
| Sabtu, 13 Maret 2004 | Berita Utama |
Penembakan Diduga Dilakukan PaspampresJAKARTA - Kapolda Metro Jaya Makbul Padmanagara mengakui, penembakan terhadap dua orang di kawasan Cempaka Putih kemarin, Kamis (11/3), diduga dilakukan personel Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres). Dia menyatakan hal itu ketika menjawab wartawan, kemarin, seusai shalat jumat di Mapolda Metro Jaya. Meski penembakan terjadi pada saat awal kampanye, dia keberatan peristiwa itu dikaitkan dengan kampanye. Dia menyatakan tindakan personel Paspampres itu masih dalam koridor menjalankan tugas. Namun dia enggan menjelaskan peristiwa penembakan itu. Sebab, saat ini kasus itu telah ditangani Dan Puspom. ''Untuk menanyakan lebih lanjut siapa yang menembak, siapa namanya, dan kenapa ada tembakan, tolong tanya ke Paspampres,'' kata dia. Kedua warga sipil yang tertembak adalah Salomo Simatupang (50) dan Abdul Rauf (39). Hingga kemarin mereka masih dirawat intensif oleh tim dokter Rumah Sakit Islam (RSI) Cempaka Putih, Jakarta Pusat. Salomo, yang sehari-hari berjualan perabot dari rotan, dan Abdul Rauf, pedagang asongan, menjadi korban penembakan brutal oleh pengawal iring-iringan rombongan keluarga pejabat di perempatan Rawasari, Kamis (11/3) sekitar pukul 11.00 WIB. Belum ada pihak yang mengaku bertanggung jawab atas insiden itu. Apalagi bersedia membiayai pengobatan kedua pedagang yang terluka di dada dan perut tersebut.
Penembakan di perempatan Rawasari (kawasan Cempaka Putih-Red) itu berawal dari masalah lalu lintas. Saat itu iring-iringan empat mobil mewah menggunakan sirine selayaknya rombongan pejabat negara melintas cepat. Namun karena arus lalu lintas padat, laju iring-iringan itu agak tersendat. Tiba-tiba sebuah mobil pribadi Nissan Terano hijau menyelinap dan masuk barisan rombongan, sehingga berada di antara mobil ketiga dan keempat iring-iringan. Diduga kesal dihalangi, pengemudi Toyota Land Cruiser hitam menabrak dari belakang mobil Nissan Terano yang ditumpangi Yondra Intan Reinhard (25) bersama kedua temannya, yang saat itu dikemudikan sang sopir, Junaidi. Insiden itu membuat kedua pihak ribut. Di lokasi kejadian ditemukan tiga selongsong peluru dan tiga butir peluru kaliber 9 mm yang diduga milik penembak yang kabur. Sama seperti Kapolda Makbul, Prasetyo tak bersedia menyebutkan identitas keluarga pejabat yang dikawal penembak itu. (bu-58g) |