belum lagi faktor "Sindrom Amat Rindu Soeharto" (SARS), terutama rasa aman dan harga-harga murah, perlu diperhitungkan oleh partai-partai yang sekarang sedang bertarung sengit.

Di luar itu, lewat pendekatan sosiologis dan psikologis-sosial, dapat digambarkan kelompok pemilih tradisional, seperti santri dan abangan atau Islam dan nasionalis masih cenderung memilih partai lama yang berideologi sama dengan identifikasi mereka. Kelompok nasionalis dapat dibagi menjadi tiga, yakni nasionalis kiri, moderat, dan kanan. Untuk nasionalis kiri umumnya mendukung partai buruh dan Marhaens. Adapun nasionalis moderat adalah PDI-P dan Golkar. Nasionalis kanan cenderung mendukung PKPI dan PKPB (Soehartois). Dukungan nasionalis terhadap PDI-P masih kuat, terutama di Jawa dan sebagian Sumatra.

Kelompok Islam (santri) terpecah menjadi Islam perkotaan dan pedesaan. Islam pedesaan umumnya berbasis pada NU, sehingga akan lari ke PKB atau PNUI. Adapun Islam perkotaan cenderung memilih PAN, PK Sejahtera, dan PBB. Di luar itu ada pemilih terdidik yang umumnya tinggal di kota-kota besar juga terpecah. Sebagian mendukung PIB, PAN, PK Sejahtera, Golkar, PDI-P. PDK, PNBK, dan PKB. Suara Golkar masih kuat di luar Jawa.

Sisanya golput, terutama massa terdidik di perkotaan.

Untuk massa mengambang umumnya wong cilik yang kurang terdidik. Pilihan mereka tergantung pada beberapa hal. (1) Bagaimana sikap partai dan pimpinan partai terhadap mereka, (2) program dan isu yang dijual partai, (3) kemampuan daya dukung finansial partai, (4) dukungan media cetak dan elektronik terhadap partai, dan (5) kegigihan partai dalam memperjuangkan aspirasi wong cilik.

Dari uraian di atas, dapat dikemukakan benang merah kecenderungan pemilih. Pertama, sulit diperoleh suara mayoritas atas partai tertentu. Artinya, seperti terlihat dalam polling, suara terbagi secara merata. PDI-P atau Golkar yang diperkirakan masih menang, hanya memperoleh sekitar 20% dan 15% suara. Dengan demikian, dalam pemilihan presiden dan wakil presiden mendatang, akan sulit untuk menang dan lolos sekali putaran jika tidak berkoalisi dengan beberapa partai politik.

Kedua, pemilih kian cerdas. Artinya, mereka sulit dibohongi dan dimobilisasi seperti pada era pemilu Orde Baru. Pemilih ini memilih golput daripada salah pilih.

Ketiga, last but not least, apa pun yang telah diprediksi selama ini, ada yang bilang pemilu akan berdarah-darah. Sebenarnya rakyat sudah semakin dewasa sehingga tidak mudah untuk diadu domba seperti pada era yang lalu. Dengan demikian, rakyat sekarang ini merasa optimistis Pemilu 2004 akan membawa keadaan yang lebih baik, secara politik, ekonomi, sosial-kemasyarakatan, dan penegakan hukum/HAM ke depan. Itulah harapan kita semua.(FS Swantoro, Ketua Departemen Politik "Soegeng Sarjadi Syndicated" Jakarta-33i)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA