logo SUARA MERDEKA
Line
  Senin, 8 Maret 2004 Liputan Pemilu 2004  
Line

Peta Pemilu 2004 di Jawa Tengah (19)

Kantung-kantung ''Hijau'' Berserakan

SECARA geografis, DP Jateng-10 yang terdiri atas Batang, Pemalang, serta Kota/Kabupaten Pekalongan, berada pada jalur yang sangat strategis yaitu jalur transportasi urat nadi pantai utara (pantura). Konsekuensinya, partai politik pun akan bermain secantik mungkin untuk meraih pendukung sebanyak-banyaknya.

Secara keseluruhan, jalur ini memang dikuasai kaum nasionalis. Terbukti dalam Pemilu 1955, PNI memperoleh suara mayoritas di keempat daerah tersebut, dengan mengungguli Partai Nahdlatul Ulama (NU).

Begitu pula yang terjadi dalam Pemilu 1999, ketika PDI-P menguasai 36 dari 45 kecamatan yang ada di DP Jateng-10. Sedangkan PKB hanya mampu menguasai lima kecamatan, PPP tiga kecamatan, dan Partai Golkar satu kecamatan.

Tetapi menengok pelaksanaan pemilu sepanjang Orde Baru, khususnya setelah fusi kepartaian (1973-1997), PPP selalu mengungguli Golkar di Kota Pekalongan. PPP hanya kalah pada Pemilu 1987, menyusul aksi penggembosan oleh NU melalui hasil Muktamar Situbondo (1984).

Lima tahun lalu pun, PPP mampu mengimbangi PDI-P. Partai berlambang Kakbah ini meraih dukungan 26,2 persen, sementara PDI-P 32,7 persen. PPP juga menempati urutan kedua di Pemalang. Di kedua daerah ini, PKB berada di peringkat ketiga. Sedangkan di dua daerah lain, Batang dan Kabupaten Pekalongan, peringkat kedua ditempati PKB, sementara PPP di urutan ketiga.

Hal ini menunjukkan, kantung-kantung ''hijau'' masih berserakan di Jateng-10. Sebagian dipungut PPP dan sebagian lagi dikelola PKB, dengan porsi yang hampir setara. Kantung hijau ini kebanyakan merupakan warga nahdliyyin.

Mengingat rivalitas kedua partai itu makin sengit, nampaknya PDI-P justru akan mendapat ''berkah terselubung''. Andai suara warga NU terfokus pada salah satu partai (PPP atau PKB), diyakini perolehan suara akan mengungguli PDI-P. Tetapi ini sangat mustahil, dan tentunya mengingkari hakikat demokrasi itu sendiri.

Sementara suara kebanyakan warga Muhammadiyah tetap bermuara ke PAN, yang pada keempat daerah ini hanya menempati peringkat kelima. Untuk mendongkrak jumlah suara, dengan pemetaan yang gamblang seperti di atas, diperlukan strategi yang jitu dari masing-masing partai.

Meski PDI-P mendapat ''berkah terselubung'' dari persaingan PKB dan PPP, bukan berarti partai-partai lain tak bisa mencuri suara dari kandang banteng. Sebab, seperti kecenderungan di daerah lain, banyak warga PDI-P yang hengkang ke lain partai. Baik yang kecewa dalam proses pencalegan maupun kecewa melihat kinerja pemerintahan di bawah kendali partai tersebut.

Kursi DPRD

Di Batang misalnya, partai-partai berbasis nasionalis di luar PDI-P berpeluang mendapat kursi di DPRD kabupaten. Apalagi dalam Pemilu 1999, PNI Massa Marhaen dan PNI Front Marhaenis sama-sama meraih satu kursi. Kendati keduanya kini tak lolos verifikasi oleh KPU, sehingga gagal mengikuti pemilu, namun suara mereka diperkirakan akan mengalir ke PBNK, PNI Marhaenis, dan Partai Pelopor.

Persaingan sengit akan terjadi di DP Batang-3 yang meliputi Kecamatan Tersono, Gringsing, dan Limpung. Sebab, tiga pucuk pimpinan parpol yaitu Ketua DPC PPP Saroji SE, Ketua DPC PKB Drs M Sulton, maupun Ketua DPD PAN Yuswanto sama-sama menjadi caleg nomor satu. DP ini menyediakan 10 kursi, sehingga peluang mereka untuk terpilih sangat besar.

Ketua DPC PDI-P Bambang Bintoro SE menargetkan 20 kursi di DPRD. Strategi yang diterapkan antara lain mendekatkan diri pada konstituen. Makin sering bertemu, akan meningkatkan kepercayaan masyarakat kepada para caleg.

Bambang, yang juga bupati Batang, mengatakan partainya menampilkan wajah-wajah baru dari kalangan pengusaha, purnawirawan, maupun praktisi. Di antara mereka, ada yang merupakan public figure

Optimisme serupa yang diembuskan PKB, melalui Wakil Sekretaris DPC M Riyaldul Rizal. ''Insyaallah kursi PKB akan bertambah. Kalau dulu hanya mendapat delapan kursi, tahun ini 14 kursi,''ujarnya.

Strategis yang diterapkannya, selain meningkatkan konsolidasi internal, juga menjalin komunikasi dengan komunitas di luar NU, seperti jaringan mahasiswa, LSM, maupun kelompok tani dan nelayan.

Mengurung PDI-P

Empat partai besar di Pemalang kini mulai mengurung PDI-P, yang dalam Pemilu 1999 meraih 40,5 persen suara. PPP, misalnya, ingin mengundang simpati massa dengan menerapkan kampanye simpatik, tanpa memobilisasi massa besar-besaran.

''Kami akan mengedepankan intelektualitas dan rahmatal lilalamin,'' kata Sekretaris DPC PPP Muntoha SH.

Kalau dalam pemilu lalu meraih delapan kursi, dan berada di urutan kedua, kali ini PPP mengincar 12-13 kursi. Tambahan suara itu diharapkan dari semua daerah pemilihan, terutama di DP V yang merupakan daerah kantong hijau.

Ketua AMPG dan Bendahara DPD Golkar, HM Rois, pun yakin jumlah kursi partainya akan bertambah. Sebab persiapan menghadapi Pemilu 2004 lebih baik dibandingkan lima tahun lalu. ''Dulu kami dalam keadaan tertekan, namun alhamdulillah masih bisa memperoleh enam kursi. Target kami sekarang delapan kursi,'' ujarnya.

PAN, yang sebelumnya hanya mendapat dua kursi, juga berambisi menambah jumlah kursi di Dewan. ''Insya Allah tujuh kursi,'' ungkap Ketua DPD PAN, Drs Bambang Agus Rochim. Realistiskah?

Menurut Bambang, prediksi itu didasari kondisi masyarakat sekarang yang makin cerdas dalam menyalurkan aspirasi politiknya. Selain itu, kegiatan sosialisasi partainya dilakukan secara kontinyu dalam dua bulan terakhir ini.

Bagaimana sikap PDI-P menghadapi ''kepungan'' empat partai besar? ''Persiapan kami justru sangat mantap. Karena itu, kami ingin mendapat sedikitnya 24 kursi di DPRD,'' tutur Ketua DPC PDI-P, HU Kumpul Sutrisno. (Arif Suryoto, Saiful Bachri, Trias Purwadi, M Burhan-48)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ragam | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA