
| Sabtu, 13 Maret 2004 | Sala |
Wawali Prihatinkan Kondisi TSTJBALAI KOTA-Kondisi Taman Satwa Taru Jurug (TSTJ) memunculkan keprihatinan Wakil Wali Kota J Soeprapto. Dia menilai kondisi itu tak lepas dari dijadikannya tempat konservasi hewan dan tumbuhan itu sebagai objek kontributor pendapatan asli daerah (PAD). "Seharusnya jangan dijadikan objek untuk memperoleh PAD. Kalau tempat konservasi jadi objek penghasil, akibatnya memprihatinkan seperti itu," tegas dia, kemarin. Dia menuturkan, kondisi taman bukan lagi memprihatinkan melainkan suprihatin alias supermemprihatinkan. Dari aspek luas lahan dan hewan peliharaan, pengelolaan dan manajemen, kerapian serta kebersihan semuanya terbilang tak layak. Tempat itu seharusnya justru mendapat subsidi rutin dari Pemkot baik untuk pengelolaan maupun perbaikan fisiknya. Dia juga memandang perlu lahan taman diperluas sampai belakang Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta. Jika luasnya hanya seperti sekarang, tidak akan bisa menjadi kebun binatang ideal. Tujuan menempatkan binatang di tempat itu yakni sebagai konservasi tidak akan tercapai. Juga perlunya perbaikan di sejumlah tempat yang kondisinya memprihatinkan seperti kantor depan dan kandang-kandang hewan. "Lihat saja mana ada tempat yang masih bagus. Kebanyakan sudah rusak, tapi tidak diperbaiki. Tidak logis kalau jadi kontributor PAD, wong seharusnya masih disubsidi Pemkot. " Mengenai konsep penataan taman, dia mengaku kurang tahu pasti karena tak memahami hal itu. Dia mengatakan, pengelola perlu meminta saran dari pengelola Taman Safari Indonesia yang lebih profesional. "Kalau hanya disamakan dengan kebun binatang kecil, kapan majunya? Jelas mundur terus," Kepala Pengelola TSTJ Ir Mirna Susilo mengatakan, untuk perbaikan skala besar, pihaknya tetap membutuhkan subsidi dari Pemkot dan mengupayakan dari pihak ketiga. Jika tidak, perolehan dari tiket masuk yang mereka kelola tidak akan mencukupi. (G18-42e) |