logo SUARA MERDEKA
Line
  Senin, 8 Maret 2004 Surat Pembaca  
Line

Serba Salah sampai Salah Kaprah

- MA menerima kasasi Akbar Tanjung disalahkan

- Polri yang menjaga keamanan sidang MA disalahkan

- Keputusan hakim PN dan PT disalahkan

- Tuntutan Kejagung disalahkan

- Mantan Presiden Habibie dan Abdurrachman Wachid disalahkan

- Presiden Megawati mulai dipersalahkan

- Mantan Presiden Soeharto lokomotif Orde Baru dan mantan Presiden Soekarno tokoh besar dan lokomotif

Orde Lama maha disalahkan

- DPR, TNI, guru diusir bupati, demo para guru dan pelajar, disalahkan

- Angkatan 66 disalahkan, Di sini terjadi salah kaprah.

Tanggal 14 Februari berlangsung seminar Angkatan '66 di Hotel Jayakarta Yogyakarta. Setelah selesai para panelis berbicara: berdirilah seorang mahasiswa dan berpuisi bla bla, la, la. Dia mengakhiri dengan teriakan "Bubarkan Angkatan 66" .

Saya, Cosmas Batubara, Prof Dr Agussalim dan Dr Fuad kaget. Waduh, telah terjadi persepsi yang keliru tentang Angkatan '66. Ini salah kaprah. Angkatan '66 lahir menyelamatkan NKRI yang berdasarkan Pancasila dan UUD '45 dari pemberontakan komunis PKI dengan G30S-nya.

Angkatan '66 tidak menciptakan musuh. Isunya jelas dan positif. Tidak merangsang dan membuat risiko perpecahan dan perkelahian. Tidak menusuk mental kepribadian saudara sebangsa. Teriakan "Bubarkan Angkatan 66, isu "politikus busuk" akan menebar benih perpecahan dan merugikan Ibu Pertiwi tercinta.

Kaum perempuan dan angkatan reformis mari kita bina kebersamaan, kesejukan hanya dengan kata-kata bersih, isu yang bermakna strategis untuk meneruskan perjuangan bangsa, bangkit dari krisis multidimensi ini.

Janganlah nanti kita semua dipersalahkan oleh sejarah. Berhentilah saling menyalahkan, menebar isu busuk, jangan sampai negeri indah ini mendapat gelar tambahan: "Negeri serba salah dan busuk di luar negeri.

Dr I Nasution
Jl Tentara Pelajar 96 Semarang

***

Wali Kota Magelang

Kalau membaca berbagai media mengenai rapelan guru yang tersendat, arogansi pejabat dan lainnya, saya bersyukur karena Wali Kota Magelang Bapak H Fahriyanto orangnya low profile dan tidak ada sedikit pun kesan arogan. Beliau selalu mendengarkan dan menghargai pendapat orang.

Soal pendidikan beliau mendukung. Masih banyak orang yang tidak arogan dan karena itu setiap pengurus fraksi berhati-hati dalam memilih anggotanya. Saya yakin setiap fraksi mempunyai anggota yang baik dan tidak arogan serta diterima masyarakat. Semua ini demi kesatuan dan persatuan bangsa.

Kunsri Hastuti SH
Jl Pahlawan 28, Magelang

***

Diskriminasi Pendidikan

Berlakunya UU No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional telah memberikan peluang kepada seluruh warga untuk memperoleh pendidikan tanpa diskriminasi. Namun kenyataannya sampai kini masih terdapat diskriminasi antara lembaga pendidikan naungan Depag (madrasah) dan Depdiknas.

Saya melihat kurangnya iktikad baik dari pemerintah (pusat, pemprov dan pemkab/kota) untuk memajukan madrasah. Diskriminasi tersebut hampir terjadi di mana-mana. Program pendidikan lebih menganakemaskan sekolah yang ada di lingkungan Depdiknas dan ini riil. Apakah ini upaya untuk mengerdilkan madrasah.

Contoh kondisi guru, sarana prasarana terjadi perdebatan yang mencolok antara sekolah di lingkungan Depdiknas dan Depag. Kondisi madrasah di mana para gurunya mayoritas wiyata bakti dan gedungnya tidak layak sebagai tempat belajar mengajar.

Berdasarkan pantauan LSM Etika Purbalingga saat ini banyak gedung MI yang hanya layak disebut kandang kambing karena usianya yang sudah tua dan kondisinya rusak parah. Mestinya pemerintah memberikan pelayanan yang adil.

Bagaimana pembelajaran bisa efektif jika kondisinya tidak memungkinkan. Beban (kewajiban) madrasah dengan sekolah umum sama seperti peningkatan mutu, standar nilai, profesionalitas, tetapi mengapa dibedakan. Apa memang pemerintah tidak memahami atau kami harus berteriak setiap hari.

Kalau kita lihat sejarah berdirinya madrasah betapa besar dan mulia peran para tokoh masyarakat dalam mengangkat anak bangsa dengan membekali ilmu, akhlak, keterampilan. Sudah banyak pahlawan bangsa yang dientaskan madrasah dan begitu besar peran masyarakat dalam membesarkan madrasah.

Kami khawatir bila diskriminasi ini dibiarkan maka akan timbul kecemburuan sosial yang akan mengarah pada tindakan destruktif. Pemilu 2004 sebentar lagi. Mestinya partai politik mengangkat contoh kecil ini dan dapat merealisasikannya dan jangan biarkan madrasah menangis.

Bagaimana pun kami juga anak bangsa yang merindukan keadilan. Kami bayar pajak, retribusi. Kepada pihak yang berkompeten dengan pendidian, tolong dengarkan sebab kami juga ingin maju dan pendidikan yang adil.

Miswanto
Kramat Rt 5/Rw 2 Karangmoncol, Purbalingga

***

Trotoarku Sayang

PKL itu ibarat tahi lalat. Kalau letaknya tepat di wajah akan tambah manis tapi kalau tidak... ya jadi jelek. Begitu kata Pak Wali tempo hari. Memang benar sih, tapi kalau andheng-andheng alias PKL-nya banyak dan tak teratur ya jadi berantakan.

Rencana Pemkot memindahkan PKL di sepanjang Imam Barjo perlu disambut baik karena memang di sekitar jalan tersebut kelihatan kumuh dan semrawut. Mintakan saja lahan sedikit di lokasi parkir Undip buat kios-kios yang artistik, pasti kelihatan indah.

Tapi yang jadi masalah Pemkot sering mengabaikan akan hak pejalan kaki. Di mana-mana yang namanya trotoar untuk pejalan kaki tetapi di Semarang seolah-olah diperuntukkan PKL. Tolong diatur agar hak pejalan kaki dikembalikan.

Hal ini mengingat mahasiswa/masyarakat banyak melakukan aktivitas untuk mencari makan, beli buku, pergi-pulang kuliah, fotokopi. Segala kendaraan umum yang lewat Jl Imam Barjo/Jl Kusumawardani, Jl Hayam Wuruk umumnya kencang-kencang jalannya. Juga penerangan jalan lampunya remang-remang.

Saran, Pemkot mengatur agar dapat memenuhi berbagai kepentingan masyarakat ya PKL-nya dapat berjualan, masyarakat mudah mendapatkan, retribusi didapat Pemkot, trotoar berfungsi sebagaimana mestinya. Beri kami trotoar selebar 0,5 meter biar aman dan nyaman jalan kaki.

Rahayuni
Jl Pleburan II/7, Semarang

***

Telepon Fren/Flexi

Lewat Suara Merdeka, saya ingin bertanya kepada operator telepon genggam (HP) yang ada di Jateng/DIY. Di Jateng/DIY muncul operator telepon genggam baru, Fren dan Flexi yang berbasis CDMA. Yang saya tanyakan:

Kalau membaca iklan, telepon Fren bisa menjangkau seluruh Jateng/DIY berarti saya tinggal di daerah Tambak, Banyumas apakah bisa memakai telepon tersebut?. Apakah telepon Flexi nantinya bisa menjangkau di daerah saya juga sebab di wilayah Purwokerto hanya akan dibangun satu buah tower/BTS.

Dan kalau memang benar hanya sebuah BTS apakah di daerah saya bisa terjangkau telepon Flexi yang ''murah'' tersebut?.Di DIY dibangun 12 BTS. Saya mohon informasi akurat dari operator telepon CDMA.

Jamzani
Puskesmas Tambak II Banyumas


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ragam | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA