logo SUARA MERDEKA
Line
  Senin, 8 Maret 2004 Jawa Tengah - Kedu & DIY  
Line

PHBM Nyaris Gagal akibat Kesalahan Sosialisasi

TEMANGGUNG- Program pengelolaan hutan bersama masyarakat (PHBM) di Temanggung, nyaris gagal akibat kesalahan sosialisasi yang diberikan kepada petani. Kesalahan itu terjadi di mana-mana.

Menurut Asisten Perhutani (Asper) Temanggung, Ahmad Rasum, dari evaluasi yang dilakukan tim monitoring yang melibatkan berbagai instansi termasuk Perum Perhutani, menunjukan program tersebut ada gejala salah sasaran.

Kesalahan sasaran itu, misalnya tak tercipta kawasan hutan sebagai sasaran utama program. Hal itu karena umumnya petani hutan anggota kelompok tani penggarap lebih mementingkan tanaman komersial dibandingkan dengan tanaman hutan.

Akibatnya hutan tak tercipta, karena dipenuhi tanaman pertanian seperti tembakau. Setelah diteliti, penyebabnya ternyata kesalahan sosialisasi yang diberikan kepada para tani hutan.

Sebagian besar tani hutan tidak paham menerima teori yang diberikan para penyuluh, sehingga sasaran menciptakan hutan tidak terpenuhi.

''Pengertian mereka, PHBM itu adalah pembukaan lahan hutan untuk kawasan pertanian. Ini salah besar, akibat para tani hutan belum bisa memahami sosialisasi yang diberikan para penyuluh di lapangan,'' ungkapnya.

Bahasa Mudah

Akhirnya, Perum Perhutani mengambil cara lain. Sosialisasi kembali dilaksanakan tetapi menggunakan cara dan bahasa yang mudah dipahami mereka.

Seperti tak perlu menggunakan istilah pertanian yang sulit dipahami, serta contoh riil untuk menanam secara benar.

''Sebagian besar petani hutan tak perlu diberi teori secara berlebihan. Mereka akan cepat mengenali program bila diberi contoh sederhana, dan manfaat langsung bisa dirasakan,'' ujar Achmad Rasum.

Dan benar, dalam kurun waktu setengah tahun terakhir, di kawasan itu kini dipenuhi tanaman hutan serta pohon yang memiliki nilai ekonomi bagi petani. Mereka menanam kopi di sela tanaman hutan. Kondisi seperti itu yang sebenarnya menjadi program PHBM.

Kini setelah dilakukan penyuluhan ulang, kesalahan bisa dibetulkan kendati belum bisa menjangkau secara menyeluruh. Sejak dibuka tahun 2001 lalu kawasan hutan itu dijadikan proyek PHBM seluas 1.273,80 ha, dan dikerjakan oleh 5.174 tani hutan.

Areal tersebut berada di lereng Gunung Sumbing dan Sindoro, khususnya Resort Pemangku Hutan (RPH) Jumprit 264,45 ha, Kwadungan 758.50 ha, dan RPH Kecepit 250,85 ha.

''Sekarang hampir sebagian besar lahan PHBM menjadi areal kopi Arabika Kate, dengan jumlah yang sudah ditanam sekitar 675.143 pohon. Selain tanaman kopi, juga akan dikembangkan tanaman lain yang bernilai ekonomi tinggi seperti panili,'' katanya kepada Suara Merdeka di rumahnya, kemarin. (nt-49s)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ragam | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA