logo SUARA MERDEKA
Line
  Senin, 8 Maret 2004 Semarang & Sekitarnya  
Line

Upacara Merti Dhusun di Desa Mluweh

SAAT melihat persiapan pentas wayang kulit di Desa Mluweh Kecamatan Ungaran, Kabupaten Semarang beberapa waktu lalu, muncul pertanyaan besar di kepala saya. Bukankah ini bulan Sura yang dikeramatkan masyarakat Jawa? Jika pementasan itu untuk hajat khitanan atau pernikahan, amboi betapa luar biasa.

Baru setelah mendapat keterangan dari seorang warga, saya pun mahfum, karena pentas itu merupakan bagian dari upacara Merti Dhusun (bersih desa).

Menurut Mohammad Karjuni (40), modin desa setempat,Merti Dhusun adalah tradisi yang dilakukan sebagai wujud rasa syukur kepada Tuhan atas berkah dan rejeki yang mereka terima, serta untuk menyingkirkan bala. Sebenarnya, Merti Dhusun di Desa Mluweh dilaksanakan setiap tahun pada hari Jumat Wage di Bulan Apit pada penanggalan Jawa. Namun untuk tahun ini warga bersepakat mengundurnya hingga Bulan Sura. Hal ini dilakukan karena banyak warga desa yang melaksanakan hajatan pada Bulan Apit dan Besar. Untuk menyelenggarakan upacara ini, warga melakukan iuran yang besarnya antara Rp 5.000 hingga Rp 10.000 per kepala keluarga.

Sinden Laki-laki

Ada keterkaitan antara Merti Dhusun dengan kepercayaan terhadap sosok dhanyang desa. Mereka meyakini, sang dhanyang berjenis kelamin perempuan. Konon dia senantiasa mengenakan pakaian berwarna hijau pupus gadhung. Untuk itu sebagian warga percaya, para pamong desa beserta istri pantang memakai pakaian warna tersebut. Juga dalam pementasan wayang kulit maupun kethoprak yang diselenggarakan di Desa Mluweh tidak boleh menggunakan sinden perempuan.

Konon pada masa lalu, sebuah pementasan kethoprak menggunakan sinden perempuan. Di tengah pementasan, tiba-tiba terdengar jeritan suara tanpa wujud. Usai acara, saat sang sinden pulang ke rumah, seekor ular menggigit kakinya hingga meninggal dunia. Tak berselang lama, hasil panen warga desa tidak memuaskan.

Untuk itu dalam pementasan wayang kulit kali ini mereka mengundang Triyono, sinden laki-laki bersuara perempuan dari Banyuurip Temanggung. Dialah sinden yang selama beberapa tahun terakhir menjadi langganan warga Desa Mluweh. Sementara dalangnya dua orang. Siang hari Ki Jumian, dari Desa Mluweh sendiri. Malam harinya Ki Wisnu, dalang asal Sleman Yogyakarta. Mereka membawakan lakon ''Srimulih'', sebuah cerita yang diambil dari kitab Mahabharata. Lakon ini berkisah tentang dewi kesuburan, Sri Pohaci. (Rukardi-84)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ragam | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA