logo SUARA MERDEKA
Line
  Senin, 8 Maret 2004 Jawa Tengah - Banyumas  
Line

Rakit Kotak Suara, KPU Rekrut 36 Sukarelawan

BANJARNEGARA - Besar Pamuji (36) pegawai tidak tetap (PTT) di lingkungan Setda, sejak Sabtu lalu terpaksa pulang rumah sampai larut malam. Hampir tiap hari mulai pukul 08.00-23.00 termasuk hari Minggu (7/3) kemarin, dia lebih banyak berada di Gedung Wanita, Jl Praja.

Bekerja lemburkah dia? Setidaknnya begitu-lah. Warga Desa Blambangan Kecataman Bawang Kabupaten Banjarnegara itu, termasuk salah seorang dari puluhan orang sukarelawan yang direkrut KPU menjadi perakit kotak suara Pemilu 2004.

"Honornya memang tidak seberapa, tapi cukup lumayan untuk menambah penghasilan," katanya kepada Suara Merdeka, kemarin.

Bagi PTT Pemkab yang berhonor Rp 200 ribu/bulan itu sejak awal berharap bisa direkrut menjadi sukarelawan perakit kotak suara. Beruntung, Pemilu kali ini, bapak dua anak itu mendapat kepercayaan membantu merangkai sarana pemilu.

"Kalau bisa jangan cuma merakit kotak suara. Saya siap membantu menyortir dan melipat kartu suara nanti, jika masih dibutuhkan," harap dia.

Rabu (3/3) lalu, KPU Kabupaten Banjarnegara menerima kiriman kotak suara sejumlah 11.036 unit. Ribuan kotak suara yang diangkut dengan tujuh truk secara bergelombang itu, masih terlipat di dus sehingga untuk merakitnya butuh beberapa sukarelawan.

Susatyo dan Slamet, staf sekretariat KPU yang bertugas mengoordinasi para pekerja mengatakan, meski disebut sukarelawan, para merakit kotak suara itu tetap dihonor sesuai jumlah kotak suara yang dihasilkan.

Rencana semula para pekerja itu diberi honor Rp 500/kotak suara, ditambah uang makan (siang) sekali, Rp 3.000/orang. Namun setelah dipertimbangkan, honor dinaikkan menjadi Rp 700/kotak suara dengan catatan tanpa mendapat uang makan.

"Dengan honor Rp 700/kotak suara, uang yang mereka terima lebih banyak. Di samping itu, sekretariat KPU tak perlu repot menyediakan makan. Mereka boleh mencari sendiri di luar saat istirahat," tambah Susatyo.

Untuk merakit kotak suara, lanjutnya, sekretariat KPU hanya merekrut 36 orang. Mereka dibagi empat kelompok. Kelompok satu menangani kotak suara DPRD Kabupaten/Kota, kelompok dua kotak suara DPRD Provinsi, kelompok tiga kotak suara DPD dan kelompok empat kotak suara DPR Pusat.

"Seorang sukarelawan rata-rata mampu merakit 40 buah/hari. Pekerjaan ini kami perkirakan selesai sekitar seminggu," katanya.

Ketika merakit kotak suara, sukarelawan yang direkrut baru puluhan orang saja. Saat penyortiran dan pelipatan surat suara, kemungkinan akan merekrut lebih banyak lagi karena yang akan dilipat sekitar 3 juta lembar.

Asumsi dia, jumlah pemilih di kabupaten sekitar 600 ribu. Berarti surat suara yang haus dilipat sebanyak empat kali dari jumlah itu, yaitu untuk DPRD kabupaten/kota, DPRD Provinsi, DPD, DPR pusat.

"Jumlah itu belum termasuk surat suara cadangan sebanyak dua persen dari jumlah itu, yang juga harus disortir dan dilipat. Kami perkirakan, surat suara yang harus dilipat sekitar 3 juta lembar," katanya.

Tak Sulit

Para sukarelawan itu tak sulit merakit kotak suara dari bahan aluminium ukuran 50 x 50 x 60 cm itu.

Sebab di dalam kardus itu, sudah terdapat dua lembaran kertas berisi petunjuk pemasangan kotak suara dan daftar isi barang.

Satu kardus itu, berisi sebuah bagian tutup atas dan bagian belakang yang sudah jadi satu, sebuah bagian bawah, dua buah bagian samping, sebuah bagian depan, sebungkus mur-baut kupu-kupu sebanyak 24 pasang serta satu set gembok bercap KPU lengkap dengan dua buah anak kunci.

"Stiker bertuliskan DPR, DPD Provinsi, DPRD Kabupaten/Kota tidak termasuk dalam kemasan itu," tambah Slamet.

Pemasangan harus berurutan. Mulanya bagian bawah diletakkan di lantai. Lalu dirangkai dengan bagian samping dan langsung dipasangkan mur-baut kupu-kupu, depan. Begitu pula cara pemasangan bagian belakang dan kedua sampingnya.

"Setelah semua bagian terpasang, mur-baut itu baru dikencangkan," ujarnya.

Wakil Ketua KPU Nurma Ali Ridlwan menambahkan, para sukarelawan direkrut dari beberapa orang yang tak punya pekerjaan tetap. Sedangkan untuk menurunkan barang (kotak atau bilik suara) dari truk ke gudang dipekerjakan para tukang becak.

"Hitung-hitung untuk penghasilan tambahan mereka," ujarnya.

Perakitan ribuan kotak suara itu sengaja dia sentralkan di kabupaten karena pertimbangan efisiensi dan efektivitas pekerjaan. Sehingga menjelang hari H nanti KPU tinggal mengirimkan ke TPS-TPS lengkap dengan bilik dan surat suara.

"Jika dirakit di tiap PPK (kecamatan), KPU sulit memantau, karena kondisi geografis kabupaten ini berbukit-bukit dan tidak semua kecamatan bisa terjangkau alat komunikasi," ujar anggota KPU yang membidangi logistik itu. (A9-t 20)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ragam | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA