logo SUARA MERDEKA
Line
  Senin, 8 Maret 2004 Sala  
Line

Hantu Kini Jadi Selebritas

KOTA - Saat ini di dunia pertelevisian Indonesia muncul banyak selebritas yang tak pernah meminta honor untuk muncul di layar kaca. Staf pengajar ilmu komunikasi FISIP Universitas Indonesia (UI), Nina M Armando, menyatakan genderuwo, tuyul, dan sebangsanya telah menjadi selebritas yang selalu muncul di televisi.

"Setiap hari di stasiun TV berbeda muncul sinetron, film, atau program acara lain yang berkait dengan alam gaib. Ada tayangan bersifat fiksi, ada pula tontonan yang seolah-olah kejadian sebenarnya. Tidak hanya kisah-kisah misteri yang dialami seseorang, tetapi juga dokumentasi peristiwa," ujar dia.

Anggota Media Ramah Keluarga (Marka) itu menyampaikan hal tersebut dalam seminar "Pengaruh Tayangan Horor terhadap Pengembangan Akidah dan Kepribadian Anak" yang diselenggarakan SDIT Nur Hidayah, kemarin.

Dia mengemukakan tayangan dunia tidak kasatmata itu berpotensi menimbulkan efek negatif pada anak-anak. Dalam studi kepustakaan komunikasi, kata dia, jika banyak orang dewasa menikmati film seram dan menganggapnya sebagai hiburan, anak-anak umumnya menganggap sebaliknya. Secara emosional, itu memunculkan rasa takut pada anak.

Penggunaan media, kata dia, sering tidak terencana dan tidak disadari. Setiap kali ada waktu luang, orang akan langsung merebahkan diri di sofa dan menekan tombol TV.

Penting

"Di banyak rumah menyalakan TV merupakan kegiatan baku sejak subuh hingga tengah malam. Kita bisa tidak peduli terhadap tayangan apa, termasuk tayangan mistik," katanya.

Itu terjadi karena banyak warga masyarakat menganggap mengonsumsi (membaca, menonton, atau mendengar) lebih penting daripada isi media. Karena itu yang perlu dilakukan sekarang adalah menjadi pencari isi, yaitu menggunakan media hanya karena butuh isi media yang dianggap penting.

"Tak ada hal lain yang dapat kita lakukan selain bersikap seletif terhadap media. Perlu penanaman gagasan, kita tidak menonton televisi, tetapi memilih acara yang disajikan," katanya.

Pembantu Dekan III Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Drs Sholeh Amini Yahman MSi, menyatakan tayangan horor dipandang orang dewasa sebagai upaya berpetualang. Rasa takut kadang perlu sebagai katarsis. Hal itu dapat terjadi karena mereka memiliki logika berpikir dan kesadaran akalnya telah tersusun lengkap dan sempurna. Lain dari anak-anak yang menganggap tayangan itu sebagai realitas.

"Apa yang ditonton itu akan membawa anak ke kehidupan menegangkan dan menakutkan sehingga selalu dihinggapi perasaan takut karena bayang-bayang isi tontonan tersebut," kata dia.(F11-86g)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ragam | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA