logo SUARA MERDEKA
Line
  Senin, 8 Maret 2004 Semarang & Sekitarnya  
Line

''Masak Harus Nyoblos Tujuh Kali...''

MIJEN-Warga RW 7 Kelurahan Mijen, Kecamatan Mijen, Minggu kemarin secara swadaya berisisiatif melakukan simulasi pemungutan kartu suara. Menurut Ketua RW Junaedi SH, acara dikemas semirip mungkin dengan kondisi 5 April nanti.

''Selain warga, simulasi ini untuk persiapan para petugas nantinya. Jadi katakanlah ini semacam geladi bersih pemilu,''katanya.

Menurut dia, simulasi ini penting karena prosesi pemilu 2004 sangat berbeda dengan pemilu sebelumnya. ''Sebagian besar pemilih di RW ini adalah orang tua berusia lanjut dan pemilih pemula.''

Sebelum pencoblosan, para petugas disumpah terlebih dahulu. Kemudian kotak suara dibawa ke TPS dengan kawalan hansip. Para pemilih juga diingatkan bahwa proses pencoblosan dimulai pukul 07.00-13.00. Antusiasme masyarakat terlihat dari penuh sesaknya acara tersebut. Beberapa ibu yang berusia lanjut dengan tertib antri untuk masuk tempat pemungutan suara. Di antara mereka juga ada yang membawa caping, orang yang cacat, bahkan ada pula remaja.

Kepala kelurahan Mijen Sutarto SIP MAP mengatakan, petugas TPS hanya menerima Rp 150.000 tiap TPS. ''Uang sebesar itu jelas tidak mungkin untuk menutup seluruh pembiayaan penyelenggaraan pemilu,'' katanya.

Untuk itu, dirinya menyambut baik inisiatif warga yang secara tulus membiayai kekurangan pelaksanaan pemilu. ''Para pemilih sebaiknya mencoblos 7 kali,'' kata Hakim Junaedi dari KPU Kota Semarang sebelum acara dimulai. Sebanyak 7 coblosan itu masing-masing untuk tanda partai dan caleg DPR RI, foto calon DPD, gambar partai dan caleg DPR Provinsi serta gambar partai dan caleg DPRD.

Salah satu peserta lanjut usia Hadi Suparno (78) mengatakan, kesusahan membuka lipatan surat suara.''Lipatannya banyak, tidak seperti dulu.''

Menurut dia, pemilu kali ini lebih rumit dibanding pemilu yang pernah dialaminya. ''Masak harus coblos tujuh kali, bisa pegal tangan ini, membukanya saja susah,''katanya.

Dia menambahkan, kesulitannya bertambah dalam bilik suara yang berbentuk empat persegi panjang dengan ukuran kurang lebih 80 X 30 cm yang dianggapnya terlalu kecil.

''Tidak imbang dengan besarnya surat suara, orang lain bisa tahu apa yang kita coblos, '' ujarnya was-was.

Dalam simulasi tersebut juga diperagakan adanya huru hara yang dilakukan pendukung partai tertentu atas hasil pemungutan suara dan juga pemilih yang cacat buta yang harus mencoblos didampingi petugas. (wid- 84)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ragam | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA