
| Sabtu, 13 Maret 2004 | Liputan Pemilu 2004 |
Pemilu 2004Kampanye dan KateringAPA hubungan antara kampanye dan katering? Jelas tidak ada hubungannya, tapi bagi Ki Enthus Susmono, kampanye bagi seniman tidak lebih dari katering. Seniman yang ikut kampanye sama dengan katering yang mendapat pesanan. Sekali-kali ada pesanan, tidak usah ditolak. Dia mengemukakan, seniman ikut kampanye sah-sah saja. ''Namun, harus ada pembagian masing-masing,'' tegasnya. Toh, tidak setiap bulan ada kampanye. ''Seniman juga butuh uang,'' ujar dalang kondang dari Tegal yang sampai hari kedua kampanye belum ada partai politik yang mengajaknya bergabung ikut kampanye. Namun menurut dia, pemilahan di lapangan harus tegas. Seniman bertugas menghibur massa, sedangkan juru kampanye mengajak massa. ''Kampanye yang dibungkus dengan kesenian justru membuat massa akan luruh (tidak brutal),'' ujarnya di sela-sela pengukuhan Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT) periode 2004-2007, baru-baru ini. Dia mengemukakan, independensi seniman tidak diukur dari ikut kampanye sebuah partai atau menolak kampanye. ''Memakai baju partai tidak soal asal tidak ikut larut memengaruhi massa untuk mencoblos salah satu partai,'' ungkapnya yang saat pengukuhan sebagai ketua Komite Seni Tradisi memakai pakaian nyleneh dengan memakai celana kombor putih bintik hitam dipadu beskap jawa. Meski ikut kampanye, ujar dia, tidak membuat luruh independensi sebagai seniman. ''Bila saya diajak kampanye dengan bayaran sejumlah uang, maka saya harus diberi kebebasan mengkritik partai tersebut,'' ungkapnya. Dia mengatakan, sebagai dalang dia diberi kebebasan mengeksplor gagasan sesuai dengan keinginan. Jadi, sebelum ada kesepakatan kontrak harus ada proses tawar-menawar lebih dulu. ''Nanggap Ki Enthus sama saja dengan nanggap kritik,'' tandasnya. Langkah ini diambil Ki Enthus, sebab dia tidak mudah memercayai janji-janji yang ditebar partai saat kampanye. (wid-58j) |