
| Senin, 8 Maret 2004 | Jawa Tengah - Pantura |
Masyarakat Belum Pahami Reformasi dan DemokrasiPEKALONGAN - Wali Kota Pekalongan Drs H Samsudiat MM mengatakan, penyelenggaraan Pemilu 2004 ini berlangsung pada nuansa masyarakat yang masih belum memahami hakikat reformasi dan demokrasi. ''Reformasi masih dipandang sebagai kebebasan berbuat sesuatu tanpa dibatasi oleh norma-norma dan hukum. Demokrasi masih lebih banyak mengedepankan hak-hak, bukan kesimbangan antara hak dan kewajiban,'' kata dia. Hal itu dia ungkapkan dalam sambutan tertulis yang dibacakan Kepala Kesbang Linmas Sutomo SSos pada seminar di Universitas Pekalongan, Sabtu. Sebagai narasumber dalam acara tersebut Basir, anggota KPU Kota Pekalongan. Menurut Wali Kota, kondisi itu harud disikapi secara arif, di samping perlu sosialisasi yang berkesinambungan kepada masyarakat tentang kehidupan politik, berbangsa, dan bernegara. Hal itu sangat penting karena dengan sosialisasi tentang pemilu, wawasan masyarakat tentang politik, bangsa, dan negara akan bertambah. Mereka pun bertambah dewasa untuk menentukan kehidupan berpolitik, berbangsa, dan bernegara. Pemilu, menurut dia, merupakan proses politik untuk mewujudkan tatanan kehidupan yang demokratis. Karena itu berbagai persiapan yang dilakukan dalam tahapan Pemilu 2004, harus menjamin pelaksanaan pemilu yang jujur dan adil, serta tidak membuka peluang terjadinya kecurangan. Persiapan awal yang dilakukan adalah pendataan penduduk dan pendaftaran pemilih yang dilaksanakan pada Maret 2003. Pendataan penduduk ini dilaksanakan bersama Biro Pusat Statistik, KPUD, dan pemerintah daerah. Sebagai fasilitator, pemerintah tidak hanya berdiam diri dan menyerahkan segala sesuatunya kepada KPU sebagai penyelenggara Pemilu 2004. Pemerintah beserta seluruh jajarannya bersikap proaktif membantu program-program yang dicanangkan oleh KPU dalam rangka menyukseskan Pemilu 2004, baik dari segi materi, moral, maupun finansial.(A15-17i) |