logo SUARA MERDEKA
Line
  Jumat, 12 Maret 2004 Sala  
Line

Cara Sederhana Membasmi Hama (2)

Oli Bekas Berguna untuk Mengatasi Sundep

SERANGAN hama selalu membuat petani pusing. Selain tanaman padinya rusak, juga harus mengeluarkan biaya tambahan untuk membeli obat pembasmi hama.

Sudah lama petani terbiasa menggunakan pestisida kimia buatan pabrik. Mereka kadang tak menyadari, penggunaan pestisida yang terus-menerus bisa berdampak buruk karena hama akan lebih kebal.

Selain itu, obat kimia justru bisa membunuh predator atau musuh alami hama yang disemprot. ''Sekarang hama makin membuat pusing, disemprot dengan berbagai macam obat tidak mati. Padahal, untuk beli obat hama diperlukan dana tambahan yang tidak sedikit,'' kata salah satu peserta pelatihan sistem intensifikasi padi dan pengenalan obat hama alami di Balaidesa Pundungan, Kecamatan Juwiring.

Saat itu kelompok tani Desa Pundungan dan Jetan, Kecamatan Juwiring, dan petani Desa Tegalgondo dan Sukorejo, Kecamaan Wonosari, belajar tentang sistem intensifikasi padi serta pengenalan pupuk organik dan obat hama alami yang ramah lingkungan. Keluhan itu dirasakan oleh hampir semua petani bila lahannya terserang hama. Menurut penuturan mereka, hama sekarang lebih kebal terhadap obat kimia buatan pabrik. Karena itu, berkali-kali disemprot hama tetap muncul.

Contohnya hama sundep yang selalu muncul setiap tahun. Hama tersebut menyerang batang padi sehingga pertumbuhan padi terganggu.

Selama ini petani sering mengandalkan pestisida untuk menyemprot sundep di lahan padinya. Namun lama-kelamaan mereka sadar, telur sundep bisa tahan pestisida.

Selain itu, penggunaan pestisida dikhawatirkan mencemari air dan tanah, sehingga justru membunuh hewan penggembur tanah. Karena itu, kini petani mulai belajar cara membasmi hama yang lebih manjur dan menghemat biaya.

Saat ini sudah dikenalkan obat pembasmi hama alami untuk mengatasi sundep. Caranya sederhana dan murah, namun dibutuhkan kesabaran dan ketelatenan para petani.

Untuk dapat mengatasi perkembangbiakan sundep, petani harus mengetahui siklus perkembangannya. Menurut Dwi Tavip Wiyono yang berpengalaman menerapan pembasmian sundep secara alami, sundep itu berkembang biak dengan telur, kemudian menjadi ulat, kepompong, dan kupu.

Untuk mengendalikan hama tersebut, siklus itu harus diputus. ''Kalau disemport dengan obat kimia, ulat yang berada dalam tanaman sering tidak mati, bahkan telurnya masih bisa menetas walaupun sudah terkena semprotan obat hama. Selain tidak mematikan hama, obat kimia bisa merusak lingkungan,'' kata Dwi Tavip.

Dia bersama kelompok tani Desa Sidoharjo, Kecamatan Polanharjo, pernah melakukan uji coba pemberantasan sundep. Caranya sangat sederhana, namun mampu mengendalikan perkembangan hama perusak batang itu.

''Kupu-kupu sundep itu menyukai cahaya. Mereka akan datang ke arah cahaya. Jadi kami menggunakan lampu petromaks dan oli bekas. Namun kami harus sabar karena cara ini harus dilakukan pada malam hari,'' kata Dwi Tavip.

Lampu petromaks dinyalakan di lahan yang terkena serangan sundep. Tak lama kemudian kupu-kupu akan berdatangan ke arah lampu petromaks.

Untuk menangkap kupu-kupu, petani hanya memerlukan oli bekas yang dituangkan di sekitar lampu petromaks. ''Kupu-kupu yang datang akan terperangkap di oli bekas. Namun cara ini harus diulang setiap kali musim sundep datang. Pengalaman di Sidoharjo, sundep bisa hilang, namun tahun berikutnya dibiarkan, ya muncul lagi,'' ujar Dwi Tavip. (Merawati Sunantri-49c,Bersambung)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA