
| Senin, 8 Maret 2004 | Sala |
Giok Dinasti Ming Jadi Perhatian PengunjungAROMA dupa dan wangi bunga memancar semerbak di ruang pendapa Kabupaten Wonogiri. Nuansa bau dupa dan bunga ini seakan membangun suasana magis menyertai digelarnya pameran dan bursa tosan aji yang diselenggarakan dalam rangka memeriahkan Gelar Wisata Budaya Bulan Sura 1937, Tahun Wawu. Bupati H Begug Poernomosidi SH, Minggu pagi kemarin membuka Pameran dan Bursa Tosan Aji ini yang ditandai dengan pengguntingan untaian bunga melati. Dalam pameran itu Bupati pun ikut unjuk koleksi dengan mengeluarkan lebih dari 300 pusaka. Wujudnya banyak didominasi keris berbagai ukuran dan beragam pamor. Disertakan pula koleksi samurai Jepang, pedang Amerika, pedang Arab, cundrik, dan beragam tombak. Banyak pengunjung pameran tertarik pada pusaka koleksi Bupati yang ternyata banyak jenisnya itu. ''Ini namanya bukan pameran tosan aji lagi, tetapi sudah menyerupai museum pusaka,'' ucap beberapa pengunjung. Suyanto, salah seorang pengunjung, memuji lay out pameran yang tidak monoton karena disajikan dalam etalase kaca, juga ada yang disajikan dalam kotak-kotak kaca transparan untuk menata keris dalam posisi vertikal. Di sisi lain, juga disuguhkan pajangan keris dalam posisi miring yang bilahnya sengaja dihunus bersanding dengan kerangkanya. Ada tempat khusus untuk meletakkan samurai dalam posisi vertikal bertingkat, bagai penyimpanan samurai di doyo-doyo dalam dunia persilatan ninja. Sebagian lainnya sengaja dijejer berdiri di atas lesung kayu kuno yang dihiasi ornamen kain merah putih. Azimat Panitia Pameran dan Bursa Tosan Aji 2004, Drs Pranoto MM mengatakan, arena ini bukan sekadar memajang berbagai jenis pusaka untuk dipamerkan, melainkan juga menyediakan outlet khusus untuk memajang pusaka dan segala aksesorinya untuk dijual kepada umum. Selain itu, aneka batu mulia dan suseki juga dipajang dan dijajakan. Selain pajangan keris-keris pusaka, dipamerkan pula aneka azimat seperti kendogo mirah delima, batu rubah dan pring (bambu) tembus, milik kolektor abdi dalem Keraton Kasunanan, RT Purnomo Tondo Nagoro SE. Di sisi lain juga dipamerkan meja bundar batu giok seberat 67,7 kg. Benda ini peninggalan Dinasti Ming, China. Ketika dari bawah dinyalakan lampu listrik menyorot ke atas tampak dalam meja batu itu gambar lukisan Dewi Kwan In dilingkari cakra yang memancar dari dalam batu giok dan beberapa tulisan huruf China yang diyakini sebagai bait mantra untuk memohon kedamaian, keberuntungan, dan rezeki dari Yang Mahakuasa. Pada empat penjuru mata angin batu giok itu dari dalamnya juga muncul lukisan empat naga. ''Keajaiban'' batu giok itu menjadi pusat perhatian tersendiri dari para pengunjung. Melengkapi koleksi batu giok milik Drs Pranoto MM ini dipamerkan pula keris lurus berpamor huruf China dan diyakini sebagai peninggalan Dampo Awang. ''Maaf kalau ini sekadar ikut dipajang untuk memeriahkan pameran tosan aji. Tidak dijual karena merupakan harta warisan dari kakek moyang saya,'' kata Pranoto. (Bambang Pur-14n) |