
| Senin, 8 Maret 2004 | Tajuk Rencana |
Jalan Rusak dan Potret Kendala Daerah- Reportase wartawan harian ini yang disajikan pekan lalu, menampilkan lebih gamblang wajah Kabupaten Grobogan dari sisi potensi sekaligus masalah klasik yang dihadapi. Digambarkan, daerah penghasil beras itu selalu menghadapi masalah yang sama dari tahun ke tahun, yakni banjir pada saat musim hujan dan jalan rusak bergelombang akibat tanah labil. Pemandangan ini nyaris merupakan potret abadi Grobogan yang dikenal luas. Grobogan identik dengan beras sekaligus identik dengan problema akses transportasi. Pernah, dua tahun lalu, ketika masyarakat setempat merasa sudah sampai ke taraf judheg dihadapkan pada kerusakan jalan raya Grobogan-Semarang, sejumlah elemen mengancam untuk ''memisahkan diri'' dari Jawa Tengah.
- Ancaman itu tentu hanya letupan emosi dan main-main. Substansi persoalannya, publik menghendaki problem transportasi ini benar-benar dituntaskan sehingga tidak menjadi kendala bagi masyarakat untuk bermobilitas; dan ini dihadapi rutin setiap tahun. Setiap kali perbaikan jalan tidak pernah bisa menyelesaikan masalah. Perbaikan tidak tahan lama, karena akar persoalannya menyangkut mutu struktur tanah. Apakah ini terkait dengan kapasitas proyek untuk benar-benar melawan kendala alam seperti itu, atau menyangkut teknologi yang tepat bagi struktur tanah di sana, tentu otoritas-otoritas terkaitlah yang lebih berhak untuk menjawab. Wajar jika mereka yang setiap hari membutuhkan jasa jalan raya Grobogan-Semarang mengeluh menghadapi kondisi-kondisi ini.
- Yang jelas, posisi Grobogan sebagai ''gudang beras'' butuh dukungan infrastruktur jalan berkualitas sebagai urat penghubung dengan daerah-daerah di sekitarnya. Semua nyaris menghadapi persoalan yang sama, baik jalan kabupaten maupun jalan provinsi. Kita tahu, alokasi dana dalam APBD Kabupaten ataupun APBD Provinsi tidak mungkin sepenuhnya terkonsentrasi hanya pada proyek perbaikan dan normalisasi jalan. Tetapi juga tidak dapat menutup mata peran vital itu kini banyak terkendala oleh fakta kerusakan yang sangat parah. Sektor-sektor pertanian, perindustrian, dan wisata mutlak membutuhkan dukungan infrastruktur transportasi yang memadai. Secara sederhana, bagaimana mau menawarkan objek wisata Bledug Kuwu tanpa imbangan jalan mulus? - Dengan melihat potensi dan prospek lain di luar predikat ''gudang beras'', menapak usia yang ke-278 Kabupaten Grobogan berambisi menjadi lebih dari sekadar itu. Obsesi Bupati Agus Supriyanto untuk menjadikan wilayahnya sebagai kota perdagangan (bisnis) sekaligus wisata tentu harus dibarengi rencana sistematis rehabilitasi jalan secara total. Bagaimanapun, Grobogan merupakan daerah strategis yang berada di tengah-tengah Kudus, Demak, Kota Semarang, Salatiga, Solo, dan Blora, Posisi ini menggambarkan peran vitalnya dalam peta jalur perdagangan. Peran ''transito'' itu juga menyangkut jalur wisata antardaerah tersebut sebagai potensi yang membuka kemungkinan penanaman modal di bidang jasa, perhotelan, ruko, dan lain-lain.
- Obsesi tidak bisa ditawar-tawar bagi kemajuan suatu daerah. Terlebih lagi pada era otonomi ini, daerah dituntut memacu penggalian potensi-potensi, antara lain dengan menggaet investor. Pemerintah-pemerintah kabupaten kini terkondisi untuk menawarkan daerahnya melalui berbagai media: dari leaflet hingga internet. Juga dengan berbagai kemudahan yang memangkas kekakuan belenggu birokrasi. Sekali lagi, ini mesti diimbangi ketersediaan prasarana vital transportasi. Grobogan masih belum bisa melepaskan diri dari citra jalan rusak yang parah. Benar, rehabilitasi sudah dianggarkan lewat Kimpraswil, tetapi menurut keterangan dari DPRD Jateng, pinjaman luar negeri yang menjadi tanggungan Pemerintah Pusat belum bisa direalisasi pada anggaran tahun ini.
- Di provinsi ini terdapat sejumlah daerah berstruktur tanah labil yang dilintasi jalan penting. Tahun ini diperbaiki, tahun depan kembali parah. Terus-menerus seperti itu yang terjadi. Labilitas struktur tanah diperparah oleh ketidaktahanan jalan terhadap gempuran musim hujan. Selain Grobogan, kondisi serupa kita lihat di sejumlah ruas jalan Welahan yang merupakan alternatif strategis penghubung Demak-Jepara. Beberapa tahun terakhir ini, dengan teknologi beton labilitas itu sedikit banyak bisa dijawab. Terhadap problem tanah di Grobogan, harus dicari konstruksi yang pas. Peran ahli geoteknik perlu dimaksimalkan. Kesadaran betapa penting menopang banyak sektor yang saling terkait antardaerah, tentu butuh prioritas dengan konsentrasi tertentu. |