
| Sabtu, 13 Maret 2004 | Tajuk Rencana |
Kampanye Pemilu Kurang Bergairah Pertanda Apa- Kampanye pemilihan umum (pemilu) memasuki hari kedua. Di beberapa kota, gairah terasa menurun, terutama dibandingkan dengan Pemilu 1999. Pawai kendaraan yang biasanya membuat kemacetan di jalan raya jauh berkurang. Rapat-rapat akbar di lapangan belum terlihat, kecuali di beberapa kota. Ada kesan pada pemilu kali ini orang menjadi kurang bersemangat. Walau bendera-bendera partai politik dan umbul-umbul masih banyak di pasang di pinggir-pinggir jalan raya, termasuk di atas pohon dan tiang listrik. Secara keseluruhan gereget pemilu kali ini kalah dari pemilu sebelumnya. Apakah nanti pada hari-hari akhir masa kampanye baru lebih bersemangat. Ataukah sekarang memang berbeda? Kalau benar berbeda, ini pertanda apa?
-- Kemungkinan pertama, bila kita berpikir positif, masyarakat sudah jenuh dengan hura-hura kampanye yang tidak produktif sehingga lebih senang dengan cara lain. Dengan kata lain, masyarakat makin dewasa menyikapi pemilu. Demikian juga partai-partai besar, yang tak begitu antusias lagi mengerahkan massa dalam jumlah besar. Kalau partai-partai kecil kurang aktivitas, itu bisa dimaklumi. Mereka masih serbaterbatas baik dalam penggalangan dana maupun penghimpunan massa. Namun jika partai besar juga berubah gaya, bisa jadi memang ada perubahan. Dan kalau ini benar, akan lebih membuat suasana menjadi kondusif. Masyarakat tak perlu khawatir terjadi sesuatu pada masa kampanye. Aktivitas sehari-hari pun bisa berjalan normal.
-- Namun bisa juga yang terjadi adalah kemungkinan kedua. Dalam hal ini kita berpikir negatif, yakni masyarakat kemungkinan tak terlalu antusias menghadapi pemilu sebab kecewa atas hasil pemilu lalu. Sebagaimana diketahui, lembaga legislatif hasil Pemilu 1999 secara umum mengecewakan, baik di tingkat pusat maupun daerah. Demikian juga perilaku wakil rakyat, yang hanya mementingkan diri sendiri, memperkaya diri, serta kurang tanggap terhadap aspirasi rakyat. Pendek kata, janji-janji pemilu hanyalah janji palsu. Dengan menganggap tidak ada lagi yang bisa diharapkan dari partai-partai besar dan partai-partai baru belum menjanjikan, masyarakat skeptis dan adem-adem saja. -- Seandainya yang terjadi adalah kemungkinan pertama, itu pertanda kemajuan dalam berdemokrasi. Kedewasaan dalam berpolitik. Untuk apa kampanye hura-hura yang menghabiskan biaya besar? Lebih baik dananya langsung disumbangkan ke pihak yang membutuhkan. Realitas lain menunjukkan, kemampuan pendanaan secara memadai dalam kampanye tampaknya baru dimiliki partai-partai besar. Partai baru dan relatif kecil masih kesulitan. Di samping itu muncul fenomena lain dalam berkampanye, yakni melalui media massa baik cetak maupun, terutama elektronik. Sekali tayang bisa disaksikan puluhan juta orang, kendati dari segi biaya sangatlah mahal. Terlepas dari substansi yang biasa-biasa saja, kampanye lewat media relatif lebih tenang.
-- Kampanye tertutup di kampus-kampus masih kurang diminati. Bisa jadi partai politik menganggap kampus bukan sasaran potensial. Menghadapi mahasiswa kritis lebih sulit ketimbang meyakinkan masyarakat di lapis bawah. Mungkin pembagian kaus atau topi saja sudah cukup. Karena itulah secara keseluruhan dapat dikatakan belum ada kemajuan substansial dalam berkampanye. Materi yang disampaikan masih itu-itu saja. Sekitar janji memberantas KKN atau mengatasi pengangguran. Materi serupa sudah berkali-kali disampaikan dan justru karena itulah masyarakat tidak percaya lagi kepada partai politik dan calon anggota legislatif. Setelah menjadi anggota DPR atau DPRD, mereka tak lagi peduli. Mereka hanya memikirkan setoran untuk mengambalikan modal.
-- Terlalu dini untuk menilai apakah kampanye kali ini akan tetap tenang-tenang saja. Namun melihat gejalanya memang terjadi penurunan gairah. Mereka makin realistis dan sadar bahwa masa kampanye lebih bersifat seremoni daripada peristiwa yang bisa dianggap bermakna. Maksudnya, selama ini juga telah terjadi salah kaprah karena kampanye hanya diikuti kader-kader partai yang sudah jelas akan mencoblos. Semestinya kampanye diubah dengan sasaran pemilih baru atau orang-orang di luar partai. Rasanya hal itu bukan indikasi partisipasi pemilu akan menurun karena kemungkinannya masyarakatlah yang berubah. Apalagi melihat persoalan politik yang sesungguhnya sebatas persoalan para elite. Untuk apa beramai-ramai jika ternyata hanya menjadi kuda tunggangan? |