
| Sabtu, 13 Maret 2004 | Semarang & Sekitarnya |
SMP-SMU YSKI Sidodadi Berbasis KompetensiGuru Hanya sebagai FasilitatorSEIRING dengan perkembangan teknologi informasi, dunia pendidikan dituntut untuk menghasilkan sumber daya manusia yang andal. Sumber daya yang dimaksud tidak tercipta hanya melalui pendidikan tinggi, melainkan diawali dari pendidikan dasar dan menengah. Pada tingkat tersebut, tentu guru tidak melulu menyampaikan pelajaran sesuai dengan kurikulum, tetapi dituntut dapat mengembangkan potensi siswanya. Artinya, pengajaran tak lagi terikat pada pembelajaran yang dibatasi dinding-dinding kelas. Guru dituntut mengembangkan metode secara kreatif dan inovatif. Guru bukan lagi sebagai pusat pembelajaran, melainkan sebagai fasilitator. Sumber pelajaran bisa berupa buku, lingkungan, dan masyarakat, termasuk internet. Dengan begitu, siswa akan menyukai materi yang diberikan, bahkan akan terus menuntut untuk maju serta menemukan hal-hal baru pada bidang yang diminati untuk membangun kompetensi diri. Salah satu sekolah di Semarang yang sudah memulai pembelajaran model seperti itu adalah SMP dan SMA Yayasan Sekolah Kristen Indonesia (YSKI) Sidodadi. Untuk menciptakan sistem pembelajaran dengan Kurikulum Berbasis Kompetensi, dilakukan sejumlah perubahan. ''Siswa tak hanya memperoleh pelajaran dari dalam kelas, tapi lebih banyak ke lapangan,'' kata Peter Purnomo, Wakil Ketua YSKI didampingi Ketua Yayasan David Wijaya dan Sekretaris Benita Eka Arjani serta para kepala sekolah di kampus Jalan Sidodadi, kemarin. Karena itu, lingkungan kampus di Jalan Sidodadi ditata sedemikian rupa, sehingga kampus terasa nyaman untuk belajar. Demikian pula beberapa ruang pendukung, seperti laboratorium bahasa, fisika, dan biologi, ruang elektronik, komputer, dan audiovisual ditambah. Di sekolah tersebut sistem pembelajaran dilakukan secara running class. Siswa diperbolehkan mencari ruang kelas sesuai dengan jadwal materi pelajaran yang dipilih. Sikap Mental Hal yang lebih penting, lanjut Peter, pembelajaran tidak hanya mengembangkan aspek kognitif, tetapi juga psikomotorik dan afektif siswa. Dengan sistem itu, penilaian juga tidak sekadar berupa indeks prestasi pelajaran, tetapi juga penilaian portofolio kelas. ''Harapannya, siswa tidak hanya pandai, tetapi memiliki sikap mental yang baik,'' jelasnya. Haryono, Wakil Kepala Bidang Kurikulum SMP Kristen YSKI menandaskan, agar tidak jenuh selama jam pelajaran, dengan satu jam mata pelajaran, para siswa tidak dipantheng. Maksudnya, setiap berganti pelajaran siswa diberi waktu lima menit untuk jeda tanpa mengerjakan apa pun. ''Dengan ada sedikit waktu untuk fresh, pelajaran selanjutnya akan mudah diterima,'' ujar dia.(Arie Widiarto-73c) |