
| Senin, 8 Maret 2004 | Jawa Tengah - Muria |
Tiga Pelajar Tenggelam di Kedung AngkerREMBANG- Kedung Sungai Kalimancur, Desa Goak, Kecamatan Lasem dikenal warga sebagai tempat angker. Pasalnya, sudah banyak orang tewas akibat tenggelam di kedung yang berkedalaman 10-12 meter itu. Meski sudah banyak memakan korban, masih ada saja orang yang nekat mandi di tempat itu. Seperti dilakukan enam pelajar SMP Sluke, yakni Eko Harianto, Darjianto, Sandoyo (ketiganya kelas satu), serta Daimudin, Badrudin, dan Warmuji (ketiganya kelas dua). Pada Jumat (5/3) siang pekan lalu sehabis sekolah, mereka bersama-sama menuju kedung yang terkenal angker itu. Setelah menelusuri jalan setapak sekitar dua kilometer, mereka sampai di tempat tujuan. Karena kekelahan, mereka beristirahat beberapa menit sambil memandang air kedung yang jernih. Eko Harianto sepertinya sudah tak betah berlama-lama duduk di pinggir sendang. Dia mendahului melepas bajunya, kemudian terjun ke sendang. Namun anehnya, begitu anak itu terjun ke air langsung hilang. Teman-temannya yang melihat peristiwa itu awalnya tidak menaruh curiga, sebab mereka mengira Eko sedang menunjukkan kebolehannya menyelam. Akan tetapi, ditunggu sampai beberapa menit pelajar dari Desa Sanetan, Kecamatan Sluke itu tidak muncul. Ikut Tenggelam Pada situasi panik itu, Darjianto memberanikan diri terjun ke sendang dengan maksud mencari temannya yang hilang. Sementara itu, teman-temannya yang lain masih berada di pingir sendang. Memang, ada hal yang terkesan aneh di tempat itu. Sebab, ketika Darjianto terjun ke sendang juga langsung hilang, seperti yang dialami oleh Eko. Keruan saja teman-temannya yang masih berada di pinggir sendang semakin panik. Atas kesepakatan, Daimudin, Badrun, dan Warmuji bergegas menuju ke perkampungan terdekat untuk mencari bantuan warga. Adapun Sandoyo, ditinggal sendirian di pinggir sendang. Namun, ketika mereka kembali ke sendang bersama sejumlah warga, Sandoyo sudah tidak kelihatan batang hidungnya. Ketika dipanggil panggil namanya juga tidak ada jawaban, sehingga mereka menduga Sandoyo ikut tenggelam di sendang. Karena itulah warga memutuskan untuk memanggil dua juru selam yang bekerja di PT Argawastu, yaitu Sumadi dan Wiknyo. Kemudian mereka diminta mencari pelajar yang tenggelam di kedung tersebut. Dari situ akhirnya teka-teki bisa terjawab, setelah ketiga pelajar yang hilang secara misterius bisa ditemukan, namun semua sudah dalam keadaan tidak bernyawa. Menurut kedua juru selam itu, ketika hendak mengangkat para korban di dasar sendang, mereka melihat bayangan sosok orang tua. Namun, sosok bayangan yang diyakini sebagai makhluk halus penunggu sendang itu tidak sampai mengganggu, sehingga upaya pencarian para korban berhasil. Kepala SMP Sluke Arip Winaryadi mengatakan tindakan yang dilakukan anak didiknya itu di luar kegiatan sekolah.(jl-42j) |