logo SUARA MERDEKA
Line
  Senin, 8 Maret 2004 Sala  
Line

22 Kereta Kencana Meriahkan Kirab Pusaka

WONOGIRI- Prosesi kirab ageng pusaka yang digelar untuk mengawali ritual jamasan di Wonogiri, Minggu kemarin dimeriahkan tampilnya 22 kereta kencana.

Selain itu barisan prajurit Sorogeni bersenjata tombak dan pedang, serta grup drum band kuno dari Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Juga disambung dengan barisan prajurit Irotono dari Mangkunegara Solo.

Kemegahan kirab yang digelar dalam kegiatan wisata budaya bulan Sura 1937 Tahun Wawu ini, menjadi peristiwa menarik dalam prosesi kirab pusaka yang ditradisikan sejak 1985 di Wonogiri.

Kehadiran 22 kereta itu terdiri atas empat kereta kencana yakni yang dinaiki Bupati, Ketua DPRD, Muspida, dan Sekda. Disusul 18 kereta kuda jenis andong yang dihias menjadi ''kereta kencana'' yang membawa para kepala dinas, badan dan instansi.

Penyelenggaraan prosesi kirab dan jamasan pusaka kali ini terhitung berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Sebab kecuali mengarak dan menjamas pusaka-pusaka andalan milik Pangeran Sambernyawa (Mangkunegara I), kali ini juga menyertakan pusaka-pusaka dari Keraton Kasunanan Surakarta.

Ada sembilan pusaka dari Keraton Kasunanan Surakarta yang atas perkenan Sinuhun Pakubuwono XII, diikutsertakan dalam prosesi kirab dan ritual jamas di Wonogiri.

Kesembilan pusaka tersebut diserahkan oleh abdi dalem Kasunanan kepada KRHT H Lakgiyatmo Yatmo Dipuro SE MM dan Bupati Wonogiri Begug Poernomosidi SH. Penyerahan pusaka dari Mangkunegaran yang dilakukan RMT Sumarso Sutjito selanjutnya diserahkan kepada Manggala Kirab RT Sumarno SH MM.

Dari Mangkunegaran Solo, pusaka yang diserahkan terdiri atas tombak Kiai Totok dan Kiai Jagur (Baladewa) serta keris Korowelang, yang diambil dari tempat penyimpanan Tugu Menumen Nglaroh Selogiri. Saat menuju ke pendapa kabupaten, rombongan Ngalroh Selogiri dipimpin Camat Drs Sutarto Indratno, dan diarak dengan sembilan kereta kuda sejak dari Klampisan.

Demikian halnya dengan rombongan pembawa pusaka asal Bubakan, Kecamatan Girimarto, terdiri atas keris Semar Tinandu dan tombak Kiai Limpung, diarak sembilan kereta kuda sejak dari Bantarangin.

Saat kedua rombongan dari dua penjuru angin itu bertemu di Pendapa Kabupaten Wonogiri, selanjutnya secara berurutan dilakukan prosesi kirab ageng (besar) dengan menyusuri jalan protokol Kota Wonogiri. Dan, mendapatkan tambahan empat kereta kencana yang diberangkatkan dari pendapa Kabupaten Wonogiri.

Ikut serta dalam kirab, komunitas kerabat Mangkunegaran dari Kaliwerak Wonogiri pimpinan RM H Suryanto BA yang membawa serta pusaka tombak Kiai Bancak.

Kiai Singkir

Dari Kabupaten Wonogiri, menyertakan pusaka gong Kiai Kebogiro Mendung Eka Dayawilaga, tombak Kiai Tunjung Biru dan Kiai Singkir. Prosesi kirab diberangkatkan dengan juru pengatur arak-arakan, MNg Lasiman. Menyertakan pula prajurit Mangkunegaran pemikul usungan joli, ratusan putri domas, para juara pemilihan putri wisata, lima grup drum band pelajar. Juga barisan penari kethek ogleng, punggawa baku kawan dasa jaya, ratusan pangombyong yang terdiri atas para abdi dalem keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan paguyuban kawula Surakarta (Pakasa). Selain itu para trah dari Himpunan Kerabat Mangkunegaran (HKMN) Surya Sumirat, barisan pelajar SMA 2 berpakaian kejawen, para kepala dinas badan dan instansi, dan semua camat dan para tokoh masyarakat.

Arak-arakan kirab serasa tak putus-putus, karena disusul oleh barisan seniman-seniwati dari berbagai pelosok Wonogiri. Seperti barisan kelompok kesenian tradisional Oklik, Lerok-Srandil, reog, dan barisan para olahragawan bela diri tangan kosong dari berbagai aliran persilatan.

Sekda Wonogiri Drs Mulyadi MM selaku Ketua panitia gelar wisata budaya bulan Sura mengatakan, jumlah peserta kirab kali ini 1.937 orang. Yakni jumlah yang sesuai dengan tahun Jawa 1937. ''Semakin tahun kirab dan jamas pusaka kian bertambah meriah. Sebab banyak pihak yang berperan serta untuk kesuksesan wisata budaya itu,'' katanya.

Jamas pusaka dilaksanakan di objek wisata Waduk Gajahmungkur Wonogiri, dilakukan para abdi dalem dari Reksa Warasta Kadipaten Mandrapura Mangkunegaran Solo, terdiri atas MNg Riyadi, MNg Suyatno, MNg Sri Hartono, MNg Suparman, dan MNg Yahmanto. Bersamaan dengan jamasan pusaka, digelar pula ritual ruwatan massal dengan mementaskan wayang kulit lakon Murwakala oleh dalang Ki Lilik Guna Hadi Prono.(P27-14s)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ragam | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA