
| Senin, 8 Maret 2004 | Sala |
Kiai yang Suka Menyendiri Itu MatiKERATON SURAKARTA- Kiaine, panggilan akrab kerbau bule jantan bernama Kiai Slamet yang suka menyendiri beberapa tahun terakhir, di desa-desa sekitar Solo Baru, Grogol, Sukoharjo, menemui ajal. Tanpa ada tanda-tanda serius sebelumnya, warga Desa Madegondo mendapati kerbau jantan berbobot kurang lebih 400 kg itu terbujur kaku di sebuah gang desa tersebut, Sabtu pagi. Menurut warga sekitar, kematian kerbau yang suka tinggal berpindah di kandang-kandang kerbau piaraan warga di desa tersebut dianggap kehilangan harta. Sebab dalam hal yang sepele saja, kelangenan dalem Sinuhun Paku Buwono XII itu telah memberikan keturunan sejumlah gudel (anak kerbau-Red) bagi warga setempat, dengan ciri khas berkulit bule atau putih. Suciman (53), warga Desa Gedangan menyebutkan, di antara empat ekor kerbaunya, dua gudel yang dimiliki adalah bule. Yakni hasil perkawinan dua induknya dengan Kiaine. Kemudian ada belasan peranakan, dan beberapa sudah dewasa (usia sekitar 10 tahun), diyakini juga hasil petualangan Kiaine. "Kiaine niku nek empun betah enten ngriki, enggih mesti enten kebo sing ajeng meteng. Keturunanne mesti bule. Niku diwestani ngalab berkah enggih saget, mboten enggih saget. Ngoten niku tergantung kapitadosan," tutur Suciman menceritakan petualangan Kiaine, karena kandang kerbaunya sering dijadikan tempat menginap kerbau piaraan Keraton itu. Sabtu siang, kerbau yang suka bertualang di seputar Solo Baru dan emoh bergabung dengan enam ekor lain tersebut, sudah dikuburkan di halaman Sitinggil Kidul. Meski tidak mau pulang di kawasan Alun-alun Kidul, satwa yang diperkirakan berusia 25 tahun itu sering dijenguk Kampret (54), pawang kerbau yang sangat sayang kepada Kiaine. Melahap Apel Bertualang dan suka nginap di kandang-kandang kerbau milik warga, ada yang disikapi positif tetapi juga sebaliknya. Sebab sering pula pejantan itu masuk tegalan atau sawah dan memakan seenak hati tanaman seperti padi, tanaman singkong, dan pisang. Bahkan pernah melahap dagangan apel di sebuah warung dekat Perumahan Gedangan Indah (Grogol) hingga ludes, sementara wanita pedagangnya lari terbirit-birit. Melihat pemandangan seekor kerbau bule gagah bertanduk nyrapang dan bertubuh gempal masuk sawah atau tegal di desa-desa itu, dalam keseharian seperti hal biasa bagi warga. "Tiyang mriki empun apal kok Mas. Paling-paling enggih nedha sekedhik, mboten ditelaske. Terus mengke alihan. La wong medhane kalih mlampah, ngetutke kancane sing ajeng wangsul kandang. Ning enggih enten sing mboten remen terus nggusah, nyawati, lan neggegiri," ujar Mbah Kasmo Rejo dalam bahasa Jawa krama madya menceritakan sepak-terjang Kiaine di desanya. Bagi Wakil Pengageng Parentah Keraton Surakarta, GPH Puger, kematian satu di antara delapan ekor kawanan Kiai Slamet adalah hal yang wajar. Mengingat kerbau tersebut satu-satunya generasi kedua yang berusia paling tua. "Saya diberi tahu kerbau itu mati hampir tanpa ada tanda-tanda sakit. Karena sehari sebelumnya masih saba (berkeliaran-Red). Meski demikian sekarang berjumlah tetap, karena ada satu induk yang beranak. Dua ekor lagi dipinjam kerabat dipelihara di Purwodadi," tutur putra dalem yang akrab disapa Gusti Puger itu.(Won Poerwono-86s) |