logo SUARA MERDEKA
Line
  Sabtu, 13 Maret 2004 Berita Utama  
Line

Mbah Dur: Insya Allah Dados

''Sopire Wae Wis Cukup, Kenek Kok Ndadak Melu''

BERSAMA MBAH DUR: Pemimpim Umum Suara Merdeka Ir Budi Santoso bersilaturahmi dengan pengasuh Pesantren Asrama Perguruan Islam (API) Tegalrejo, Magelang, KH Abdurrahman Chudlori. (g) - SM/Sutomo

ADA ungkapan cukup menarik ketika Pemimpin Umum Suara Merdeka Ir Budi Santoso bersilaturahmi ke kediaman KH Abdurrahman Chudlori dan adik kandungnya, Gus Yusuf, di Tegalrejo, Kabupaten Magelang, Rabu (10/3). Pengasuh Pesantren Asrama Perguruan Islam (API) itu mengisyaratkan akan mengikuti jejak para kiai sepuh berkait dengan pencalonan Budi Santoso sebagai anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Jateng.

''Sopire wae wis cukup, kenek kok ndadak melu,'' ujar Mbah Dur, panggilan akrab KH Abdurrahman Chudlori, yang disambut tawa semua orang yang berada di ruangan.

Dalam silaturahmi itu Budi Santoso didampingi Pemimpin Redaksi Suara Merdeka H Sasongko Tedjo SE MM, Staf Ahli Direktur Drs Adi Ekopriyono MSi, dan Kepala Biro Semarang H Agus Fathuddin Yusuf.

Sebenarnya apa makna yang terkandung dalam pernyataan itu? Tentu tak lepas dari sowan Budi Santoso ke sejumlah kiai karismatis di wilayah pantura timur sebelumnya.

Ketika mengunjungi pengasuh Pesantren Raudlatut Thalibien, Leteh, Rembang, KH M Cholil Bisri, Kamis (26/2) lalu, calon anggota DPD bernomor urut 47 itu dibekali jaljalut. Yakni, sejenis amalan atau wirid untuk benteng awak (perlindungan badan dari segala macam bahaya yang tampak dan tidak).

Mbah Cholil mengemukakan sesuatu ketika konstituennya menanyakan pengganti KH A Mustofa Bisri (Gus Mus) yang mengundurkan diri dari pencalonan anggota DPD Jateng.

''Saiki aku isih ngepal (masih mencari siapa figur yang tepat untuk menggantikan Gus Mus-Red) saka gambar (daftar calon anggota DPD-Red), kok Pak Budi datang,'' seloroh kakak kandung Gus Mus itu.

Pada hari yang sama, ketika berkunjung ke kediaman KH MA Sahal Mahfudh, pengasuh Pesantren Maslakul Huda, Kajen, Margoyoso, Pati, juga ada angin segar. Budi Santoso dan Dra Hj Nafisah Sahal, istri Kiai Sahal yang menjadi calon anggota DPD, sama-sama mendoakan. Kiai Sahal juga memimpin doa dan diamini semua orang yang berada di ruangan.

Kejadian yang sama berlangsung ketika Budi Santoso bersilaturahmi ke kediaman KH Maemun Zubair, pengasuh Pesantren Al Anwar Sarang, Lasem, Rembang, Jumat (5/3) lalu. Mbah Maemun berharap Budi Santoso terpilih sebagai anggota DPD Jateng.

Lontaran Mbah Dur soal sopir dan kernet akhirnya menjadi perbicangan menarik. ''Namun kernet kan juga penting untuk mencari penumpang,'' kata Budi Santoso, yang disambut tawa semua hadirin.

''Lha iki aku nyangoni apa? Mbah Cholil wis jaljalut, Mbah Maemun Masjid Wali, Mbah Basyir, dan Mbah Sahal ya wis,'' seloroh Mbah Dur, sambil mengisap dalam-dalam rokok kretek.

''Sekarang tinggal nata niat. Insya Allah dadhos,'' kata Mbah Dur.

Pada kesempatan itu adik kandung Mbah Dur, Gus Yusuf, bercerita banyak tentang Pesantren API. Mantan Presiden RI KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pernah menjadi santri pada tahun 1955 di pondok pesantren yang berdiri tahun 1944 itu.

Sebelum rombongan pulang, Mbah Dur memimpin doa dan diamini semua hadirin. Pada saat berpamitan rombongan Suara Merdeka belum boleh pulang sebelum menyantap hidangan yang disiapkan. ''Cara ndesa, yen durung madang durung sah,'' ujar Mbah Dur.

Di Tegal

Sementara itu di Tegal, massa pendukung Budi Santoso mengadakan pawai keliling kota. Dalam acara tersebut ikut serta dalang kondang Ki Enthus Susmono.

''Hai Sedulur-sedulur....! Ana kupat sewu telu, nomor hebat papat pitu. Aja pada ragu-ragu ya.., pilih papat pitu.'' Itulah sepenggal yel-yel dari dalang kondang asal Kota Bahari itu, ketika menggembleng massa pendukung calon anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Jateng, Ir Budi Santoso, di Kota Tegal, kemarin.

Ya, dalang mbeling asal Tegal itu memang tampak hanyut di tengah ratusan pendukung Budi Santoso yang memadati Jl Cendrawasih No 9.

Ikut pula meramaikan kampanye, 250 abang becak dan ratusan pengendara sepeda motor di sepanjang jalan mengelu-elukan nama Budi Santoso. ''Budi Santoso...Joss,'' kata mereka sambil mengepalkan tangan.

Kehadiran dalang Ki Enthus seolah-olah memberikan warna tersendiri di sepanjang perjalanan kampanye simpatik itu.(G7,G12,D12,aj, wh-58tg)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA