logo SUARA MERDEKA
Line
  Sabtu, 13 Maret 2004 Berita Utama  
Line

SBY Diposisikan Adang Mega

  • Penggantinya Hari Sabarno

JAKARTA-Usai mengundurkan diri sebagai menko polkam, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mulai banyak dilirik oleh partai-partai politik. Tidak tanggung-tanggung, ada di antara partai yang menyediakan kursi capres untuk SBY.

Bahkan, diprediksikan jika SBY duet dengan Amien Rais (PAN) bisa mematahkan langkah Mega menuju kursi kepresidenan pada Pemilu 2004 kali ini.

Semalam, Presiden Megawati mengabulkan permintaan pengunduran diri SBY dan menunjuk Mendagri Hari Sabarno sebagai Menko Polkam ad interim. Demikian disampaikan Sekretaris Negara Bambang Kesowo dalam jumpa pers.

"Jadi malam hari ini keputusan pemberhentian Yudhoyono sesuai keputusan beliau untuk mundur selaku Menko Polkam disepakati Presiden."

Presiden, kata Kesowo sangat memahami dan menghargai permohonan SBY untuk mengundurkan diri. Presiden juga menyertakan ucapan terima kasih dalam surat pemberhentian.

Pemberhentian itu tertuang dalam Keppres No 36 M/2004. SBY sudah diberitahu keppres tersebut melalui Sesmenko Sudi Silalahi. Keppres yang disertai surat pengantar resmi dari Presiden dikirimkam semalam.

Calon PKB

Salah satu partai yang mengincar SBY, di antaranya adalah PKB. SBY disebut-sebut mempunyai peluang besar menjadi calon presiden dari partai itu jika Ketua Dewan Syuro KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) terhalang maju.

Juru bicara Gus Dur, Adhi M Massardi, di Jakarta, Jumat kemarin, mengatakan, jika Gus Dur berhalangan menjadi capres, maka akan dibentuk tim yang dipimpin Gus Dur untuk mencari penggantinya.

"Gus Dur pun cocok dengan SBY, bahkan saat Gus Dur menjadi presiden, 50 persen lebih tugas pemerintahan dipercayakan pada SBY," kata Adhi.

Karena itu pula, tambah Adhi, Gus Dur sangat menaruh perhatian ketika muncul kabar SBY hendak mundur dari kabinet Megawati, dan meminta hal itu tidak terjadi.

"Nah ketika akhirnya SBY menyatakan mundur, maka SBY mengadakan pertemuan dengan Gus Dur untuk menjelaskan alasannya," kata Adhi menjelaskan isi pertemuan Gus Dur-SBY di Hotel Dharmawangsa, Jakarta, Kamis malam (11/3).

Ketika ditanya apakah kemungkinan besar Gus Dur akan memilih SBY untuk menggantikannya sebagai capres PKB jika dirinya tidak dapat maju, Adhi mengatakan, jika melihat kepercayaan Gus Dur pada SBY yang besar, peluang itu cukup besar.

"Setidak-tidaknya saat ini kans SBY (menjadi pengganti Gus Dur) cukup besar."

Gus Dur pun berdasarkan keputusan Mukernas dan Rakernas Pemenangan Pemilu PKB masih merupakan capres utama PKB.

Musyawarah ulama khos NU di Pondok Pesantren Buntet Cirebon beberapa waktu lalu juga mengukuhkan mantan Ketua Umum PBNU itu sebagai capres.

Namun para ulama khos juga meminta Gus Dur memilih penggantinya jika tidak bisa maju menjadi capres, dan nama-nama yang dijagokan antara lain SBY dan Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi.

Wakil Ketua Dewan Syuro DPP PKB, KH Cholil Bisri mengusulkan agar mengangkat SBY menjadi capres, dan Ketua PBNU KH Hasyim Muzadi menjadi cawapres.

''Gus Dur tidak perlu maju sendiri,'' ujar Kiai Cholil.

''Soalnya kalau jadi presiden, Gus Dur itu kepinteren.''

Diakui, mundurnya SBY menaikkan pamornya dan masyarakat merespon dengan baik.

''Respon ulama dan kiai di PKB terhadap SBY cukup baik, karena beliau adalah pemimpin yang berani legawa dan menyatakan mundur yang jarang dimiliki oleh pemimpin lainnya,'' ujar fungsionaris DPP PKB Ali Mubarak. Namun menurut dia, terlalu dini untuk mengambil kesimpulan berkoalisi dengan SBY sebagai capres atau cawapres, sebelum diketahui hasil pemilu legislatif.

Seorang caleg DPP PKB Masduqi Baidlowi di Surabaya mengungkapkan, aspirasi yang berkembang di PKB, SBY memang merupakan capres alternatif bila Gus Dur tak dapat dicalonkan.

Bila SBY menjadi capres banyak kalangan dari NU dan PKB yang menginginkan Hasyim Muzadi menjadi cawapresnya.

"Pasangan SBY-Hasyim itu banyak diharapkan, walau Hasyim Muzadi dikabarkan akan digandeng Megawati menjadi cawapres setelah silaturahmi Megawati ke Malang," katanya.

Namun, menurut dia, hingga kini diketahui bahwa Gus Dur masih ingin maju. Karena itu, jika ada wacana lain tentu sama halnya dengan mengecilkan keberadaan Gus Dur.

Pejabat Baru

Wapres Hamzah Haz mengatakan, pemerintah akan segera mengangkat menko polkam baru usai perhelatan pemilu legislatif, 5 April 2004.

Keputusan yang diambil SBY merupakan langkah terbaik bagi yang bersangkutan. Apalagi nama SBY disebut-sebut sebagai capres Partai Demokrat, dan partai lainnya juga memberikan banyak dukungan politik kepadanya, baik sebagai capres maupun cawapres.

Pada kesempatan terpisah, Ketua Umum PAN Amien Rais mengemukakan, dalam tempo dekat pihaknya tidak mendekati SBY untuk digandeng sebagai cawapres. Sebab, momentumnya terlalu dini, dan tidak menguntungkan dari perspektif pencapresannya. "Waktunya kurang pas," tegasnya.

Yang jelas, dia memiliki agenda untuk bicara dari hati ke hati dengan SBY.

Anggota Komisi I DPR RI Tjahjo Kumolo mengingatkan, mundurnya SBY karena dia mempunyai keinginan dan strategi untuk pencalonan dirinya sebagai presiden.

Namun kader PDI-P yang dekat dengan Taufik Kiemas (suami Presiden Mega) itu menyatakan partainya tidak menganggap SBY menjadi tantangan dan rival berat bagi Mega. "Sekali lagi SBY bukan rival yang pantas disejajarkan dengan Ibu Mega."

Sementara itu, pengamat politik Universitas Airlangga Surabaya Asfar MA mengatakan, langkah strategis tim Amien Rais mendekati SBY untuk diposisikan sebagai cawapres merupakan pilihan politik tepat. Sebab, duet Amien-SBY kemungkinan besar mampu mementahkan pencalonan Mega untuk menjadi orang nomor satu di Indonesia kali kedua.

"Berdasarkan hasil penelitian perilaku pemilih yang saya lakukan selama empat tahun terakhir ini, jika Amien Rais berkoalisi dengan SBY, kemungkinan besar pasangan ini mampu mengalahkan Mega."

Menurutnya, koalisi Amien Rais-SBY adalah fenomena politik luar biasa. Amien Rais selain mendapatkan dukungan dari basis tradisionalnya, yakni komunitas Muhammadiyah dan kalangan Islam modernis lainnya, seperti PBB dan PKS. Juga duet itu kemungkinan besar mampu merengkuh dukungan dari kalangan nasionalis sekuler. Komunitas nasionalis sekuler itu pada pemilu legislatif sebagian besar menjatuhkan pilihan politiknya pada Partai Golkar dan PDI-P.(G14, di,dtc, ant-33t-69t)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA