
| Senin, 8 Maret 2004 | Semarang & Sekitarnya |
Kampanyekan Pilih Caleg PerempuanAPA yang diserukan oleh Dr Agnes Widanti S SH CN mungkin akan dipandang nyinyir oleh para caleg yang berjenis kelamin pria. Pasalnya, dia dengan tegas menyerukan perempuan Indonesia hanya memilih calon perempuan dalam pemilu 2004 mendatang. ''Sebagai perempuan kita harus fight di dalam masyarakat yang masih patriakal ini,'' katanya. Menurut dia, hanya dengan gerakan perempuan pilih perempuan keadaan seperti sekarang ini bisa berubah. Dominasi pria yang cukup tinggi di lembaga pemerintahan menyebabkan keputusan yang diambil oleh legisilatif dalam perundang-undangan selama ini masih dipegang oleh phallocentric (dominasi pria). ''Budaya politik yang patriakal menyebabkan perempuan selalu menjadi pihak yang disalahkan dalam perlindungan hukum,'' katanya sambil menunjukkan bukti belum disahkannya RUU Antiperdagangan Perempuan. Permasalahan ini bertambah parah dengan mitos masyarakat yang selama ini memosisikan perempuan selalu nomor yang kesekian kali di bawah pria. ''Akses perempuan di ruang-ruang publik masih sangat terbatas, karena kungkungan budaya patriakal ini.''
Akibatnya, menurut dia, meski pemilu di Indonesia yang telah berlangsung tujuh kali dengan keterwakilan perempuan di legislatif yang cenderung meningkat, namun tidak diikuti oleh bertambahnya pemenuhan kepentingan praktis dan strategis bagi perempuan. Karena itulah, dirinya gencar melakukan penyuluhan tentang perempuan pilih perempuan di 19 desa/kelurahan di Kota dan kabupaten Semarang. Ada beberapa faktor yang mendasari pemikiran dosen Unika Soegijapranata ini mengampanyekan ''Perempuan memilih perempuan'' dalam pemilu 2004 ini. Antara lain, jumlah perempuan di Indonesia lebih besar, perempuan memiliki manajerial yang cenderung lebih bersih. ''Perempuan akan membawa suasana lain dibanding sekarang ini,'' katanya di sela-sela simulasi pemilu kepada siswa SMA se-Kota Semarang di kampus Unika Soegijapranata, Sabtu lalu. Namun dia mengingatkan jangan memilih legislatif perempuan membabi buta. ''Jangan asal perempuan lo,'' tandasnya. Karena apabila itu yang terjadi, keadaannya tidak berbeda jauh dengan sekarang. Dia menyayangkan beberapa perempuan yang cukup layak untuk duduk di kursi legislatif tahun 2004 tidak bisa maju, karena tidak adanya dukungan dana yang cukup.(Widodo-45) |